The Forgotten Obligation

Aqidah

Proses Keimanan

Bagaimana cara kita mengetahui keshahihan keimanan kita? Bagaimana cara kita meyakinkan orang lain bahwa hanya Aqidah Islamiyah sajalah yang shahih? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dimunculkan, mengingat begitu besar jumlah umat Islam, bahkan di negeri ini, dimana umat Islam menjadi mayoritas, namun pada kenyataannya kehidupan Islam tidak terasa, tidak ada bedanya dengan negeri-negeri Barat. Mungkin benar apa yang diungkapkan oleh Sayyid Quthb, bahwa saat ini Islam adalah satu hal dan umat Islam adalah hal lain, tidak ada hubungan antara keduanya.

Dalam realita kehidupan saat ini, tidak sedikit kaum muslimin yang kurang mengetahui kenapa dia memeluk Islam. Ketika ditanya mengapa Anda beragama Islam? Sering terlontar jawaban yang paling sederhana: Ya, karena orang tua saya Islam. Benarkah pemahaman keIslaman seperti ini? Padahal Al-Qur’an menuntut untuk membuktikan setiap kebenaran yang diyakini manusia.

وَقَالُواْ لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَن كَانَ هُوداً أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk syurga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nashrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.”

(QS. Al-Baqarah: 111)

Di sisi lain, banyak manusia yang mendasarkan keimanannya pada sesuatu hanya berdasarkan dugaan yang tidak bisa dibuktikan dengan akal sehat. Seperti menyebutkan Tuhan itu tiga, akan terjadi reinkarnasi setelah kematian, atau menyebut tidak ada hari kebangkitan. Sebagian manusia lagi mendasarkan keimanannya hanya pada perasaan (wijdan), walaupun itu fitrah di dalam diri manusia, tapi tanpa didukung dengan pembuktian akal. Bila keimanan hanya berdasarkan perasaan, yang terjadi pada manusia adalah kecenderungan untuk mengkhayalkan apa yang diimani dan mencari sendiri cara untuk menyembahnya. Maka muncullah penyembahan berhala, khurafat (cerita bohong), syirik, atau ajaran kebatinan.

Islam sebagai satu-satunya diin yang kita yakini kebenarannya tentu tidak demikian. Islam adalah diin yang bisa dibuktikan kebenarannya dengan akal sehat, sesuai dengan fitrah manusia dan menentramkan hati.

Permasalahan Mendasar Manusia dan Kebangkitannya

Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat baik. Namun, hal itu tidak memberikan suatu jaminan bahwa setiap orang akan berkelakuan dan berakhlak baik. Oleh karena itu, apabila kita hendak mengubah perilaku seseorang yang hina menjadi mulia, hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan cara mengubah pemikiran dan pemahamannya.

Oleh sebab itu, satu-satunya metode untuk mengubahnya adalah dengan memberikan penjelasan tentang pemikiran yang menyeluruh dan tuntas mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan (baik kehidupan dunia maupun kehidupan sebelum dan sesudahnya). Sebab pemikiran tersebut merupakan landasan ideal bagi semua pemikiran cabang yang berkaitan dengan kehidupan, dan yang memberikan pemecahan terhadap permasalahan mendasar yang dimiliki oleh setiap manusia. Adapun persoalan yang mendasar tersebut adalah:

Dari mana aku berasal?

Mau apa aku di dunia ini?

Akan kemana aku setelah mati?

Apabila ketiga pertanyaan tersebut telah terjawab oleh seorang manusia, akan terjawab pula pertanyaan-pertanyaan cabang yang lain. Jawaban terhadap permasalahan mendasar manusia itulah yang kemudian disebut dengan Aqidah. Adapun syarat sebuah aqidah yang benar haruslah sesuai dengan fitrah manusia, dapat memuaskan dan diterima akal manusia, dan memberi ketenangan batin dan menentramkan hati manusia.

Aqidah Islam mengajarkan bahwa dibalik alam semesta, manusia, dan kehidupan terdapat Pencipta. Sang Pencipta inilah yang telah menciptakan ketiganya, dan segala sesuatu yang lainnya. Oleh sebab itu, Sang Pencipta ini disebut sebagai Khaliqul ‘Alam. Dia adalah Allah SWT yang bersifat mutlak ada-Nya (wajibul wujud). Dia bukanlah makhluk, sebab sifat-Nya sebagai pencipta merupakan petunjuk bahwa Dia bukan makhluk, dan memastikan bahwa keberadaan-Nya adalah tidak berawal dan tidak berakhir. Sementara selain Dia, yaitu alam semesta, manusia, dan kehidupan serta segala sesuatu yang lain bersifat terbatas, lemah dan memiliki sifat tergantung kepada makhluk lainnya, dan fana. Oleh sebab itu, tidak ada sesuatu pun yang kekal selain Allah SWT.

Dalam rangka membuktikan sifat Sang Pencipta ini menurut kemampuan akal manusia maka terdapat tiga kemungkinan dalam hal menentukannya. Pertama, Dia diciptakan oleh sesuatu yang lain. Kedua, Dia menciptakan diri-Nya sendiri. Ketiga, Dia memang mutlak adanya (wajibul wujud) tidak berawal dan tidak berakhir (azali).

Untuk kemungkinan pertama, merupakan kemungkinan yang sulit diterima akal. Sebab, apabila Dia diciptakan maka Dia akan memiliki sifat terbatas, lemah dan bergantung pada yang lain, Dia menempati posisi makhluk. Kemungkinan kedua pun adalah kemungkinan yang salah sebab mustahil Dia menjadi makhluk sekaligus sebagai Pencipta. Oleh karena itu, Sang Pencipta itu haruslah bersifat mutlak keberadaannya (wajibul wujud), tidak berawal dan tidak berakhir (azali).

