The Forgotten Obligation

Kewajiban Berdakwah

 

Kondisi umat Islam pada saat ini, memang jauh berbeda dengan kondisi mereka pada masa Rasulullah dan para Shahabat. Saat ini, umat Islam tengah mengalami cobaan yang cukup berat, yakni berada  pada kondisi yang sangat rendah, yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya.  Kemunduran umat menimpa hampir seluruh aspek kehidupan; mulai dari aspek yang besar seperti politik, pemerintahan, ekonomi, peradaban, pertahanan-keamanan, sampai pada aspek kecil/pribadi seperti akhlak, ibadah praktis, peraturan kekeluargaan, waris, dan tata cara pergaulan di masyarakat. Dalam perkembangan terakhir, ternyata kemunduran itupun belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Tetapi, bila diamati dengan jeli, sebenarnya permasalahan mendasarnya kembali kepada ‘kemunduran tingkat berpikir umat yang sangat parah’.  Rendahnya taraf berpikir Islami inilah yang kemudian berdampak pada sikap mereka terhadap Islam itu sendiri.  Umat tidak berupaya dengan serius untuk mendalami Islam dan mengetahui tatacara penyelesaian masalah dengan metode yang Islami, tetapi umat berupaya menyelesaikan permasalahannya dengan nilai dan pola berpikir non-Islam.  Misalnya dengan memakai aturan Kapitalis untuk menyelesaikan problem kemasyarakatan. Atau digunakannya tatacara nenek moyang terdahulu untuk meninggikan rasa keagamaan umat, yang akhirnya menimbulkan bid’ah dan khurafat.

Sebagian umat Islam saat ini masih berpikir bahwa Islam memang tidak akan mampu mengimbangi perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga dibutuhkan aturan dari luar Islam yang mampu memenuhi keperluan umat.  Maka mulailah mereka mengadopsi beberapa peraturan dan perundangan Barat, yang saat itu Baratpun tengah menjadi penjajah. Sebagian lagi berpendapat bahwa rasa nasionalisme yang ada sekarang adalah kenyataan sejarah yang sah-sah saja menurut pandangan Islam.  Mereka terpecah belah menjadi umat-umat yang kecil, dengan perbatasan sendiri, dengan bendera, bahasa, dan lambang negara masing-masing.  Tak disadari bahwa hal tersebut, selain diharamkan Islam, juga telah menyebabkan mereka tidak memiliki kekuatan yang berarti untuk menghadapi musuh-musuh mereka.

Pada kondisi seperti inilah terasa sekali kebutuhan umat kepada orang-orang mau dan mampu membawa kembali umat menuju kemulyaan dan ketinggiannya sebagaimana masa terdahulu. Dan, lebih daripada itu, sebenarnya umat Islam telah didaulat Allah SWT, Sang Pencipta alam semesta untuk menjadi umat terbaik yang sekaligus menjadi pemimpin dan penuntun umat lainnya.  Posisi umat terbaik (khairu ummah) ini, ternyata melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan beriman kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ …

“Kalian adalah umat terbaik yang sengaja Allah turunkan di kalangan manusia; Kalian menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar dan kalian beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Karenanya syarat yang disebut tadi menjadi kunci penentu bagi terwujudnya khairu ummah. Bila umat telah menyepelekan atau bahkan menjauhkan diri dari langkah amar ma’ruf nahi mungkar (berda’wah), maka jangan berharap predikat khairu ummah akan tercapai.

Walhasil, hanya ada satu jalan untuk mengakhiri permasalahan umat Islam yang cukup kompleks ini, yakni melakukan aktivitas da’wah, beramar ma’ruf nahi mungkar; yang mana hal tersebut sama artinya dengan meningkatkan taraf berpikir umat dengan pemikiran Islami. Setelah taraf berpikir Islami ini makin tinggi, umat akan mengetahui bahwa mereka membutuhkan suatu ‘rumah’ sebagai tempat berlindung yang permanen, kokoh dan nyaman, sekaligus memiliki kemampuan untuk menahan segala ancaman pihak luar yang akan menghancurkannya untuk kedua kali. Da’wah, selain sebagai jawaban, ia sekaligus suatu kewajiban. Yang perlu kita pahami adalah da’wah seperti apa yang harus diikuti dan diteladani untuk para pengemban da’wah.

