The Forgotten Obligation

Keluasan Hukum Syara’

 

Ijtihad

Ijtihad menurut bahasa adalah mengerahkan segenap kemampuan untuk mewujudkan perkara yang berat dan sulit. Sedangkan ijtihad menurut istilah ahli ushul fiqih dikhususkan untuk mengerahkan segenapa kemampuan dalam rangka mencari dugaan kuat dari hukum syara’, sehingga dia merasa tidak mampu lagi untuk berbuat lebih dari yang telah diusahakannya.

Mujtahid adalah orang yang tersifati dengan sifat ijtihad (orang yang berijtihad). Mujtahid harus memenuhi dua syara’t:

  1. Mampu mengetahui ilmu lughah (bahasa) dan nahwu yang mencukupi. Dan dari ilmu tersebut mampu mengetahui keadaan orang Arab dan kebiasaan mereka yang berlangsung ketika berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Sehingga mampu membedakan antara penunjukkan-penunjukkan lafadz, seperti: al-muthabaqah, al-tadlmin, al-iltizam, al-mufrad, al-murrakab, al-kulli, al-juz’i, al-haqiqah, al-majaz, al-mutawathi, al-isytirak, at-taraduf, at-tabayun, al-manthuq, dan al-mafhum.
  2. Mengetahui dan mengenal sumber-sumber hukum syara’, bagian-bagiannya, jalan-jalan untuk menetapkannya dan macam-macam dilalah-nya; juga harus mengetahui cara-cara mentarjih ketika terjadi pertentangan di antara dilalah; harus mengetahui cara menggali hukum dari sumber-sumber tersebut; serta harus mengetahui asbabaun nuzul, nasikh mansukh, muthlaq, muqayyad, serta bagian-bagian al-Kitab dan as-Sunnah lainnya.

 

Mujtahid Mutlak

 

Syara’t yang diceritakan di atas adalah syara’t bagi mujtahid mutlak, yang mampu menghadapi hukum dan menggalinya dalam seluruh permasalahan fiqih serta mampu membuat ushul (ta’shilul ushul) serta membuat kaidah-kaidah (taq’idul qawaid) ketika diperlukan. Hal ini bukan berarti bahwa mujtahid mutlak harus mengetahui seluruh hukum, buka hal seperti ini yang kami maksudkan, karena kondisi semacam itu tidak mungkin dimiliki bagi setiap manusia. Para pemuka sahabat pun terkadang menangguhkan hukum dalam banyak masalah. Seperti Umar bin Khathtab (yang menangguhkan hukum) dalam masalah kalalah dan memerangi orang yang menolak (membayar) zakat. Begitu juga Abu Bakar pernah menangguhkan hukum tentang (hak) nenek dalam warisan. Imam Malik bin Anas yang menjadi imamnya tempat hijrah (Madinah) ketika disodorkan kepadanya 40 pertanyaan, dia mengatakan tidak mengetahui (menjawab) 36 pertanyaan.

Yang dimaksud dengan mujtahid mutlak adalah mujtahid yang ketika berijtihad mempunyai kemampuan untuk membahas dan menggali hukum serta membuat kaidah ushul dalam berbagai permasalahan, yang mencakup syariat Islam secara umum.

Mujtahid madzhab adalah mujtahid yang mengikuti imamnya dalam masalah ushul dan furu’. Meskipun demikian dia bisa menggali hukum atas berbagai permasalahan dari hukum-hukum umum yang telah ditetapkan kaidah-kaidahnya oleh imamnya, dan hal itu dilakukan berdasarkan petunjuk kaidah-kaidah imamnya serta metode ijtihadnya (mujtahid yang mengikuti metode ijtihad mujtahid mutlak).

Mujtahid masalah adalah mujtahid yang mampu meneliti dengan benar tentang suatu permasalahan dari berbagai masalah, sedangkan dalam masalah lainnya dia bertaqlid terhadap mujtahid yang lain. Bagi seorang mujtahid masalah cukup dengan mengetahui informasi-informasi syara” dan bahasa yang dibutuhkannya untuk menghukumi suatu masalah.