Sesungguhnya setiap manusia yang berakal mampu untuk membuktikan tentang eksistensi (keberadaan) Allah SWT, yaitu dengan memperhatikan makhluk ciptaan-Nya. Hal ini akan membuktikan bahwa tidak mungkin sesuatu itu ada tanpa ada yang telah mengadakan (Pencipta). Dengan demikian, akan terbukti tentang kemutlakan-Nya sebagai Yang Maha Pencipta alam semesta dan segala isinya. Dalam hal ini Al-Qur’an pun banyak menyebutkan tentang benda-benda (makhluk) ciptaan Allah yang disertai dengan ajakan kepada manusia untuk senantiasa memikirkannya. Apabila kita hitung terdapat ratusan ayat yang menyatakan demikian. Di antaranya Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran: 190)

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan oleh-Nya langit dan bumi, dan berbeda-bedanya bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui” (QS. Ar-Rum: 22)

أَفَلَا يَنظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ(20)

“Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?”

(QS. AL-Ghasyiyah: 17-20)

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ(5) خُلِقَ مِن مَّاء دَافِقٍ(6) يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ(7)

“Hendaklah manusia memperhatikan, bagaimana ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang memancar, yang keluar di antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (QS. Ath-Thaariq: 5-7)

Itulah antara lain ajakan-ajakan Al-Qur’an untuk mengadakan perenungan dan pemikiran terhadap ayat-ayat Allah SWT di alam dan diri manusia sendiri. Dengan demikian, sangat diharapkan keimanan manusia kepada Allah SWT akan bertambah tebal, kokoh dan mantap. Jadi, setiap muslim wajib menjadikan imannya benar-benar tumbuh dari proses berpikir, kemudian mencari, dan memperhatikan serta harus menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah.

Namun, meskipun menggunakan akal itu wajib dalam beriman kepada Allah, tidak setiap hal yang wajib diimani dapat dicapai oleh akal manusia. Bagaimana pun jenius dan pandainya pemikiran seseorang, pada dasarnya dia tetap memiliki keterbatasan. Oleh karena itu, akal manusia tidak akan pernah mampu memahami Dzat dan Hakikat Allah SWT, sebab Allah berada di luar ketiga unsur pokok alam (alam semesta, manusia, dan kehidupan). Hendaknya, ketidakmampuan manusia untuk memahami-Nya justru menambah besar keimanannya karena hal itu menunjukkan kelemahannya sebagai makhluk dan ketidakterbatasan kekuasaan Allah SWT.

Keyakinan dan keimanan yang bersumber dari pemahaman akal merupakan iman yang kokoh dan sempurna. Secara fitrah manusia memiliki kecenderungan untuk beriman kepada Sang Pencipta, tetapi tanpa adanya akal yang memperkuat keimanan, akan menyebabkan naluri tersebut tersesat. Hal ini disebabkan perasaan hati manusia cenderung menambah-nambah keimanannya dengan sesuatu yang tidak masuk akal.

Oleh karena itu, keimanan yang bersifat fitrah pada manusia harus disertai dengan bimbingan akal, sehingga akan menimbulkan suatu keyakinan yang teguh, kokoh dan pasti. Pada akhirnya, akan tertanam suatu pemahaman yang sempurna dan keyakinan yang mendalam akan sifat-sifat Ilahiyah.

Iman Terhadap Rasul

Di samping ingin mencari kebenaran yang hakiki tentang Al-Khaliq yang disembahnya, manusia juga membutuhkan Rasul sebagai penunjuk jalan dalam beribadah kepada Tuhannya, serta untuk membimbing manusia agar bisa memenuhi segenap kebutuhan dirinya (kebutuhan-kebutuhan fisik dan naluri-nalurinya) dengan suatu aturan yang bisa menenangkan jiwa dan memuaskan akal serta menjamin tercapainya kebahagiaan manusia secara hakiki. Sebab, tanpa adanya Rasul yang membimbing dan mengarahkan, maka manusia dapat terperosok dalam cara-cara ibadah yang tidak sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Allah SWT, baik perintah maupun larangan-Nya, dan manusia akan terjerumus kepada penyikapan dan penindakan yang salah. Aturan ini tidak boleh datang dari manusia, sebab bagaimana pun baiknya peraturan buatan manusia, pada dasarnya tetap tidak akan pernah sempurna dan abadi. Dengan demikian, aturan ini harus datang dari Allah SWT Yang Maha Mengetahui. Kemudian aturan-Nya itu disampaikan, dijelaskan, dan dilaksanakan melalui para Rasul-Nya.

Nabi Muhammad SAW dan Bukti Kebenaran Al-Qur’an

Adapun Rasul terakhir yang diutus Allah di muka bumi ini adalah Nabi Muhammad SAW. Mu’jizat terbesar yang dibawanya adalah Al-Qur’an Al-Karim yang merupakan Kalamullah (firman Allah) yang mutlak berasal dari Allah Yang Maha Kuasa. Al-Qur’an merupakan kitab suci yang ditulis dalam bahasa Arab.

Sebagaimana pembuktian kebenaran tentang sifat-sifat Allah sebagai Sang Pencipta, ada tiga kemungkinan tentang asal-usul Al-Qur’an itu. Pertama, Al Qur’an merupakan karangan bangsa Arab. Kedua, Al-Qur’an adalah karangan Nabi Muhammad SAW. Ketiga, Al-Qur’an merupakan hal yang mutlak yang berasal dari Allah SWT.

Kemungkinan pertama adalah batil, sebab Al-Qur’an sendiri telah menantang manusia dan jin untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, sebagaimana Allah SWT berfirman dalam ayat:

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُواْ بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Bahkan mereka mengatakan: “Muhammad telah membuat-buat Al Qur’an itu”, Katakanlah: “Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyerupainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah jika kamu memang orang-orang yang benar” (QS. Huud: 13)

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِّثْلِهِ وَادْعُواْ مَنِ اسْتَطَعْتُم مِّن دُونِ اللّهِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: “(Kalau benar yang kalian katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyerupainya, dan panggillah siapapun yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar” (QS. Yunus: 38)

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُواْ بِمِثْلِ هَـذَا الْقُرْآنِ لاَ يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

“Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat hal yang serupa dengan Al-Qur’an ini, pastilah mereka tidak dapat membuat yang serupa denganya, sekalipun seluruh dari mereka saling membantu.” (QS. Al-Israa: 88)

Dalam sejarah, kita mengenal beberapa orang Arab yang telah berusaha membuat karya-karya sastra untuk menandingi Al-Qur’an. Misalnya, Musailamah Al-Kadzdzab yang pada akhirnya ditertawakan dan tidak berhasil untuk membuat hal yang semisal dengan Al-Qur’an. Allah telah berjanji sampai kapan pun dan dengan daya upaya apa pun juga, manusia dan jin tidak akan mampu untuk membuat yang semisal dengan Al-Qur’an.