Makna dan Tujuan Da’wah

Secara  etimologi,  kata da’wah merupakan  bentuk nomina atau masdhar dari  kata kerja da’aa- yad’uu yang memiliki arti  mengajak  dan menyeru manusia  dari  satu keadaan  kepada  keadaan  yang lain (perhatikan  QS.2:221, 31:21). Kata  da’wah berarti  juga  berdo’a,  yaitu  mengharapkan  adanya   perubahan dan perubahan dari keadaan  sebelumnya. Adapun  secara  terminologi, kata  da’wah  sudah menjadi  istilah  khusus  bagi umat Islam baik kata  itu berdiri  sendiri  atau  dirangkaikan  dengan kata Islam  dengan demikian ia memiliki makna  yang positif, yaitu menyeru manusia  kepada  Al-Islam (perhatikan  QS. 3:104).

Berkaitan dengan da’wah ini pula DR. Rauf  Syalabiy  menyatakan  bahwa  da’wah  Islamiyyah  merupakan  sebuah  gerakan  (aktivitas) yang  bertujuan untuk menghidupkan  sistem  ilahi atau  peraturan  Allah  SWT  yang diturunkan  kepada  khatamun nabiyyun  Muhammad  SAW. Hanya  saja  saat ini  sering kali terjadi pengertian da’wah  diciutkan  menjadi hanya sekedar ceramah atau  tabligh.  Kesalahan  pengertian  ini  telah  disadari oleh  banyak  orang, akan  tetapi  pelaksanaannya  masih  tetap  pada hal-hal yang ritual  dan keruhanian belaka. Istilah da’wah pembangunan, da’i pembangunan merupakan gambaran bahwa seolah-olah terdapat da’i dan da’wah yang tidak membangun. Demikian pula da’wah bil hal yang seolah-olah da’wah bil lisan sudah tidak efektif lagi. Kekeliruan ini semua terletak pada pemahaman dan pelaksanaan da’wah bukan pada kata da’wah itu sendiri.

DR. Muhammat Natsir dalam bukunya Fiqhu Al-Da’wah menguraikan  bahwa da’wah artinya mengajak manusia kepada Allah (Islam) dengan hikmah wal mau’idzhatil hasanah (hikmah dan pelajaran yang baik) sehingga ingkar terhadap thagut dan beriman kepada Allah dan keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam.

Dengan memperhatikan ayat-ayat Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW, serta berbagai pengertian yang dikemukakan dapat disimpulkan bahwa da’wah Islamiyyah adalah sebuah aktivitas yang bersifat totalitas berupaya untuk mempengaruhi cara berpikir manusia, cara merasa, cara bersikap, dan bertindak agar sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dalam rangka terwujudnya suatu masyarakat Islam yang kaljasadil wahid (ibarat satu tubuh) sebagai landasan idealnya  dan suatu masyarakat Islam yang kalbunyani  yasyudhdhu ba’dhuaa ba’dhan (ibarat bangunan yang saling menguatkan satu dan yang lain) sebagai landasan operasionalnya.

Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki fikrah wahidah, masya’ir wahidah, nizamunwahidun (kesatuan konsepsi, perasaan, dan sistem)  yang diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Sehingga seluruh aspek kegiatan kehidupannya benar-benar berlandaskan ajaran Islam semata.

Dalil-Dalil Tentang Kewajiban Da’wah

Da’wah merupakan kewajiban yang sangat mendapat perhatian besar dalam Islam, karena ada tidaknya da’wah sangat mempengaruhi  lestari atau tidaknya kehidupan Islam. Posisi Da’wah dalam Islam  laksana darah dalam tubuh manusia. Ia yang menyebabkan hidup dan terus tumbuh dan berkembang.

