The Forgotten Obligation

Akhlak

Pengertian Akhlak

Secara bahasa, pengertian berarti perangai, tabiat, adat (diambil dari kata khuluqun) atau berarti kejadian, buatan, ciptaan (diambil dari kata dasar khalqun). Adapun  pengertian akhlak secara istilah, para ulama telah mendefinisikan, di antara sebagai berikut:

  • Ibnu Maskawaih dalam kitab Tahdzibul Akhlaq :

“ Akhlak  adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya  untuk melakukan  perbuatan tanpa terlebih dahulu melalui pemikiran dan pertimbangan”

  • Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddiin:

“ Akhlak adalah gambaran tingkah laku dalam jiwa yang melahirkan  perbuatan-perbuatan  dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.”

  • Muhammad Husain Abdillah dalam kitab Dirosat Fi al-Fikri al-Islami:

“Akhlak adalah sifat yang diperintahkan Allah bagi seorang Muslim yang harus mensifati seluruh tingkah lakunya”.

Berdasarkan hal ini, seorang muslim harus memiliki akhlak dengan segala sifatnya dan melakukan dengan  penuh ketaatan  dan kepasrahan. Sebab, hal ini berhubungan dengan takwa kepada Allah SWT. Dan akhlak pasti mengkokohkan diri setiap muslim dan menjadikan sebagai suatu sifat yang lazim (yang harus ada).

Akhlak Dalam Pandangan Islam

Islam merupakan agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Khaliqnya, hubungan manusia dengan dirinya dan hubungan dengan manusia yang lain.

Islam memecahkan problematika hidup manusia secara keseluruhan dan memecahkan problema tersebut dengan pemecahan yang satu dan tetap, tanpa ada perbedaan antara manusia yang satu dengan yang lain. Dan menjadikan aqidah sebagai satu-satunya asas dalam memecahkan problema tersebut, sehingga peraturan dan peradaban yang dipancarkan tidak satupun yang terlepas dari aqidah Islam.

Syariat Islam telah merinci peraturan-peraturannya dengan perincian yang mendetail, seperti dalam masalah ibadah, muamalat, dan uqubat. Namun, syariat Islam tidak membentuk suatu aturan yang mendetail dalam masalah akhlak, hanya saja Islam telah mengatur hukum-hukum akhlak berdasarkan suatu ketetapan, bahwa akhlak adalah perintah dan larangan Allah SWT, tanpa memperhatikan lagi apakah akhlak diberi perhatian yang khusus agar dapat dibedakan dengan hukum-hukum yang lainnya. Begitu pula akhlak bila ditinjau dari segi perincian kaidah-kaidah hukum, maka rinciannya adalah yang paling sedikit dibandingkan dengan yang lainnya.

Apabila seorang muslim memiliki sifat-sifat khuluqiyyah, maka itu tidaklah semata-mata berpredikat akhlaqiyyah karena akhlak itu sendiri. Adakalanya suatu perbuatan yang dilakukan pada hakekatnya buruk tetapi ia mengira baik, kemudian ia lakukan. Begitu pula sebaliknya. Adakalanya seseorang menilai sesuatu perbuatan terpuji, padahal pada hakekatnya tercela, kemudian dia melakukannya. Dari sini muncul kesalahan dari tindakan manusia terhadap akhlak karena semata-mata akhlak.

Oleh sebab itu tidak boleh memisahkan akhlak dari bagian hukum syara’. Seandainya perintah Allah SWT untuk berlaku jujur, dan berlaku belas kasihan didasarkan pada sifat moral semata, maka berkata jujur harus dilakukan dalam keadaan apapun, demikian pula dengan belas kasihan serta sifat-sifat yang lain. Padahal, suatu saat berbohong diperbolehkan dalam hukum syara’, jika bermaksud mendamaikan saudara. Begitu pula belas kasihan terhadap orang-orang yang melanggar syariat Islam dilarang dan diperintahkan berbelas kasih terhadap fakir miskin dan yatim piatu. Selama Islam tidak menentukan sifat-sifat terpuji/baik dan tercela/buruk, kemudian seorang muslim melaksanakannya atas dasar pandangannya, maka ia tidak mungkin menjadi seorang yang memiliki sifat-sifat tersebut sesuai dengan hukum syara’.