Allah SWT berfirman untuk menantang manusia, sebagai berikut:

فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Maka jika kalian tidak mampu dan (memang) tidak akan mampu (untuk membuat surat yang serupa dengan Al-Qur’an), takutlah akan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah:  24)

Kemungkinan yang kedua juga batil, sebab bagaimana pun jeniusnya Nabi Muhammad SAW, beliau sendiri adalah orang Arab, anggota masyarakat dan bangsa Arab. Selama bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa dengan Al-Qur’an, logis pula apabila dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW yang juga orang Arab, tidak akan mampu melahirkan hal yang semisal dengan Al-Qur’an tersebut. Kalaupun beliau mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang disebut Hadits, dan sebagian di antaranya diriwayatkan secara bersambung dari satu generasi ke generasi berikutnya, itu bukanlah ayat-ayat Al-Qur’an dan tidak dapat disebut sebagai ayat-ayat Al-Qur’an. Di samping itu apabila dilihat dari susunan kata dan gaya bahasanya, antara Al-Qur’an dan Al-Hadits berbeda. Oleh karena itu, benarlah bahwa Al-Qur’an bukanlah perkataan Nabi Muhammad SAW. Memang kaum musyrikin di Mekah pernah menuduh bahwa Al-Qur’an itu disadur oleh Nabi Muhammad SAW dari seorang pemuda Nashrani yang bernama Jabr. Namun, tuduhan tersebut disanggah keras oleh Allah SWT melalui firmannya:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِّسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَـذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata ‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)’. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, bahasa ‘Ajamy (non Arab), sedang Al-Qur’an itu dalam bahasa Arab yang nyata.” (QS. An-Nahl: 103)

Dengan demikian, terbuktilah bahwa Al-Qur’an itu bukan karangan bangsa Arab atau Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, semakin yakinlah kita sebenarnya Al-Qur’an itu Kalamullah yang merupakan mu’jizat Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan Rasul-Nya yang terakhir, dan Al-Qur’an mutlak datangnya dari Allah SWT.

Itulah dalil-dalil aqli dalam beriman kepada Allah, keRasulan Muhammad SAW, dan tentang Al-Qur’an yang merupakan Kalamullah.

Jawaban Atas Tiga Pertanyaan Mendasar

Dengan penjelasan-penjelasan tersebut di atas, wajib bagi kita untuk beriman kepada sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia, yakni Allah SWT dan kepada yang ada setelah kehidupan dunia, yakni hari Kiamat (akhirat). Perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits merupakan penghubung antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelumnya yang terkait dengan masalah penciptaan. Juga, perintah-perintah Allah merupakan penghubung antara kehidupan dunia dengan kehidupan sesudahnya (akhirat), di mana terdapat proses penghitungan amal pada hari kebangkitan manusia di padang Mahsyar.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang muslim pada dasarnya harus senantiasa terkait dengan hubungan-hubungan tersebut, sehingga dalam menjalani kehidupan di dunia selaras dengan aturan yang datang dari Allah SWT. Demikian pula, menjadi suatu keyakinan dalam aqidah muslim tadi bahwa di akhirat nanti setiap manusia akan dihisab dan dimintai pertanggung-jawaban atas perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya selama hidup di dunia.

Dengan demikian, telah terbentuk suatu pemikiran yang jernih tentang apa-apa yang ada di balik alam semesta, manusia, dan kehidupan, baik kehidupan sebelum maupun sesudah dunia ini, yang semuanya terjalin dalam satu hubungan dan satu kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, terjawablah ketiga pertanyaan mendasar tersebut dengan Aqidah Islamiyah. Selanjutnya dapatlah kiranya manusia memikirkan kehidupan dunia serta mewujudkan pemahaman yang benar hasil dari pemikiran ini. Pemecahan tersebut akan menjadi dasar berdirinya suatu landasan (mabda’) yang akan membentuk jalan ke arah kebangkitan umat manusia. Hal itu juga akan menjadi dasar bagi kerangka bangunan masyarakat yang Islami, sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam syariat-Nya.

Jadi, dasar berdirinya Islam secara ideal maupun metodologis adalah dengan Aqidah Islamiyah. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيَ أَنزَلَ مِن قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kepada kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, dan kepada kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan barangsiapa ingkar kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya dan kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya dan Hari Akhir, maka ia telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa: 136)

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-Imran: 190)


Aqidah Islamiyah

 

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُواْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membedakan antara seseorang pun dari Rasul-Rasul-Nya”, dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat”. Mereka berdoa: “Ampunilah kami ya Tuhan kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285)

Pembahasan aqidah merupakan pembahasan yang paling penting dibandingkan dengan berbagai perkara lainnya. Hal ini disebabkan aqidah merupakan asas, kaidah berfikir, tolok ukur suatu perbuatan, dan standar (acuan) bagi seorang muslim serta masyarakatnya memecahkan berbagai persoalan (problematika) yang terjadi dalam kehidupannya di dunia. Dengan demikian, aqidah menjadi landasan bangunan peradaban manusia, dasar berbagai tonggak kehidupan ditegakkan, tempat keluarnya berbagai aturan dan peraturan kehidupan, norma, dan tata nilai masyarakat. Aqidah pula yang menentukan cara dan arah pandang, cita-cita, dan tujuan yang dianut oleh para pemeluknya, diyakini kebenarannya, diperjuangkan, dipertahankan, dan disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia.