Secara syar’i pun kewajiban da’wah memiliki perintah dan qorinah yang sangat tegas  betapa penting dan bernilai tingginya da’wah ditengah-tengah kehidupan umat manusia, diantaranya :

ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia kejalan Rabmu dengan jalan hikmah (hujah yang benar dan Kuat) dan pelajaran yang baik serta bantahlah mereka dengan baik.” (QS. An Nahl: 125)

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

(QS Al Fushilat : 33)

وَاذْكُرُواْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS Al Anfal : 26)

Kewajiban da’wah ini diperkuat dengan hadits Rasulullah SAW, diantaranya :

“Sesungguhnya manusia bila melihat kemungkaran, sedangkan mereka tidak berusaha mencegahnya maka tunggulah saat nya  Allah menurunkan Azabnya secara menyeluruh.” (H.R. Abu Dawud)

“Kalian harus mengajak mereka kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran.  Bila tidak demikian, tentulah Allah SWT akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai kalian dan bila ada orang baik yang berdo’a (untuk keselamatan) maka do’a mereka tidak akan dikabulkan.”

(H.R Al Bazzar dan Tabrani)

Dan banyak ayat-ayat dan hadits yang lainnya yang mengharuskan kaum muslimin melakukan da’wah.

Tanggung jawab Da’wah

Pada dasarnya  hukum syara’ itu dibebankan  kepada laki-laki dan wanita.tidak ditemukan perbedaan  diantara  keduanya dalam hal taklif  (pembebanan  hukum)  kecuali  jika terdapat  nash-nash yang membedakanya. Apabila  terdapat seruan seperti: “Wahai orang-orang yang beriman …”, maka seruan ini selain ditujukan kepada laki-laki juga ditujukan kepada para wanita. Dalam bahasa Arab terdapat kaidah yang menyatakan bahwa seruan bagi kaum laki-laki  sekaligus mencakup pula di dalamnya seruan untuk wanita. Sedangkan seruan bagi kaum wanita tidak mencakup bagi laki-laki dan hal itu hanya terbatas pada wanita saja.

Begitu pula dalam hal kewajiban melakukan da’wah, bukanlah merupakan kewajiban satu lembaga atau organisasi tertentu melainkan merupakan kewajiban bagi setiap kaum muslimin dimanapun ia berada, apapun statusnya dan pekerjaannya, baik sebagai pedagang, petani, buruh, karyawan, maupun direktur, pejabat pemerintah dll. Semuanya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam mengemban da’wah Islamiyyah, apalagi tentu saja seorang kepala negara (khalifah).

Oleh sebab itulah, tanggung jawab umat Islam dalam mengemban da’wah Islamiyyah dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu:

  1. Da’wah merupakan tanggung jawab sekelompok umat  dan dilakukan secara berjamaah sesuai dengan firman Allah SWT. Dalam QS.3:104. Kelompok ini terdiri atas:

a) Lembaga negara di bawah pimpinan seorang kepala negara (khalifah). Khalifah berkewajiban untuk menerapkan sistem Islam kepada seluruh anggota masyarakat, menegakkan keadilan, menjalankan hukum syara’, menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran, dan mengemban da’wah Islam dengan jalan jihad ke darul musyrik, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW dan para khalifah sesudahnya sehingga Islam tersebar keseluruh jazirah Arabia, Afrika, Eropa, dan Asia.

b) Organisasi atau lembaga da’wah yang dikelola umat Islam secara bersama-sama atau berkelompok yang memiliki orientasi siyasi dan berfungsi sebagai sosial kontrol terhadap prilaku penguasa dalam rangka menjalankan amar ma’ruf nahyi munkar. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW  bersabda :”apabila umatku enggan berkata kepada korang-orang dzalim, wahai pendzalim! Maka ucapkanlah selama tinggal kepadanya (karena adanya sama seperti tidak adanya)”.

Kelalaian umat Islam melakukan amar ma’ruf nahyi munkar berakibat pula doa mereka tidak diijabah oleh Allah SWT dan akan di timpakan azab kepada mereka, serta orang-orang zalim akan menguasai mereka.

  1. 2. Da’wah  merupakan tanggung jawab setiap individu baik pria maupun wanita, dan dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing.Rasulullah SAW bersabda:

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat”.