Inilah penjelasan tentang macam-macam mujtahid. Adapun penjelasan tentang objek ijtihad adalah sebagai berikut: Ijtihad tidak boleh dilakukan kecuali dalam hukum syara’ dalil-dalilnya bersifat zhanni. Ijtihad tidak bisa dilakukan dalam hukum yang dalilnya qath’i, seperti shalat lima waktu dan sebagainya.

Ijtihad juga tidak boleh dilakukan dalam masalah ‘aqidah, sesuai dengan arti ijtihad menurut ahli ushul, karena ‘aqidah merupakan perkara yang bersifat qath’i dan yakin, dan tidak boleh diambil kecuali melalui dalil-dalil qath’i. ‘aqidah tidak boleh diambil dari dalil-dalil zhanni. Allah SWT berfirman:

 

وَإِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

“Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.” (QS. An-Najm : 28)

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَالِغِيهِ

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah  tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan ) kebesaran yang sekali-kali tiada akan mencapai.” (QS. Al-Mukmin: 56)

مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا

“Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS. An-Nisa: 157)

 

Ayat tersebut diatas dan ayat-ayat lainnya datang untuk menjelaskan masalah-msalah yang menyangkut ‘aqidah. Dalam ayat tersebut Allah mencela orang-orang yang mengambil ‘aqidah dari dalil yang zhann dan melarangnya secara pasti. Ijtihad sesuai dengan definisinya berkaitan dengan dalil-dalil yang zhann, maka ijtihad tidak bisa dilakukan dalam masalah ‘aqidah. Dalam konteks ini tidak bisa diterima perkataan bahwa seorang mujtahid jika salah dalam berijtihad akan mendapatkan satu pahala, oleh karena itu tidak masalah jika seorang mujtahid berijtihad dalam masalah ‘aqidah, sebab jika salah tetap akan mendapatkan satu pahala. Pernyataan seperti itu bisa diterima karena orang yang salah dalam masalah ‘aqidah tidak akan diberi pahala dan tidak bisa dimaklumi. Justru dia akan mendapatka dosa dan kesetan, meskipun mengerahkan segenap kemampuannya dan berusaha sejauh mungkin untuk berijtihad tetapi tetap tidak beriman. Usaha itu tidak akan bermanfaat sedikitpun dan tidak akan diterima alasannya. ‘aqidah harus bersifat qath’i dan yakin. Berdasarkan penjelasan di atas maka tempat berijtihad adalah hukum-hukum syara’ yang dalil-dalilnya zhanni; juga bisa dilakukan pada dalil yang qath’i tsubut tetapi zhanni dalalah-nya.

 

Urgensi Ijtihad pada Setiap Masa

Ijtihad adalah fardhu kifayah. Pada setiap masa tidak boleh kosong dari keberadaan mujtahid. Apabila kosong di suatu masa dari mujtahid maka kaum Muslim berdosa. Dengan adanya seorang mujtahid atau lebih pada suatu masa maka akan menggugurkan (dosa) kaum Muslimin pada masa itu. Hal ini bisa ditetapkan dari dua aspek:

  1. Sesungguhnya nash-nash syariat Islam mengharuskan adanya ijtihad dari kaum Muslim karena nash-nash tersebut tidak datang secara rinci.bahkan nash-nash yang terperinci pun tidak mencakp seluruh masalah dengan bentuk nash yang qath’i. seperti ayat-ayt tentang warisan. Ayat-ayat ini datang secara rinci, namun meskipun demikian dilihat dilihat dari segi hukum-hukum cabangnya memerlukan pemahaman dan penggalian dalam banyak masalah,seperti maslah kalalah dan hijab. Para mujtahid mengatakan bahwa anak bisa menghijab (menghalangi dari menerima waris) saudara-saudara laki-laki yang meninggal, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Karena kata walad (anak) mencakup seluruh anak, baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Meski demikian Ibnu Abbas berpendapat bahwa anak perempuan tidak bisa menghijab saudara laki-laki yang meninggal. Sebab, kata walad hanya berarti anak laki-laki saja. Hal ini menunjukkan bahwa nash-nash meskipun menjelaskan rincian-rincian tertentu tetap saja dalam keadaan global (mujmal) yang masih membutuhkan ijtihad ketika memahami dan menggali hukum. Aspek pertama ini ditinjau dari aspek yang berkaitan dengan nash.
  2. Kejadian di dalam kehidupan ini senantiasa baru dan tersu berkembang. Selama tidak mengerahkan kesungguhan untuk menggali hukum yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa itu, kita tidak mungkin bisa menerapkan hukum syara’ terhadapnya. Karena kita megetahui bahwa nash-nash telah menunjukkan secara sempurna atas wajibnya menerapkan hukum syara’ pada setiap masalah. Allah swt berfirman:

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah.” (QS. Al-Maidah: 49)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

(QS. An-Nisa: 65)

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

“Dan Kami turunkan keadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan sesuatu.” (QS. An-Nahl: 89)

Oleh karena itu, ijtihad merupakan suatu kewajiban bagi orang yang mampu di setiap masa. Dengan kata lain, ijtihad adalah fardhu kifayah. Apabila sebagian kaum Muslim menjalankannya maka gugurlah dosa yang lainnya. Jadi ijtihad termasuk ke dalam kaidah:

 

“Tidak sempurna (pelaksanaan) suatu kewajiabn tanpa adanya sesuatu, maka (nukum atas) sesuatu itu wajib pula.”

Tidak akan sempurna menghukumi (sesuatu) dengan hukum yang diturunkan Allah pada setiap masalah, kecuali dengan adanya ijithad. Begitulah, Islam telah mendorong kita untuk berijtihad dan telah memberikan dua pahala kepada orang yang berijtihad dan benar dalam ijtihadnya, dan memberikan satu pahala saja kepada orang yang berijtihad tetapi salah dalam ijtihadnya.

Tidak akan sempurna menghukumi sesuatu dengan hukuman yang diturunkan Allah pada setiap masalah, kecuali dengan adanya ijtihad. Begitulah, Islam telah mendorong kita untuk beijtihad. Dan telah memberikan dua pahala kepada orang yang berijtihad. Dan benar dalam ijtihadnya, dan memberikan satu pahala saja kepada orang yang berijtihad tetapi salah dalam ijtihadnya.

]jtihad telah dijalankan oleh kaum muslim pada permulaan masa Islam. Para sahabat mempunyai ijtihad yang banyak dan perbedaan pendapat diantara mereka popular dalam berbagai masalah. Mereka senantiasa menggali berbagai hukum selama hal itu memungkinkan, karena mereka adalah ahli bahasa dan hidup menyaksikan turunnya al-Qur’an serta mengambil langsung dari Rasulullah SAW. Apa yang dilakukan para sahabat itu pada generasi sesudahnya dilakukan pula oleh sekelompok orang, dan mereka muncul dari banyak mujtahid, seperti imam-imam mazhab dan murid-murid mereka. Masa Islam sesudahnya juga terpancar dengan banyaknya mujtahid sampai tiba pada lemahnya mujtahid sampai tiba pada masa mundur dan lemahnya ijtihad, lalu sirna dan taqlidpun jadi marak. Hingga hukum-hukum Allah tidak mampu di Istinbath  dari masalah-masalah baru yang bermunculan.

Dengan demikian ijtihad harus terus menerus berlangsung agar didalam umat Islam terdapat para mujtahid yang mempunyai kemampuan; agar Islam bisa kembali menjadi pemimpin dunia; bisa menyelesaikan berbagai permasalahan dan mampu mengeluarkan manusia dari kegelaan menuju cahaya.

Rasulullah SAW telah memberikan kabar bahagia kepada kita bahwa kebaikan ini tidak akan terputus, dan sesungguhnya pada umat ini sampai akhir jaman akan selalu ada orang-orang yang menerapkan hukum Allah dimuka bumi dan melakukan ijtihad hingga Islam senantiasa tinggi.