Berkaitan dengan hal tersebut, dari hidup Rasulullah SAW. fakta menunjukkan bahwa Rasulullah SAW bukan hanya membina para shahabatnya dengan aqidah yang kuat, namun juga membangun masyarakat Islam di Madinah untuk selalu bersandar pada aqidah Islam walaupun ayat-ayat tasyri’ (hukum) belum seluruhnya diturunkan. Rasulullah SAW. menjadikan syahadat Laa Ilaaha Illallah sebagai asas bagi segalanya, asas kehidupan muslim, asas yang menghubungkan interaksi sesama muslim, asas yang mendasari hubungan sesama manusia, asas untuk menyelesaikan berbagai perkara kezaliman, menyelesaikan perselisihan, asas bagi kekuasaan dan mengatur pemerintahan. Permasalahan ini dapat kita simak dalam Piagam Madinah antara kaum Muhajirin dan Anshar dengan Yahudi dimana antara lain disebutkan:

“…Sesungguhnya apabila terjadi kejadian atau perselisihan di antara mereka yang terlibat dalam perjanjian ini, serta dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan maka hal itu harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya…” (Sirah Ibnu Hisyam)

 

Rasulullah SAW. ketika mewajibkan jihad fii sabilillah kepada kaum muslimin sebagai suatu cara untuk mempertahankan aqidah Islam dan menyampaikan da’wah Islam, beliau Rasulullah SAW. selalu melandasi perintah itu dengan aqidah tauhid seraya bersabda:

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa Ilaaha Illallahu, Muhammad Rasulullah. Apabila mereka telah mengucapkannya, maka darah (nyawa) dan harta benda mereka terlindung dariku, kecuali karena haknya. Dan Allahlah yang menghisab mereka” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ashhabus Sunan)

Aqidah Islam sebagai asas bagi peraturan dan hukum karena Allah SWT. telah memerintahkan kaum muslimin untuk merujuk dalam perkara ini terhadap hukum yang diturunkan Allah SWT. dan Rasul-Nya saja. Allah SWT. berfirman:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka itu (pada hakikatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kauberikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa: 65)

Ayat di atas menegaskan kepada kita bahwa keimanan (aqidah) seorang muslim dan masyarakatnya diukur dari apakah ia bersedia merujuk kepada hukum Allah dan Rasul-Nya ataukah tidak. Hal ini menegaskan bahwa aturan dan peraturan kehidupan manusia harus merujuk dan hanya lahir berasal dari aqidah Islam semata.

 

Pengertian Aqidah dan Aqidah Islamiyyah

Pengertian aqidah secara bahasa (etimologi) dalam bahasa Arab berasal dari dari kata aqada, ya’qidu, aqidatan. Kata tersebut mengikuti wazan fa’ilatan yang berarti al-habl, al-bai’, al-‘ahd (tali, jual beli, dan perjanjian) Adapun pengertian secara terminologi (istilah) adalah:

a. Syaikh Taqiyuddin An-Nabhaniy menyatakan aqidah adalah iman. Iman merupakan pembenaran (keyakinan) yang bersifat pasti (tashdiqu al-jaaziim) yang sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil”.

b. Mahmud Syaltouth menyatakan bahwa aqidah merupakan cara pandang keyakinan yang harus diyakini terlebih dahulu sebelum segala perkara yang lainnya dengan suatu keyakinan yang tidak diliputi keraguan dan tidak dipengaruhi oleh kesamaran yang menyerupainya”

c. Muhammad Husein Abdullah menyatakan aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia, kehidupan, serta hubungan semuanya dengan sebelum kehidupan (Sang Pencipta) dan setelah kehidupan (Hari Kiamat), serta tentang hubungan semuanya dengan sebelum dan setelah kehidupan (syari’at dan hisab)

 

Dengan demikian, maka segala bentuk keyakinan yang tidak berasal dari jalan yang menghasilkan kepastian atau datang melalui jalan yang pasti tetapi masih mengandung persangkaan (dzan) di dalam keterangannya sehingga menimbulkan perselisihan para ulama, maka hal seperti itu tergolong pada keyakinan yang tidak wajib oleh agama untuk meyakininya. Hal ini merupakan garis pemisah atau pembatas yang tegas antara orang-orang yang beriman dengan yang tidak beriman.

Berdasarkan uraian di atas, Fathi Salim dalam kitab Al-Istidlal Bi Az-Zanni Fi Al-Aqidah menyatakan bahwa aqidah Islam atau iman agar pembenarannya bersifat pasti harus menunjukkan keyakinan (Al Ilmu). Sebab yang disebut dengan ‘Ilmu adalah i’tiqad atau keyakinan yang pasti sesuai dengan kenyataan, sedangkan dzann merupakan i’tiqad (keyakinan) yang kuat tetapi berdasarkan persangkaan sehingga bermuara pada keyakinan atau bisa sampai pada keraguan (syak).

Sebutan aqidah Islamiyah ditunjukkan pada iman kepada Allah SWT, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat, dan kepada qadla dan qadar, baik buruknya berasal dari Allah SWT. Namun demikian bukan berarti selain hal ini tidak ada lagi perkara yang wajib diimani, tetapi enam perkara tersebut merupakan kerangka aqidah Islam. Masih banyak terdapat perkara yang lain yang termasuk pada bagian aqidah, yaitu iman kepada Al-Maut (ajal), rezeki, tawakkal kepada Allah SWT, iman dengan pertolongan Allah SWT, iman terhadap sifat-sifat Allah SWT, iman terhadap kema’shuman para nabi dan Rasul, mu’jizat Al-Qur’an, dan lain-lain. Begitu pula keimanan terhadap adanya surga dan neraka, yaumul hisab (hari perhitungan), iman terhadap keberadaan jin, setan dan berbagai perkara gaib lainnya berbentuk kisah-kisah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. yang mutawatir.

Dari hal di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa pembahasan aqidah menyangkut hal-hal pokok semata dalam urusan ushuluddin, sedangkan perkara yang termasuk aktivitas dan perbuatan manusia termasuk bagian dalam syariat Islam dan fiqh Islam.

Al-Qur’an memberikan sebutan aqidah dengan menggunakan istilah iman. Syaikh Mahmud Syaltouth menyatakan bahwa pengertian aqidah sama dengan iman. Kalau Aqidah mempunyai arti mempercayai sejumlah perkara yang diyakini kebenarannya, yaitu perkara yang bertalian dengan aspek Ilahiyah (Ketuhanan), Al Nubuwwah (kenabian), Al Ruhaaniyat (keruhanian), dan Al sam’iyyat (berita tentang akhirat), sedangkan iman mempunyai rukun-rukunnya yang enam (Arkanul Iman) yang juga harus yakin tentang kebenarannya. Dengan demikian inti pengertian keduanya adalah sama. Adapun perbedaan keduanya hanya terletak pada istilah dan sebutan. Aqidah merupakan istilah yang digunakan para ulama ushuluddin sedangkan Al-Qur’an menyebutnya dengan menggunakan kata iman.