Selain itu, akhlak termasuk salah satu dari hukum-hukum syara’ yang tidak boleh dikaitkan dengan ”illat (misal manfaat) secara mutlak, sebab di dalam hukum syara’ untuk masalah tersebut tidak mengandung ‘illat. Hukum pada akhlak diambil sesuai dengan apa yang terdapat dalam nash saja, tanpa diakaitkan sama sekali dengan ‘illat. Bahkan termasuk untuk mencari ‘illat bagi suatu hukum untuk perkara akhlak maka konsekuensinya yaitu apabila hilang ‘illat-nya, hukumnya pun akan hilang.

“Illat itu senantiasa mengikuti ma’lulnya, ada atau tidaknya”

Contoh-Contoh Akhlak Islam

Akhlak terbagi menjadi dua bagian, yaitu akhlak yang baik (mahmudah) atau disebut juga akhlak terpuji (akhlaqul karimah) dan akhlak yang buruk (madzmumah). Akhlak yang baik  adalah akhlak yang didasarkan pada Al Qur’an dan keteladanan Rasullulah saw. Akhlak yang baik bukan karena sebuah pekerjaan itu baik dalam pandangan manusia. Misalnya, adanya pandangan bahwa kejujuran, kesopanan, tolong-menolong, dan bersikap ramah itu baik dalam pandangan manusia. Sementara, berbohong, membunuh, bersikap  kasar itu adalah pekerjaan  yang buruk dalam pandangan manusia. Akhlak yang baik dari seseorang  adalah  manakala seseorang melakukan perbuatan  jujur, sopan, tolong-menolong, bersikap ramah, termasuk juga berbohong, membunuh, bersikap tegas, dan kasar asalkan perilaku dan sikap itu didasari  oleh ketentuan Allah dalam Al Qur’an dan keteladanan Rasulullah saw dalam sunnahnya, Contoh Akhlak Islam adalah bahwa kaum muslimin di perkenankan dan diharuskan untuk membunuh bahkan merampas harta musuh Islam, manakala terjadi peperangan antara kaum muslimin  dengan orang-orang kafir yang hendak menghalangi atau menghancurkan kekuatan Islam. Pada saat peperangan  itu pula seorang muslim  dilarang untuk jujur menceritakan  strategi-strategi peperangan kaum muslimin  kepada pihak musuh. Contoh lainnya, seorang muslim diperkenankan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya untuk  berbohong  dalam rangka mendamaikan  suami-istri  yang sedang bersengketa. Rasulullah SAW juga memperkenankan sombong kepada orang yang sombong terhadap syariat Islam. Dalam Al Qur’an Allah SWT menegaskan  ciri-ciri orang beriman, yaitu bersikap keras dan tegas terhadap orang kafir sebagai mana yang telah dijelaskan di atas.

Contoh akhlaqul karimah (akhlak terpuji)

  1. Jujur dan benar dalam berindak, berucap, serta berjanji; (QS 5 :1, QS 33:23)
  2. Sabar; (QS. 11:115)
  3. Mengeluarkan infaq, menguasai kemarahan, dan memaafkan manusia; (QS. 3:134)
  4. Dzikrullah (mengingat Allah); (QS. 2:152)
  5. Tawakal; (QS. 3:159)
  6. Tawadlu (rendah hati); (QS. 31:18)
  7. Bebuat baik kepada orang tua; (QS. 4: 36)
  8. Tolong menolong (Ta’awun) (QS. 5:2)
  9. Amanah; (QS. 4: 58)

Adapun  akhlak yang buruk (madzmumah) adalah akhlak yang bertentangan dengan petunjuk  Allah SWT  dan Rasul-Nya. Akhlak ini diperbuat  semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu atau keinginan manusia semata.