Pengakuan Rasulullah atas Ijtihad Sahabat dimasanya

Para sahabat ra telah melakukan ijtihad dimasa Rasulullaah SAW. Mereka berbeda pendapat ketika menggali berbagai macam hukum. Namun kejadian itu diakui (dibiarkan) oleh Rasulullah SAW.peristiwa-peristiwa berikut ini akan menjelaskan hal tersebut:

  1. Ketika selesai perang khandaq dan musuh yang kalah telah pulang ketempat mereka, Rasulullah bermaksud meletakan senjatanya. Namun Jibril memberitahu bahwa malaikat tidak menyimpan senjatanya setelah perang usai sehingga sampai di bani Quraizhah. Kemudian Rasulullah memerintahkan seseorang untuk menyampaikan pemberitahuan kepada kaum muslimin: “Barang siapa mendengar dan taat kepada Rasul maka hendaklah dia tidak shalat ashar kecuali  dibani  Quraizhah. Para sahabat pun menuju benteng Zarafat sambil membawa senjata-senjata mereka. Mereka berbeda pendapat memahami perkataan Rasulullah. Diantara mereka ada yang mengambil zahirnya nash (yang tampak dari nash) sehingga tidak melakukan shalat ashar kecuali setelah tiba dibani Quraizhah setelah lewat waktu maghrib. Yang lainnya memahami bahwa perkataan Rasul tersebut dimaksudkan agar mereka segera melakukan shalat, sehingga mereka melakukan shalat ashar ketika masih berada di Madinah atau di perjalanan (sebelum sampai di bani Quraizhah). Ketika mengetahui hal tersebut beliau mengakui (membiarkan pendapat) kedua kelompok sahabat itu berdasarkan amal yang dilakukannya.
  2. Sabda Rasulullah kepada Mu’adz ketika diutus menjadi qadli (hakim) di Yaman:

Dengan apa engkau menghukumi ? Mu’adz berkata: Aku akan menghukumi dengan kitab Allah. Rasul bersabda: Bagaimana jika engkau tidak menemukan didalam kitab Allah? Mu’adz berkata: dengan Sunnah Rasulullah. Rasul bersabda : bagaimana jika engkau juga tidak menemukannya? Mu’adz berkata: Aku akan berijtihad dengan pendapatku dan aku tidak akan melampaui batas. Maka Rasulullah bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik kepada utusan Rasulullah terhadap perkara yang diridlai Allah dan Rasul-Nya.

  1. Hadits Rasulullah SAW:

Apabila seorang hakim berijtihad tetapi ternyata salah maka dia memeproleh satu pahala, dan apabila benar maka akan mendapatkan dua pahala.

4. Kisah pembunuhan yang dilakukan Abi Qatadah terhadap salah seorang musyrik pada perang Hunain.Rasulullah besabda:

Barangsiapa yang membunuh dan memang membunuhnya (berdasarkan bukti), maka dia berhak atas (harta) salab.

Harta salab yang seharusnya milik Abi Qatadah (dan telah diambilnya ) telah diberikan kepada orang lain yang memintanya. Abu Bakar ash-Shiddiq menolak permintaan itu padahal nabi SAW hadir disitu, seraya berkata:

Allah menetapkan tidaklah bersandar singa dari singa Allah, yang berperang karena Allah dan Rasul-Nya, maka berikanlah (harta) salab itu kepadanya’. Rasulullah SAW bersabda : benar, berikanlah itu kepadanya’ maka Abi Qatadah pun mengambil harta salabnya.

 

  1. Rasululah SAW telah menetapkan bahwa keputusan Sa’ad bin Mu’adz atas bani Quraizhah dengan membunuh mereka dan menahan (dan menjadikan budak) anak-anak mereka. Rasulullah SAW bersabda:

“Engkau telah menetapkan dengan ketetapan Allah yang berasal dari (diatas) langit ketujuh.

Dari pemaparan tersebut diatas dipahami bahwa para sahabat telah berijtihad dimasa Rasulullah SAW. Dan beliau membiarkan hal itupun terjadi, malahan beliau memberitahu bahwa jika ijtihadnya benar baginya dua pahala dan jka ijtihadnya salah baginya satu pahala.

Begitu pula sangat banyak peristiwa tentang ijtihad dimasa para sahabat ra sesudah (masa) Rasulullah SAW. Dan hal itu digambarkan secara rinci.