Dalil Masalah Keimanan

Aqidah Islam ditetapkan oleh Allah SWT dan kita sebagai manusia wajib mempercayainya sehingga kita layak disebut sebagai orang yang beriman atau mukmin. Namun bukan berarti keimanan itu ditanamkan ke dalam diri seseorang secara dogmatis, sebab proses keimanan haruslah disertai dalil-dalil. Dalil ini adakalanya bersifat aqli atau naqli, tergantung perkara apa yang diimani. Jika sesuatu itu masih dalam jangkauan panca indera maka dalilnya adalah aqli, tetapi jika sesuatu itu di luar jangkauan panca indera, wajib disandarkan pada dalil naqli. Dengan demikian dalil aqidah ada dua:

1. Dalil Aqli: dalil yang digunakan untuk membuktikan perkara-perkara yang bisa diindera sebagai jalan (perantara) untuk mencapai kebenaran yang pasti dari keimanan. Yang meliputi di dalamnya adalah beriman kepada keberadaan Allah, pembuktian kebenaran Al-Qur’an, dan pembuktian Nabi Muhammad itu adalah utusan Allah.

2. Dalil Naqli: berita (khabar) pasti (qath’i) yang diberitakan kepada manusia berkaitan dengan perkara-perkara yang tidak dapat secara langsung dijangkau oleh akal manusia, yaitu mengenai beriman kepada Malaikat, Hari Akhir, Nabi-nabi dan Rasul-Rasul, Kitab-kitab terdahulu, sifat-sifat Allah, dan tentang Taqdir. Khabar yang qath’i ini haruslah bersumber pada sesuatu yang pasti yaitu Al-Qur’an dan hadits mutawatir (hadits qath’i).

 

Pengambilan dalil untuk perkara aqidah berbeda dengan pengambilan dalil bagi perkara tasyri’ (hukum). Hal ini disebabkan aqidah mensyaratkan dalil yang bersifat pasti, tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Oleh sebab itu, sumber pengambilan dalil bagi masalah aqidah ini harus qath’i (pasti) sumbernya (qat’i tsubut) dan pasti penunjukkan dalilnya (qath’i dalalah). Sumber yang tergolong pasti adalah Al Qur-an dan Hadits Rasulullah SAW. yang mutawatir saja.

Muhammad Husain Abdullah menyatakan bahwa hadits mutawatir adalah hadits yang didasarkan panca indera, diberitakan oleh sejumlah orang yang jumlahnya menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat (terlebih dahulu) untuk berdusta (dalam pemberitaannya). Hadits mutawatir seperti ini menunjukkan Al-‘Ilmu (kepastian), yakin, wajib diamalkan, dan barangsiapa mengingkarinya dikategorikan kafir.

Adapun yang dimaksud qath’i dalalah karena kepastian penunjukkan dalil akan memustahilkan ijtihad dalam perkara aqidah. Syariat Islam tidak menerima ijtihad seseorang dalam perkara aqidah. Ijtihad hanya terbatas dalam perkara tasyri’ (hukum) saja. Sebab jika aqidah dijadikan lahan untuk berijtihad maka bagaimana dengan orang-orang yang hasil ijtihadnya dalam perkara aqidah tersebut keliru atau salah. Sedangkan kekeliruan atau kesalahan dalam perkara aqidah akan menjerumuskan pada kekafiran. hal ini karena aqidah Islam merupakan batas antara iman dan kafir.

Dari hal inilah maka penunjukkan dalil dalam masalah aqidah harus qath’i (pasti) bukan dzanni (persangkaan) yang masih mengandung kemungkinan penafsiran berbeda dan beraneka ragam pemahaman. Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang mewajibkan hal ini adalah:

 

إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ لَيُسَمُّونَ الْمَلَائِكَةَ تَسْمِيَةَ الْأُنثَى(27)وَمَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا(28)

Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan (dzann), sedangkan persangkaan itu tidak berfaidah sedikitpun terhadap kebenaran” (QS. Al Najm: 27-28)

 

Ayat di atas dengan jelas dan gamblang mencela orang-orang yang mengikuti persangkaan dan dugaan, mencela orang-orang yang mengikuti suatu perkara aqidah tanpa ‘ilmu (kepastian). Celaan dan teguran ayat-ayat tersebut di atas sekaligus sebagai dalil yang melarang secara tegas untuk tidak mengikuti persangkaan dan dugaan dalam urusan aqidah. Dalil syara’ menunjukkan kepada kita bahwa beristidlal (menggunakan dalil) dzanni (terdapat adanya dugaan/keraguan) dalam masalah aqidah dilarang. Di samping itu, tematik yang disinggung oleh ayat-ayat tersebut di atas seluruhnya menyangkut aqidah, diantaranya ada yang berhubungan dengan keberadaan Allah SWT, qiamat, malaikat, para Rasul, janji Allah, penciptaan langit dan bumi, sampai masalah penyaliban Isa Al-Masih.

Hanya saja perlu diingat bahwa penentuan dalil naqli juga ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya, penentuan dalil tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk menentukan mana yang dapat dan mana yang tidak untuk dijadikan dalil naqli. Sebuah dalil naqli harus bisa dibuktikan terlebih dahulu kebenarannya secara aqli. Oleh karena itu, semua dalil tentang aqidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqli (aqliyyah).