Rasulullah SAW bersabda:

”Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika ia tidak mampu  hendaklah ia ubah dengan lisannya, jika ia tidak mampu maka hendaklah ia ubah dengan hatinya, namun hal itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Objek Da’wah

Secara garis besar objek da’wah dibagi dalam dua bagian, yaitu da’wah kepada orang kafir dan kepada umat Islam. Adapun da’wah kepada orang kafir dapat dilakukan secara individu atau secara jama’iy. Akan tetapi da’wah ini akan lebih efektif dan akan mencapai hasil maksimal jika dilakukan oleh Khilafah Islamiyyah dengan cara:

  1. Jika orang-orang kafir itu berada di bawah pemerintahan Islam maka da’wah lebih banyak di lakukan dengan jalan memberi contoh teladan yang baik melalui penerapan  sistem Islam kepada mereka secara adil dan bijaksana. Sejarah telah membuktikan bahwa negeri-negeri kafir akan takluk di bawah pemerintahan Islam sesudah diberlakukan sistem Islam kepada penduduk negeri tersebut (taraf kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan politiknya bertambah maju). Spanyol dengan kota-kota bersejarahnya, seperti Cordova, Sevilla, Malaga, Barcelona merupakan bukti otentik kejayaan Islam di Eropa. Bandingkanlah dengan negeri-negeri Islam yang kini setelah melepaskan diri dari imperialisme dan kolonialisme Barat, mereka hidup di bawah garis kemiskinan dan kebodohan; sementara para pemimpinnya terus bergantung hidupnya pada kasih sayang kaum yang pernah menjajah negerinya yang mengakibatkan penderitaan  dan kemelaratan penduduknya.
  2. Jika da’wah ini di tujukan kepada negeri kafir maka da’wah seperti ini dilakukan dengan jihad fii sabilillah. Khilafah harus membangun kekuatan militer yang tangguh untuk menghadapi musuhnya yang berusaha menghalangi jalannya da’wah. Da’wah inilah yang dilakukan Rasulullah SAW. setelah beliau membangun masyarakat Islam di kota Madinah. Tindakan pertama yang dilakukan adalah pengiriman surat kepada para kepala suku dan qabilah di seluruh jazirah Arabia dan para raja di sekitarnya, seperti Persia dan Romawi.

Adapun da’wah kepada orang Islam berbeda dengan da’wah kepada orang kafir. Da’wah kepada orang kafir bertujuan untuk mengubah aqidah kufur menjadi aqidah Islam, sedangkan da’wah kepada sesama muslim adalah dalam rangka meningkatkan keimanan dan taqwa kepada Allah SWT. Akan tetapi jika kaum muslimin belum melaksanakan hukum syara’ dan belum menerapkan Islam secara utuh dan menyeluruh karena Khilafah Islamnya belum di tegakkan atas dasar aqidah Islam, maka kewajiban utama dalam mengemban da’wah Islamiyyah adalah bagaimana upaya agar sistem Islam itu dapat terwujud dalam kehidupan mereka (isti’naafu al-hayati al-Islamiyah).

Da’wah dalam rangka mencapai tujuan ini tidak mungkin dilakukan dalam bentuk perorangan, bagaimanapun banyaknya aktivitas yang dilakukannya. Da’wah seperti ini harus diemban dan dipikul bersama-sama dalam bentuk jamaah yang terorganisasikan dan terencana. Jamaah da’wah semacam ini paling tidak memiliki dua syarat, yaitu:

  • Harus memiliki persamaan pemikiran (konsepsi) dan perasaan yang berasaskan pada aqidah Islam, dan
  • Aktivitas da’wahnya harus berorientasi siyasah semata dan bukan semacan organisasi sosial dan berupaya membangun rumah sakit, sekolah, sarana panti asuhan, atau semacam badan wakaf yang mengelola harta wakaf, begitu pula bukan berbentuk perkumpulan olah raga, kesenian, kepanduan, perkumpulan tarekat, zikir, dan kesufian, dll.walaupun semua kelompok dan organisasi ini bersama-sama mengaku berda’wah dan menyeru kepada Al-Islam hal ini berdasarkan firman Allah SWT. QS. 3:104, yaitu:”Dan hendaklah terdapat di antara kalian sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan (Al- Islam), memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan merekalah orang-orang yang beruntung.”