Pada masa itu masyara’kat memaklumi sedemikian maraknya (aktivitas) ijtihad, dan halt itu bukanlah suatu perkara yang aneh, apalagi dimasa Arab aqhah. Umar pernah berkhutbah (didepan kaum wanita) dan beliau menghendaki adanya batasan atas nilai mahar. Akan tetapi seorang wanita dari barisan belakang menolaknya seraya menyampaikan firman Allah SWT :

 

وَإِنْ أَرَدتُّمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَّكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنطَارًا فَلاَ تَأْخُذُواْ مِنْهُ شَيْئًا

“Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang diantara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun.” (QS. An-Nisa: 20)

Wanita itu mengatakan kepadanya pemahaman dirinya tentang kata qinthar, yang berarti (harta) yang banyak tanpa ada batasan. Oleh karena itu tidak boleh dia membatasi nilai mahar. Maka Umar berkata: “Benarlah wanita itu dan Umar keliru.”

Ijtihad Mujtahid

Apabila seorang mujtahid berijtihad , kemudian menggali hukum syara’ maka hukum Allah bagi dirinya adalah hukum yang telah digalinya itu. Meskipun demikian dia boleh meninggalkan hasil ijtihadnya dalam keadaan berikut ini seraya mengikuti ijtihad mujtahid yang lain :

  1. Jika imam (khalifah) mengadopsi hukum syara’ tertentu, maka mujtahid wajib meninggalkan pendapatnya dan mengikuti pendapat imam. Di masa Abu Bakar, beliau pernah membagi-bagikan harta secara sama rata kepada seluruh kaum Muslim. Sedangkan Umar berpendapat harus dibedakan tergantung siapa yang lebih dulu masuk Islam. Namun Umar pada saat itu mengadopsi pendapat yang diadopsi khalifah, yaitu Abu bakar, begitu juga dalam masalah talak umar berpendapat jatuhnya talak tiga dengan perkataan tiga. Sedangkan Abu bakar berpendapat talak yang jatuh adalah satu. Maka pada saat itu Umar mengadosi pendapat khalifah dan meninggalkan hasil ijtihadnya. Hal ini telah disepakati oleh para sahabat sehingga menjadi Ijma dikalangan mereka. Diantara ijma sahabat adalah ungkapan :

 

Keputusan imam menghilangkan perbedaan pendapat

Keputusan imam berlaku (yakni ditaati baik) zhahir maupun batin

  1. Apabila mujtahid meninggalkan pendapatnya dalam rangka menjaga kesatuan kaum muslim, maka dia harus meninggalkan ijtihadnya sebagaimana yang telah terjadi tatkala pembai’atan Utsman bin Affan menjadi khalifah.beliau sepakat akan menjalankan al-Kitab dan as-Sunnah serta (kebijakan) dua khalifah terdahulu.
  2. Al-A’lamiyah, yaitu jika seorang mujtahid melihat bahwa mujtahid lain lebih banyak ilmunya maka dia boleh mengikuti pendapat mujtahid tesebut dan meninggalkan pendapatnya. Hal itu pernah terjadi pada masa sahabat ra.
  3. 4. Apabila mujtahid mengetahui bahwa dalil yang menjadi sandaran ijtihadnya lemah, dan dalil mujtahid lain lebih kuat dan shahih. Dalam kondisi semacam ini dia wajib meninggalkan hukum yang telah digalinya dari dalil yang lemah, dan mengambil hukum yng dalilnya lebih kuat. Ijtihad adalah yang menjadi asal dalam pengmbilan hukum syara” (artinya, semua orang pada asalnya dituntut untuk menjadi mujtahid). Ijtihad menuntut :

a.   Mengetahui fakta atas persoalan yang akan digali hukumnya.

b.   Mengetahui nash-nash syara’ yang berkaitan dengan masalah tersebut.

c.  Mengerahkan segenap kemampuan dalam menggali hukum syara’ tentang suatu    masalah dari nash-nash yang berkaitan dengannya hingga dia (seorang mujtahid) merasakan tidak mampu lagi melampaui upaya yang telah ditempuhnya. Hanya saja perlu diketahui bahwa yang dimaksud ijtihad adalah menggali hukum suatu permasalahn dari nash, baik dari manthuqnya. Seperti menggali hukum ijarah dari firman Allah SWT:

 

فَإِنْ أَرْضَعْنَ لَكُمْ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Kemudian jika mereka menyusukan (anak-anakmu ) untuk mu, maka berikanlah kepada mereka upahnya. (TQS. Ath-Thalaq :6)

 

Dan sabda Rasulullah SAW:

 

Berikanlah upah kepada ajir (buruh yang disewa jasanya) sebelum keringatnya kering.