Sehubungan dengan ini, Imam Syafi’i berkata: “Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berpikir dan mencari dalil untuk ma’rifat kepada Allah ta’ala. Arti berpikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berpikir tersebut dituntut untuk ma’rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai ma’rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indera, dan ini merupakan suatu keharusan. Hal seperti itu merupakan suatu kewajiban dalam masalah ushuluddin.” (Fiqh Al-Akbar)<!–nextpage–>

Peranan Akal Dalam Masalah Keimanan

Al-Qur’an melarang seseorang untuk beriman tanpa proses berpikir (taqlid buta). Islam mencela orang yang beriman karena sebatas mengikuti orang tua atau nenek moyang mereka.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah’. Mereka berkata: ‘Tidak, kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek-nenek moyang kami’. (Ataukah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk ?” (QS. Al-Baqarah: 170)

Oleh karena itu, masalah keimanan haruslah dibangun berdasarkan sesuatu yang dipastikan kebenarannya, tidak menduga-duga yang sifatnya dzanni (tidak pasti). Al-Qur’an telah menghinakan kaum musyrik karena mereka hanya mengikuti prasangka. Hanya saja perlu kita ingat, bahwa akal manusia hanya mampu membuktikan sesuatu yang berada di dalam jangkauan akal. Adapun yang di luar jangkauan akal, harus ada sesuatu sebagai perantara (wasilah) yang merupakan petunjuk atas hal-hal yang tak bisa dijangkau tadi.

Seperti perkataan seorang Badui (orang awam) tatkala ditanyakan kepadanya: “Dengan apa engkau mengenal Robbmu?” Jawabnya: “Tahi onta itu menunjukkan adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan ada orang yang berjalan”.

Oleh karena itu, ayat-ayat Al-Qur’an mengajak manusia untuk membuktikan keberadaan (eksistensi) Allah dengan berpikir melihat alam semesta. Karena keterbatasan akal dalam berpikir, Islam melarang manusia untuk memikirkan tentang dzat Allah. Sebab manusia mempunyai kecenderungan (bila ia hanya menduga-duga) menyerupakan Allah dengan suatu makhluk. Berkaitan dengan hal ini Rasullah SAW bersabda:

“Berpikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu pikirkan tentang Allah, sebab kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatnya sebenarnya.” (Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Nu’im dalam kitab Al-Hidayah; sifatnya marfu, sanadnya dlaif tetapi isinya shahih)

 

Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang dzat Allah yang sebenarnya. Sebagai contoh mengkhayalkan bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas Arsy-Nya. Sebab, dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisis. Ia tak dapat dianalogikan (qiyas) pada materi apapun.

Inilah jalan yang ditempuh para sahabat, tabi’in dan ulama salaf, mereka tidak pernah menakwilkan ayat-ayat yang memang tidak mampu dijangkau oleh akal. Imam Ibn Al-Qayyim berkata: “Para Sahabat berbeda pendapat dalam beberapa masalah. Padahal mereka adalah umat yang dijamin sempurna imannya. Tetapi alhamdulillah, mereka tidak pernah terlibat bertentangan dalam menghadapi asma Allah, perbuatan-perbuatan Allah dan sifat-sifat-Nya. Mereka tidak menakwilkannnya, juga mereka tidak memalingkan pengertiannya.” (I’laamul Muraaqin)

Ketika Imam Malik ditanya tentang makna ‘persemayaman-Nya (Istiwaa)’ beliau lama tertunduk bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata: “Persemayaman itu bukan sesuatu yang tidak diketahui. Juga, kaifiyat (caranya) bukanlah hal yang dapat dipahamkan. Sedangkan mengimaninya adalah wajib, tetapi menanyakan hal tersebut adalah bid’ah.” (Fath Al-Baari)

Di sisi lain, banyak manusia yang mendasarkan keimanannya pada sesuatu hanya berdasarkan dugaan yang tidak bisa dibuktikan dengan akal sehat. Seperti menyebutkan Tuhan itu tiga, akan terjadi reinkarnasi setelah kematian, atau menyebut tidak ada hari kebangkitan. Sebagian manusia lagi mendasarkan keimanannya hanya pada perasaan (wijdan), walaupun itu fitrah di dalam diri manusia, tapi tanpa didukung dengan pembuktian akal. Bila keimanan hanya berdasarkan perasaan, yang terjadi pada manusia adalah kecenderungan untuk mengkhayalkan apa yang diimani dan mencari sendiri cara untuk menyembahnya. Maka muncullah penyembahan berhala, khurafat (cerita bohong), syirik, atau ajaran kebatinan.

Islam sebagai satu-satunya diin yang kita yakini kebenarannya tentu tidak demikian. Islam adalah diin yang bisa dibuktikan kebenarannya dengan akal sehat, sesuai dengan fitrah manusia dan menentramkan hati.

Rukun Iman

Dasar pokok dari aqidah Islam adalah Arkanul Iman, hal ini didasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Khatab; ketika itu Malaikat Jibril datang kepada Nabi SAW dan bertanya: “Coba ceritakan apa iman itu? Lalu Rasullah SAW menjawab: Iman itu percaya kepada adanya Allah, Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari Kiamat dan percaya kepada takdir baik dan buruknya berasal dari Allah SWT.” (HR. Muslim).

1. Iman kepada Allah

Allah, nama yang mulia ini adalah sebutan bagi Dzat Suci yang kita imani dan kita beramal karena-Nya, dan kita mengetahui bahwa dari-Nya lah kehidupan kita dan kepada-Nya tempat kita kembali. Hanya Allah yang patut menerima pujian dan memiliki kebesaran, layak ditakuti dan ditaati karena tidak ada satu pun makhluk yang dapat menandingi-Nya. Walaupun seluruh umat manusia sejak mereka diciptakan sampai dunia sepi dan berhenti bergerak karena seluruh manusia sudah punah, melupakan dan ingkar kepada-Nya, sedikit pun tidaklah akan menodai kemuliaan-Nya dan sebesar dzarah pun tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya, serta tidak seberkas cahaya-Nya yang akan terhalang dan tidak akan secuil keagungan-Nya pun akan berkurang. Oleh sebab itu, seandainya kita berada pada suatu masa ketika semua orang bersikap keras kepala memperturutkan hawa nafsunya dan melupakan hari akhir serta tidak mau tahu terhadap Tuhannya, Hal demikian itu tidak sedikit pun akan merugikan Allah Ta’ala. Adanya Allah SWT adalah suatu hal yang jelas dapat diketahui manusia dengan fitrahnya, dan bukan termasuk masalah yang pelik dan bukan pula hasil pemikiran yang berbelit-belit. Pernahkah kita memikirkan tentang planet-planet yang beredar, yang membelah angkasa raya dan mengikuti garis edar atau falak tertentu tanpa berkisar ke kanan atau ke kiri dan menetapi kecepatan yang teratur tidak terlalu kencang dan tidak pula terlalu lambat, kemudian kita lihat ia muncul pada waktu yang telah diperkirakan dan tidak melanggarnya?