Teladan Da’wah Rasulullah

Sifat Da’wah Rasulullah SAW (Da’wah Fikriyah, Da’wah Siyasiyah, dan Da’wah Askariyah)

Mempelajari sejarah da’wah Rasulullah SAW berarti mempelajari seluruh perilaku beliau. Kehidupan Rasulullah SAW adalah kehidupan da’wah, kehidupan penuh perjuangan menghadapi berbagai pemikiran kufur dan kehidupan mengemban risalah yang diamanahkan Allah SWT untuk disampaikan kepada manusia secara keseluruhan

Dua puluh tiga tahun lamanya beliau bersungguh-sungguh, tanpa mengenal lelah, berda’wah terus-menerus tanpa sekejap pun berhenti, mengajak manusia kepada Islam dengan da’wah fikriyah, da’wah siyasiyah dan da’wah askariyah.

Disebut da’wah fikriyah karena beliau memulai da’wahnya dengan menyebarkan aqidah Islam seraya mendobrak segala bentuk pemikiran dan pandangan hidup yang menyesatkan dan menghancurkan segala bentuk kepercayaan dan tradisi nenek moyang yang jahiliyah. Disebut da’wah siyasiyah karena da’wah ini mengarahkan ummat pada suatu kekuatan sebagai pelindung da’wah agar bisa menyebar luas ke seluruh pelosok sudut-sudut dunia. Disebut da’wah askariyah karena da’wah ini membutuhkan taktik dan strategi dalam jihad fisabilillah.

Beliau begitu sukses dalam mengembangkan da’wah ini, membina masyarakat, hingga mampu mendirikan daulah (negara). Beliau pun berhasil menghimpun ummat yang terpecah belah, berqabilah-qabilah menjadi ummat yang satu di bawah panji-panji Islam.

Sukses yang beliau raih bukan melalui perubahan sosial terlebih dahulu atau perubahan moral, walaupun hal tersebut sangat diperlukan, juga tidak melalui slogan-slogan sukuisme, qoumiyah, ashobiyah (fanatisme golongan) dan lain-lain. Akan tetapi beliau memulainya dengan konsep aqidah “laa ilaaha ilallah”. Aqidah inilah yang merubah pemikiran, pemahaman, perasaan dan pandangan serta perilaku hidup masyarakatnya sehingga terwujud generasi sahabat yang mampu meneruskan risalah da’wah ini tersebar luas keseluruh pelosok dunia.

Pada dasarnya kesempurnaan da’wah Islamiyah itu telah terhenti sejak terhentinya penaklukan Islam. Dan ummat Islam sebagai ummat wahidah sesudah itu terkoyak-koyak menjadi berbagai suku bangsa yang lemah dan berdiri sendiri. Padahal pada mulanya merupakan satu kekuatan yang disegani oleh musuh-musuhnya. Kini ummat sangat membutuhan orang yang mau mengemban dan melanjutkan risalah da’wah Islamiyah untuk membangkitkan kembali kekuatan itu, melalui suatu kebangkitan yang benar yang berdasarkan Islam. Ummat saat ini sangat membutuhkan orang yang mau kembali menghimpun barisan yang tercecer, shaf-shaf yang terbengkalai dan menyatukan seluruh kekuatan yang ada agar tegak dan terbina masyarakat yang Islami serta untuk memulai kembali misi da’wah ini keseluruh dunia untuk kedua kalinya.

Terwujudnya cita-cita ini hanya tercapai dengan jalan da’wah, sebab hanya jalan inilah yang ditempuh oleh Rasulullah SAW sehingga meraih kesuksesan yang luar biasa. Jejak langkah tersebut kemudian diikuti oleh generasi sahabat, jalan yang ditempuh adalah jalan yang lurus, sedangkan metode yang dipakai adalah metode yang benar sehingga membuahkan hasil yang luar biasa. Metode yang beliau lakukan adalah metode yang wajib diteladani dan jalan ini wajib ditempuh oleh Ummat Islam dewasa ini dengan cermat dan teliti agar kita tidak terperosok di jalan yang salah. Kesalahan sedikit saja dalam menganalogikan da’wah Rasulullah atau menyimpang dari jalan yang telah digariskan oleh beliau dapat mengakibatkan kita tersesat di tengah jalan dan sekaligus awal kegagalan dalam meraih cita-cita.