 

Sedangkan menerapkan suatu hukum terhadap berbagai masalah baru yang masih dalam cakupan maknanya, maka hal seperti ini tidak bisa dikatakan ijtihad. Karena menerapkan hukum syara’ yang khusus mengaharamkan khamar terhadap pengharaman seluruh jenis benda yang bisa memabukkan, seperti yang terdapat pada masa kita sekarang; atau menerapkan hukum syara’ yang khusus mengharamkan bangkai secara alami atau bangkai yang dipukul kepalanya hingga mati atau yang dipisahlkan kepalanya di warung dan dipajang untuk dijual. Semua itu dan yang sejenis nya  tidak bisa dikatagorikan sebagai ijtihad menurut syara’, melainkan termasuk penerapan hukum terhadap bagian-bagiannya. (afrad).

 

Taqlid

Taqlid menurut bahasa adalah mengikuti orang lain tanpa berfikir. Taqlid secara syara’ adalah melaksanakan pendapat orang lain tanpa disertai hujjah yang mengikat. Misalanya orang awam yang mengambil pendapat seorang mujtahid, atau seorang mujtahid yang mengambil pendapat mujtahid lain.

Taqlid dalam masalah aqidah tidak diperbolehkan karena Allah mencela orang-orang yang bertaqlid dalam aqidah.

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللّهُ قَالُواْ بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْقِلُونَ شَيْئاً وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Dan  apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’. Meraka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami’. ‘Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al-Baqarah: 170)

 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْاْ إِلَى مَا أَنزَلَ اللّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُواْ حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلاَ يَهْتَدُونَ

“Apabila dikatakan kepada meraka : ‘ Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab : ‘Cukuplah untuk kami apa yang kamu dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek meraka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (QS. Al-Maidah: 104)

 

Ketika turun firman Allah:

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi…” (QS.al-Baqarah: 164)

 

Rasulullah SAW bersabda :

“Kecelakaanlah bagi orang yang mengucapkan  (kata-kata) diantara dua cambangnya, tetapi dia tidak bertafakur tentangnya.”

 

Rasulullah SAW mengancam orang yang tidak berfikir dan mengamati. Hal ini menunjukkan atas keharusan adanya pembahasan dan diraihya kepuasan akal dengan jalan berpikir dalam masalah ‘aqidah.

 

Taqlid dalam masalah hukum syara’ diperbolehkan. Dalilnya antara lain:

  1. Firman Allah SWT :

 

وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلاَّ رِجَالاً نُّوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Kami tidak mengutus Rasul-Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Anbiya:7)

 

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan orang yang tidak memiliki pengetahuan agar bertanya kepada orang yang lebih tahu darinya. Ayat ini lafadznya bersifat umum karena yang menjadi sandaran adalah umumnya lafadz, bukan khususnya sebab. Sebab-sebab diturunkannya ayat ini adalah bantahan kepada orang-orang musyrik ketika mereka mengingkari keberadaan Nabi Muhammad sebagai manusia biasa. Kata-kata ahli dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) meskipun yang ditunjuk dalam ayat ini adalah ahlul kitab tetapi karena perkataan (kalam) dalam ayat ini bersifat umum, maka lafadz tersebut mencakup seluruh orang yng mempunyai ilmu pengetahuan. Kaum muslim adalah termasuk ahli dzikir, karena al-Qur’an adalah dzikir. Allah SWT berfirman:

 

وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

“Dan kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manuasia apa yang telah diturunkan kepada mereka”. (QS. An-Nahl:44)

Dengan demikian ayat ini bersifat umum, bagi setiap orang yang tidak mempunyai pengetahuan diperintahkan untuk bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan.