Apabila bola basket dimainkan para pemain, tetapi tidak lama setelah beredar dan berputar-putar ia selalu jatuh kembali ke bawah, sekarang pikirkan bagaimana bola-bola yang teramat besar ukurannya yang ada di angkasa, ia tetap beredar dan tidak jatuh-jatuh, terus berputar tak henti-henti. Itu semua tidak mungkin terjadi tanpa ada kekuasaan yang mengaturnya.

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ(38)وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ(39)

لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ(40)

“Dan matahari itu berputar pada kedudukan yang tetap. Demikian ketentuan Tuhan Yang Maha Tangguh dan Maha Mengetahui! Dan bulan Kami tetapkan tempat-tempatnya hingga ia kembali lancip seperti mayang tua. Tiadalah mungkin matahari itu mengejar bulan dan tidak pula malam menda­hului siang, dan masing-masing beredar sesuai dengan garis edar tertentu.” (QS. Yasin: 38-40)

Seandainya kita perhatikan semua makhluk yang terdapat di alam raya ini, apakah itu batu, tanah, tumbuh-tumbuhan, kayu, binatang, daratan, lautan, api, udara, dan lain sebagainya, kita akan menemukan sejumlah bukti yang tidak terhitung untuk meyakinkan keberadaan Allah SWT. Semua makhluk yang ada di jagat ini adalah saksi keberadaan-Nya, termasuk diri kita sendiri, tubuh kita, sifat-sifat kita, perubahan yang ada pada diri kita, gerak dan diam kita. Hal ini pun menunjukkan bahwa Dzat Allah berbeda dengan makhluk-Nya, tidak ada yang pantas untuk disekutukan dengan-Nya. Keimanan kepada-Nya adalah hal yang paling esensi dalam kehidupan manusia karena sebagai manusia kita amat sangat membutuhkan-Nya.

قُلِ انظُرُواْ مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: ‘Amatilah apa yang ada di langit dan di bumi. Betapa banyak ayat-ayat (bukti-bukti) dan peringatan yang tidak berguna bagi kaum yang tidak beriman(QS. Yunus 101)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنتُمُ الْفُقَرَاء إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ(15)إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ(16)وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ(17)

“Hai manusia! Kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu), yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah. (QS Fathir: 15-17)

Melukiskan kebesaran-Nya tidak akan pernah ada habis-habisnya dan tidak ada makhluk-Nya yang sanggup untuk mengurai secara tuntas. Air di seluruh samudera akan kering jika dipakai untuk menjadi tinta dalam melukiskan kebesaran-Nya begitu pula seluruh daun-daunan di alam semesta akan habis jika dipakai untuk menjadi kertasnya. Namun, usaha untuk mempertebal keimanan kepada-Nya tidak pernah layak untuk dihentikan karena kita harus senantiasa menyempurnakan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada-Nya.

2. Iman kepada para malaikat-Nya

Iman kepada Malaikat berdasarkan dalil naqli sebab akal tidak pernah mampu menjangkau keberadaan Malaikat. Dalil syara tentang adanya Malaikat berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an dan sunnah Rasul SAW, diantaranya adalah firman Allah SWT:

شَهِدَ اللّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُوْلُواْ الْعِلْمِ قَآئِمَاً بِالْقِسْطِ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah telah terangkan bahwasanya tidak ada Illah selain Dia, Yang menegak-kan keadilan dan disaksikan oleh para malaikat dan ahli-ahli ilmu. Tidak ada Illah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18 )

Malaikat adalah makhluk Allah yang paling taat kepada-Nya. Malaikat tidak pernah menentang kehendak-Nya, senantiasa tunduk, patuh, dan taat kepada-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Keimanan kepada malaikat ini membuahkan sejumlah hikmah, di antaranya adalah :

a. Mempertebal keyakinan kita pada kekuasaan Allah SWT karena tugas malaikat sangat banyak yang jauh dari jangkauan manusia, seperti sebagai perantara wahyu dari Allah SWT kepada para utusan-Nya, pencabut nyawa manusia dan penyebar rizki. Suatu kesalahan besar jika ada anggapan bahwa malaikat dengan seperangkat tugasnya menjadikan suatu tanda bahwa dalam mengatur alam ini Allah SWT perlu pembantu. Adanya malaikat bukan mempersempit kekuasaan Allah SWT, tetapi sebagai bukti kekuasaan-Nya, sebagai bukti bahwa Allah sesuatu kekuasaan apa pun yang sanggup menandingi kerajaan-Nya.

فَالْمُدَبِّرَاتِ أَمْرًا

“Demi para malaikat yang mengatur urusan alam “ (Q.S. An-Nazi’at: 5 )

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ

“Sehingga bila datang kematian pada salah seorang diantaramu, lalu utusan-utusan Kami mewafatkannya, sedangkan para utusan (malaikat kami) itu tidak pernah lengah”

(Q.S. Al-An’am: 61)

 

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَن شَاء اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُم قِيَامٌ يَنظُرُونَ

“(Dan) Ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa saja yang berada di langit dan di bumi kecuali yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)” (QS. Az-Zumar: 68)

قُلْ يَتَوَفَّاكُم مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

Katakanlah: Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian hanya kepada Rabbmu kamu pasti dikembalikan” (QS. As-Sajadah: 11)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَيُرْسِلُ عَلَيْكُم حَفَظَةً حَتَّىَ إِذَا جَاء أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ تَوَفَّتْهُ رُسُلُنَا وَهُمْ لاَ يُفَرِّطُونَ

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya dan diutus-Nya kepadamu Malaikat-Malaikat penjaga sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang diantara kamu, ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami, dan Malaikat-Malaikat kami itu tidak melalaikan kewajibannya(QS. Al-An’am: 61)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api Jahannam yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (berhala); penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At-Tahrim: 6).