Contoh akhlaqul madzmumah (akhlak  yang tidak terpuji)

  1. Berselisih, mengunakan  hak orang lain; (QS.2:188)
  2. Bunuh diri; (QS. 4:29)
  3. Mengucapkan kata-kata yang buruk; (QS. 4:148)
  4. Bergunjing (ghibah), berprasangka buruk, dan  mencari-cari kesalahan; (QS. 49:12)
  5. Berlebih-lebihan, mubadzir; (QS. 6:141)

Contoh Akhlak Rasulullah SAW dan Para Sahabat

Pada zaman khalifah Umar bin Khattab, seorang  Yahudi datang menemui Khalifah, “ Ceritakan kepada akhlak Rasul kalian !” Umar tidak sanggup memenuhi  permintaannya. Beliau lalu menyuruh Yahudi itu untuk menemui Bilal. Ternyata pun Bilal tidak sanggup. Akhirnya, Yahudi itu sampai pada Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib yang diketahuinya telah mengenal Rasulullah SAW sejak kecil, dan sering mengadakan perjalanan bersamanya, Ali bertanya kepada Yahudi itu, “Lukiskan keindahan dunia ini dan aku akan mengambarkan Akhlak Nabi SAW !” Lelaki itu berkata, “Tidak mudah bagiku”. Ali lalu berkata, “Engkau  tidak mampu melukiskan keindahan dunia, padahal Allah telah menyaksikan betapa kecilnya dunia, Ketika Allah SWT berfirman, “Katakanlah: Keindahan dunia itu kecil.” (QS. 4:77). Bagaimana mungkin aku melukiskan akhlak Rasulullah SAW padahal Allah bersaksi bahwa akhlaknya itu agung”.

Ya, melukiskan akhlak Rasulullah sangat tidak mudah. Kadang-kadang bila para sahabat ditanya tentang Rasulullah mereka hanya sanggup menceritakan episode-episode yang paling mengesankan ketika bersama Nabi SAW, disamping episode-episode  lain yang mungkin hanya dapat dirasakan pesonanya oleh hati dan tidak dapat diungkapkan. Namun, meskipun sulit diungkapkan begitu agung akhlak Rasulullah SAW, Untuk mengikuti jejak kemuliaanya tidaklah sukar karena Aisyah ra.telah mendefinisikan  akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an. Dalam suatu riwayat bahwa Saad bin Hisyam bertanya kepadanya tentang Akhlak Rasulullah SAW, Aisyah balik bertanya, “Apakah kamu membaca Al-Qur’an?”, “Tentu saja!” jawab Saad. Lalu Aisyah ra. Berkata, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an!”

Berikut ini kita akan lihat beberapa kisah teladan Rasulullah SAW dengan para Sahabatnya, yang mudah-mudahan dapat mengembalikan kesadaran kita pada fungsi dasar sebagai muslim yaitu rahmat  bagi Alam semesta.