 

2.  Begitu juga diriwayatkan dari Jabir ra bahwa ada seorang laki-laki yang kepalanya tertimpa batu. Kemudian dia (tidur dan) bermimpi sehingga keluar air maninya. Lalu dia bertanya kepada para sahabat : Apakah kalian menemukan keringanan bagiku untuk bertayamum ? para sahabat berkata : Kami tidak mendapatkan keringanan bagimu sementara engkau mampu menggunakan air. Kemudian lelaki itu mandi junub dan meinggal dunia. Setelah itu Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya cukup bagimu bertayamum saja dan membalutkan perban ke kepalanya, kemudian dia mengusapnya dan membasuh anggota badan lainnya. Lalu nabi berkata :Mengapa kalian tidak bertanya ketika tidak mengetahui ? Sesungguhnya obat bagi orang yang bodoh adalah bertanya.”

Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk kepada para sahabat agar bertanya tentang hukum syara’. Riwayat sahih menceritakan bahwa as-syabi berkata : ada enam orang sahabat Rasul SAW yang memberikan fakta kepada kaum muslim. Yaitu Ibnu Mas’ud, Umar bin Khaththab, Ali bin Abi thalib, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, dan Abu Musa al- ASyari ra. Tiga diantara mereka suka meninggalkan pendapatnya karena tiga yang lain; yaitu Abdullah bin Mas’ud meninggalkan pendapatnya karena pendapat Umar, Abu Musa meninggalkan pendapatnya karena pendapat Ali,  dan Zaid bin Tsabit meninggalkan pendapatnya karena pendapat Ubay bin Ka’ab.

 

Ini juga  merupakan dalil bahwa para sahabat pendapatnya sering diikuti oleh kaum Muslim dan sebagian diantara mereka suka bertaqlid kepada sebagian yang lainnya. Allah berfirman:

 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada  kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah:122)

Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada kaum muslim untuk berhati-hati ketika diberi peringatan oleh ulama. Andai kata tidak diperbolehkan bertaqlid maka hal itu tidak boleh terjadi. Berdasarkan hal ini maka taqlid dibolehkan dalam  setiap permasalahan tanpa ada pengkhususan, kecuali apa yang telah kami kemukakan tentang masalah ‘aqidah yang akan mengharuskan adanya kepastian didalamnya, dan tidak boleh sekadar dugaan kuat melalui jalan taqlid.

Taqlid Bukanlah (Prinsip) Asal

 

Meskipun taqlid dibolehkan namun Islam melarang kita untuk megikuti (sesuatu) tidak berdasarkan pengetahuan. Allah SWT berfirman:

 

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Dan janganlah kamu ikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentagnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.”

(QS. Al-Israa : 36)

Berdasarkan ayat ini jelas bahwa yang menjadi asal dari setiap perkara syariat, baik yang diperintahkan ataupun yang dilarang kepada kita, adalah kita harus berusaha sehingga kita mengetahui hukumnya dengan cara-cara yang bisa menghantarkannya kepada ‘ilmu (yakin).apabila seorang mukallaf tidak bisa melakukan hal itu maka dia wajib untuk berfikir agar bisa sampai kepada dugaan kuat dalam suatu permasalahan.

Taqlid tidak bisa menghantarkan kepada keyakinan dan dugaan kuat. Oleh karena itu kebanyakan ulama menyatakan tidak boleh bertaqlid kecuali bagi orang yang lemah, tidak mampu dan terpaksa; yaitu orang bodoh yang tidak mempunyai fasilitas untuk berijtihad. Orang seperti ini adalah orang yang diwajibkan atau dibolehkan untuk meminta fatwa dan bertaqlid kepada orang yang telah memberikan fatwa padanya. Selain dari orang semacam ini maka menurut hukum asalnya dia harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk menggali hukum. Inilah yang lebih utama. Jika tidak, dia boleh bertaqlid kepada orang lain sebagaimana  yang telah kami jelaskan sebelumnya.

 

Orang yang tidak memiliki kemungkinan beijtihad adalah :

1. Muttabi’, yaitu orang memiliki sebagian ilmu yang diakui (mu’tabar) dalam tasyri (penggalian hukum), tetapi ilmunya tidak cukup untuk berijtihad, maka orang seperti ini dibolehkan untuk bertaqlid dengan syara’t harus mengetahui dalil mujtahid yang diikuti.nya.