 

وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَن يَشَاء وَيَهْدِي مَن يَشَاء وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْبَشَرِ

“Dan Tidak kami jadikan penjaga Jahannam itu melainkan dari Malaikat. Dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan menjadi cobaan bagi orang-orang Kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang Kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan? Demikianlah, Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan tidak ada yang tahu tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Jahannam Saqar itu tiada lain melainkan peringatan bagi manusia” (Q.S. Al-Muddatstsir: 31)

 

وَجَعَلُوا الْمَلَائِكَةَ الَّذِينَ هُمْ عِبَادُ الرَّحْمَنِ إِنَاثًا أَشَهِدُوا خَلْقَهُمْ سَتُكْتَبُ شَهَادَتُهُمْ وَيُسْأَلُونَ

“Dan mereka menjadikan Malaikat-Malaikat yang hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah itu dianggap perempuan. Apa mereka menyaksikan penciptaan Malaikat-Malaikat itu? Kelak pasti dituliskan (bohongnya) kesaksian mereka dan mereka pasti dimintai pertanggungjawaban”

(QS. Az-Zukhruf: 19)

b. Menambah ketawadluan kita sebagai manusia yang banyak melakukan perbuatan dosa karena malaikat yang mempunyai kedudukan mulia di sisi Allah SWT saja tidak pernah melanggar perintah-Nya (apalagi kita yang belum jelas kedudukannya di hadapan Allah SWT).

c. Menambah keyakinan kita terhadap kitab-kitab yang telah diturunkan-Nya kepada para utusan-Nya melalui perantaraan malaikat. Dengan demikian, tidak ada keraguan dalam diri kita untuk mengamalkannya.

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ(19)ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ(20)مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ(21)

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah pemilik ‘Arasy, yang ditaati di sana (alam Malaikat) lagi dipercaya” (QS. At-Takwir 19-21)

d. Memperketat amalan-amalan kita karena keyakinan kita akan adanya ‘pengawas’ yang ditugaskan Allah untuk kita (malaikat Raqib dan Atid) sehingga amalan-amalan kita semakin terlindungi dari hal-hal yang dimurkai-Nya.

إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ(17)مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ(18)

“Yaitu ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya (Raqib-Atid), seorang duduk di kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 17-18)

Dengan keimanan yang utuh terhadap malaikat, seorang muslim akan berhati-hati dalam berbuat, karena ia yakin sang Malaikat akan senantiasa mencatat amal baik dan buruknya. Selain itu pun akan lebih berani dan optimis dalam mengarungi kehidupan, khususnya dalam mengemban da’wah, karena ia yakin selalu “dikawal” oleh tentara Allah yang perkasa, yakni para Malaikat.

3. Iman kepada kitab-kitab-Nya

Seorang Muslim beriman dan yakin kepada segala hal yang diturunkan dan diwahyukan oleh Allah SWT, berupa kitab dan apa yang difirmankan-Nya kepada beberapa Rasul berupa shuhuf (lembaran).

Kitab-kitab yang berasal dari firman Allah SWT seluruhnya ada empat macam, yaitu Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud as. Dan Injil yang diturunkan kepada hamba Allah dan Rasul-Nya, Nabi Isa as. Sementara itu firman Allah dalam bentuk shuhuf, misalnya adalah apa yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim as.

Hal ini menunjukkan adanya kesatuan misi yang diemban oleh para Rasul-Nya dari masa ke masa, tidak berubah, yaitu tauhidullah. Hal ini pun menunjukkan bahwa Tuhan dari semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, manusia pertama yang diciptakan hingga manusia akhir yang kelak akan diciptakan adalah sama, yaitu Allah SWT. Kitab-kitab itu masing-masing diturunkan-Nya untuk menyempurnakan yang sebelumnya. Tidak ada kesimpangsiuran atau target yang tidak jelas karena yang menurunkannya adalah Allah SWT, Sang Maha Pengatur yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Di antara kitab tersebut, hanya Al-Qur’an lah yang dipelihara/dijaga keasliannya oleh Allah SWT dan sekaligus berfungsi sebagai penyempurna dan penghapus Syari’at Nabi dan Rasul sebelumnya. Allah SWT berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9)

 

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

“(Dan) Kami telah menurunkan Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelum-nya) dan sebagai standar terhadap Kitab-Kitab tersebut. Maka putuskanlah perkara mereka menurut (Al-Qur’an) yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Beriman terhadap kitab Allah mempunyai sandaran yang berasal dari pemahaman dalil aqli dan naqli. Adapun mengenai penjelasan dalil-dalil tersebut, maka Al-Qur’an adalah kitab yang berbeda dengan kitab-kitab lainnya. Secara faktual/nyata, Al-Qur’an merupakan suatu kenyataan yang bisa dijangkau panca indera dan akal, dapat dipikirkan atau dibuktikan kebenarannya.

Tidak demikian halnya dengan kitab samawi lainnya. Kitab tersebut faktanya sudah tidak ada, sehingga akal sudah tidak mampu membahas dan membuktikan kebenarannya (bahwa kitab itu berasal dari Allah). Sebab kitab-kitab tersebut tidak mengandung mukjizat yang bisa dijangkau akal manusia (terutama manusia pada zaman kini). Juga Nabi yang membawanya tidak menjadikannya (Taurat, Zabur, dan Injil) sebagai bukti tentang kenabiannya. Walaupun demikian, kita wajib meyakini kitab-kitab tersebut pernah diwahyukan kepada nabi-nabi dan Rasul-Rasul terdahulu, baik yang diberitakan dalam Al-Qur’an maupun yang tidak diberitakan.

Karena itu, dalil keimanan terhadap kitab-kitab suci selain Al-Qur’an, adalah dalil naqli, yakni berdasarkan (ditunjukkan) oleh Al-Qur’an dan hadits Rasul yang pasti, seperti firman Allah SWT:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ آمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيَ أَنزَلَ مِن قَبْلُ وَمَن يَكْفُرْ بِاللّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاًبَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab-kitab yang Allah telah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah telah turunkan sebelumnya. Siapa saja yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan hari kiamat, maka sesungguhnya orang-orang tersebut telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa: 136) (lebih…)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.