  • Setibanya Rasulullah SAW dan  para sahabat di suatu tempat dan turun dari kendaraanya, mereka berencana menyembelih seekor kambing dan membuat sate untuk dimakan bersama. Seorang sahabat berteriak, “ Aku akan menyembelihnya!” Sahabat lainnya berkata, “Aku akan memasaknya!” Rasulullah berkata, “Aku akan mencari kayu bakar untuk memasaknya”. Semua sahabat berkata, “jangan Rasulullah, biar kami yang melakukannya. Biarlah anda duduk tidak usah bekerja.” Rasulullah SAW berkata, “Aku tahu kalian akan melakukannya, Tapi Allah SWT tidak suka kepada seseorang yang melihat dirinya berbeda dari yang lain, sedang dia berada diantara mereka.” Nabi SAW pun pergi ke padang pasir dan mengambil kayu-kayu untuk bahan bakar masakan tadi.
  • Ada seorang perempuan hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari Rasulullah tidak menemui perempuan itu. Nabi Muhammad SAW menanyakannya. Para sahabat mengatakan bahwa ia sudah meninggal. Ketika itu Nabi SAW menegur mereka karena beliau tidak diberitahu  tentang meninggalnya perempuan tadi. Setelah itu beliau pergi ke kuburan perempuan tersebut (setelah diberitahu para sahabat letaknya) dan shalat untuknya. Saat menegur para sahabat Nabi Muhammad SAW mengingatkan para sahabat bahwa dunia ini, tidak ada perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin, berikut pula derajat status sosialnya.
  • Ketika baru pulang dari perang tabuk, Rasulullah melihat tangan Sa’ad bin Muadz menghitam dan melepuh. “Mengapa tanganmu?”, tanya Rasulullah SAW. “karena oleh palu dan skop besi yang saya pergunakan untuk mencari nafkah  untuk keluarga dan tanggunganku”, jawab Sa’ad. Rasulullah SAW mengambil tangan itu dan menciumnya, “Inilah tangan yang tidak akan disentuh api neraka”. Lihatlah Rasulullah SAW yang tangannya senantiasa diperebutkan untuk dicium (dan seringkali beliau menolaknya karena takut umatnya syirik karena terlalu menghormatinya) tanpa ragu-ragu mencium tangan yang kasar.
  • Malam itu Hasan Bin Ali tidak bisa tidur, sehingga pada malam itu ia hanya memperhatikan dan mendengar ibunya berdo’a. Esoknya  Hasan bertanya, “Sepanjang malam aku mendengar Ibu berdo’a hanya untuk orang lain, tapi untuk Ibu sendiri tidak.” Fatimah Az-Zahra sang ibu  dengan penuh kasih sayang menjawab, “Anakku!”, pertama adalah mendo’akan orang lain, baru diri sendiri.”
  • Pada masa Kekhilafahan Umar bin Khatab. Kaum muslimin di Madinah dilanda kemarau panjang dan kelaparan. Suatu hari datang kafilah dari Syam dengan  seribu Onta yang penuh dengan makanan dan barang dagangan milik Utsman bin Affan. Para pedagang berebut menawarkan  harga untuk memperoleh barang dagangan itu dengan harga yang sangat menguntungkan Ustman. Namun Utsman menolak semua tawaran yang ‘menguntungkan’ itu. Beliau berkata, “Sesungguhnya ada pembeli yang akan memberi keuntungan yang berlipat-ganda, tahukah anda bahwa Allah berfirman”:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya dijalan Allah, adalah seperti satu benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, tiap-tiap tangkai ada seratus biji dan allah mengandakan pahala pada siapa saja yang Ia kehendaki dan Allah Maha luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui.”

(QS Al-Baqarah 261)

Lalu Utsman membagi-bagikan makanan tadi kepada kaum muslimin yang memerlukannya dengan gratis tanpa menuntut pamrih atau imbalan.

Perusakan Akhlak oleh Musuh-Musuh Islam

Dengan dukungan dana , media iptek, politisi serta militer yang ada orang-orang kafir dan munafik berusaha untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam. Usaha ini mereka lakukan tanpa kenal lelah.  Diantara aspek yang paling terasa pengaruhnya adalah makin jauhnya umat Islam dari sikap akhlak Islami. Sarana pengrusakan yang paling bahaya yang digunakan untuk merusak akhlak dan tata kehidupan yang Islami adalah dengan menyuguhkan pemikiran yang salah bahkan bersikap destruktif yang mampu menjungkir balikan tatanan sosial yang Islami serta menciptakan lingkungan yang buruk dikalangan kaum mUslimin di seluruh dunia. Berbagai cara yang digunakan antara lain:

  1. Memasyarakatkan gaya hidup cinta materi dan dunia.
  2. Pergaulan bebas dan Permisivisme (keserbabolehan).
  3. Memperalat kaum wanita untuk merusak Islam, misalnya dengan menyebarkan persamaan derajat total antara laki-laki dan wanita yang disetting dengan kehidupan liberalisme yang serba bebas, menjadikan wanita sebagai objek seni, iklan,dan sebagainya, dsb.
  4. Memasyarakatkan minuman keras.
  5. Menciptakan berbagai permainan yang melalaikan umat.
  6. Menuduh wanita dan memfitnah wanita berjilbab, dan berbagai cara lainnya.

Mengembalikan Umat Islam pada Posisi Khairu Ummah

Sebagian besar kaum muslimin beranggapan, bahwa untuk mengentas umat dari kehinaan dan mengembalikan posisinya sebagai khairu ummah dengan jalan memperbaiki akhlak individu, itu adalah keliru besar .

Akhlak tidak mempengaruhi sama sekali tegaknya suatu masyarakat. Sebab, masyarkat terbentuk karena adanya interaksi yang terus-menerus antara individu-individu, yang dari situ akan lahir satu pemikiran, satu perasaan dan satu aturan yang mengikat mereka. Oleh sebab itu akhlak tidak menentukan bangkit atau merosotnya suatu masyarakat. Kebangkitan masyarakat atau umat yang mempengaruhinya adalah kesepakatan umum yang lahir dari pemahaman-pemahaman tentang hidup. Masyarakat juga tidak berjalan dalam kehidupannya berdasarkan akhlak, namun berdasarkan aturan-aturan yang diterapkan di dalamnya, serta pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan yang ada dalam masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran dan perasaan.

Oleh karena itu dalam menyeru umat pada kebangkitan yang hakiki, tidak boleh hanya mengarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat, sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah Allah SWT. Akhlak dapat dibentuk dengan mengajak masyarakat kepada aqidah dan melaksanakan Islam secara sempurna. Dengan mengajak masayrakat kepada akhlak semata, justru berbahaya karena dapat memutarbalikkan pemahaman Islam dan menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakekat dan bentuk masyarakat.

Dengan menyeru umat dengan hanya mengarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat akan mengaburkan makna da’wah Islamiyah dan menghilangkan gambaran pemikiran yang utuh tentang Islam, dan bahkan menjauhkan dari satu-satunya metode da’wah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah.

Jika demikian apa yang harus dilakukan ? Tidak lain yang harus dilakukan adalah merubah pola pikir umat yang telah penuh dengan ide-ide Barat, yang pada hakekatnya mereka adalah musuh-musuh Islam, dengan tsaqafah Islam. Sehingga umat mampu bangkit dengan cara benar atas dasar yang benar, yaitu Aqidah Islam, bukan cara-cara yang dilontarkan oleh Barat yang telah merasuk pada benak mereka. Dengan membina umat dengan tsaqafah Islam atas dasar aqidah dan menjadikan pembinaan menjadi mafhum, yang akan berpengaruh pada tingkah laku mereka dan mendorong mereka untuk siap bergerak menyampaikan da’wah Islam, maka dari sini suatu hal yang alami apabila kemudian lahir pada diri umat kerinduan untuk diatur oleh hukum-hukum Islam. Di bawah naungan hukum Islamnlah umat terjaga diri, harta dan kehormatannya. Dan dengan sistem Islamlah umat mampu meraih predikat khairu umat. Jika sistem ini pernah tegak di muka bumi, pada masa Rasul hingga Daulah Khilafah Turki Utsmani, maka adalah tidak mungkin jika ia akan kembali pada masa sekarang. Dan memang mustahil mengharapkan kebaikan Islam tanpa hidup dalam naungan masyarakat Islam.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.