2. Orang Ummi, yaitu orang yang tidak mempuyai sebagian ilmu yang dialui dalam proses tasyri (penggalian hukum) bagi orang seperti ini cukuplah fatwa seorang mujtahid. Misalnya dia bisa bertanya kepada seorang mujtahid tentang suatu hukum, kemudian mujtahid menjawabnya hukumnya adalah  haram,fardlu,atau yang lainnya.

 

Yang menjadi persoalan adalah, apakah seorang muqallid yang mengikuti mujtahid dalam permasalahan tertentu dapat menarik kembali taqlidnya dan mengikuti mujtahid lain dalam permasalahan yang sama? Untuk menjawab hal itu bahwa hukum syara’ bagi seorang muqallid adalah hukum syara’ yang digali oleh mujtahid yang diikutinya. Hal ini berarti permasalahannya dapat digambarkan seperti penjelasan berikut ini :

1.  Apabila perbuatan seorang muqallid terhadap suatu masalah yang dia ikuti merupakan perbuatan yang bersambung, maka dia tidak boleh menarik kembali taqlidnya dari perkara tersebut kemudian mengikuti mujtaid lain. Karena dia telah terikat dengan hukum syara’ dalam masalah tersebut dan telah mengamalkannya.

2.   Apabila perbuatan itu tidak bersambung maka dibolehkan baginya mengikuti mujtahid lain.

Definisi Masalah

Yang dimaksud masalah disini adalah setiap perbuatan atau sekumpulan perbuatan yang tidak menjadi syara’t bagi sahnya perbuatan lain. Sedangkan bagian dari masalah adalah setiap perbuatan yang menjadi penyebab sahnya suatu perbuatan. Seperti syara’t dan rukun.

Contohnya, wudlu merupakan beberapa perbuatan yang menjadi syara’t sahnya perbuatan yang lain. Sebab syara’t sahnya shalat bergantung pada wudlu. Oleh karena itu wudlu adalah bukan termasuk masalah menurut definisi tadi, tetapi dipandang sebagai bagian dar shalat yang harus ada untuk merealisasikan sahnya shalat.

Shalat adalah beberapa perbuatan yag tidak menjadi syara’t bagi perbuatan yang lain (tidak berkaitan dengan sah atau tidak sahnya perbuatan lain).maka shalat disebut masalah. Setiap perkara yang harus ada agar shalat itu sah disebut sebagai bagian masalah dari shalat, seperti rukun dan syara’t sahnya shalat. Contohnya adalah thaharah (suci) dan menghadap kiblat.

Niat dalam shaum merupakan suatu perbuatan yang menentukan sahnya suatu perbuatan. Karena sahnya shaum tergantung pada niatnya, maka niat tidak dipandang sebagai masalah,melainkan merupakan bagian dari masalah.

Shaum adalah suatu perbuatan yang tidak menentukan sah tidaknya suatu perbuatan. Oleh karena itu disebut masalah dan perbuatan-perbuatan yang menentukan sahnya shaum disebut sebagai bagian dari masalah shaum. Contohnya, niat dan menahan diri dari segala hal yang membatalkan.

Berdasarkan penjelasan diatas, apabila seseorang bertaqlid kepada seorang mujtahid, dalam masalah shalat, maka dia wajib bertaqlid kepadanya dalam seluruh bagian shalat. Seperti wudhu, mandi junub, tayamum, menghadap kiblat dan rukun-rukun  shalat.

Apabila seseorang bertaqlid kepada seorang mujtahid dalam masalah shaum, maka dia wajib mengikuti mujtahid tersebut dalam seluruh bagian shaum; seperti niat, kewajiban niat pada setiap malam untuk setiap hari atau untuk satu bulan penuh, sahnya niat disiang hari atau mesti dilakukan dimalam hari. Begitu juga dalam perkara yang membatalkan shaum dan keringanan-keringanan berbuka. Meskipun demikian dia boleh bertaqlid kepada mujtahid lain dalam masalah lain. Ini semua dilakukan selama seorang muqallid hanya mampu bertaklid saja. Apabila dia memiliki kemampuan untuk menilai dan mentarjih beberapa dalil maka  dia boleh meninggalkan pendapat mujtahid yang diikutinya dan mengikuti dalil lain yang lebih kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s