Agar tidak menemui kesulitan dalam meniru gerak langkah da’wah Rasulullah SAW, maka kita harus kembali kepada Al-Quran dan sunnah Rasulullah, khususnya kembali kepada siroh Nabi SAW. Kita mesti berhenti lama untuk memandang dan merenung dihadapan siroh Rasulullah SAW. Untuk mengetahui apa yang beliau katakan dan yang beliau perbuat, dan untuk mengetahui jalan yang pernah beliau tempuh ketika mengemban risalah da’wah ini sesuai dengan yang telah digariskan oleh Allah SWT kepadanya. Kemudian kita harus berjalan bersamanya meneguhkan niat untuk mengikuti tuntunannya, tetap berada pada jejak langkahnya sehingga kita bersama seluruh Ummat Islam senantiasa berada dipihak yang mengikuti jejak langkahnya.

Bila kita telah mengambil risalah da’wah ini dan telah berbuat sesuai dengan garis perjuangan beliau, berjalan di jalan yang telah beliau lalui, pasti kemenangan akan datang. Saat itu pertolongan Allah SWT akan tiba sesuai dengan cita-cita dan harapan. Cita-cita tersebut tiada lain adalah memulai kembali kehidupan Islam secara keseluruhan dengan mewujudkan aturan Allah di muka bumi ini, serta mengemban da’wah Islamiyah ke seluruh bangsa.

Oleh karena itu pemahaman tentang sejarah da’wah Rasulullah SAW atau sirah Rasulullah secara keseluruhan mutlak diperlukan oleh seluruh ummat Islam pemegang amanah Allah dan penerus Risalah da’wah. Dengan demikian kejayaan Islam dapat direbut kembali dan Islam dapat tegak di muka bumi ini. Pada akhirnya ummat dapat bergerak bebas dan merdeka dalam menyampaikan da’wah Islamiyah di bawah naungan Khilafah Ar-Rosyidah.

Allah SWT telah menurunkan agama ini bagi seluruh ummat manusia. Dialah yang menjadikan Islam sebagai Agama Fithrah. Dia-lah yang mengokohkannya dan dialah yang pasti akan menolongnya serta memenangkannya terhadap agama atau ideologi lain walaupun orang-orang kafir membencinya.

Periode Da’wah di Makah

Dengan pengamatan yang jernih, akan didapatkan bahwa Rasulullah SAW telah menjalankan da’wah di kota Makkah melalui dua tahapan berturut-turut.

Pertama, Tahapan Pembinaan (Marhalah Tatsqiif)

Tahapan ini adalah tahap pembinaan dan pengkaderan, yakni pembinaan pemikiran dan ruh. Da’wah Rasulullah pada tahap ini dilakukan secara sirriyah (rahasia) dalam waktu tiga tahun. Saat itu da’wah belum dilakukan secara terbuka di depan umum, melainkan melalui individu-individu dari rumah ke rumah. Mereka yang menerima da’wah Islam segera dikumpulkan di rumah seorang sahabat bernama Arqom, sehingga rumah tersebut dikenal sebagai Darul Arqom (rumah Arqom). Disanalah mereka dibina dan dikader dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus. Beberapa dari mereka diutus untuk mengajarkan Islam kepada yang lain, diantaranya Khabbab bin Arts yang mengajarkan Al-Quran kepada Fatimah binti Khaththab bersama suaminya. Semakin hari semakin bertambah jumlah mereka hingga mencapai empat puluh orang dalam waktu tiga tahun. Selama itu, Darul Arqom senantiasa menjadi pusat pembinaan dan pengkaderan para sahabat pengemban da’wah, dimana mereka berkumpul untuk mendengarkan dan menghayati ayat-ayat Al-Quran beserta penjelasan dari Rasulullah SAW.

Dengan demikian apabila Rasulullah SAW menyampaikan da’wah pada tahap ini secara diam-diam, hal tersebut bukan berarti beliau takut melaksanakan secara terang-terangan, melainkan itulah yang dituntut untuk dilaksanakan. Ketika turun ayat 1 dan 2 surat Al-Mudatsir:

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(1) قُمْ فَأَنذِرْ(2)

“Hai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan”

Kedua, Tahapan Interaksi  (Marhalah Tafa’ul wa Kiffah)

Marhalah ini merupakan bentuk dari da’wah zhahriyah, karena Rasul dan para sahabatnya melakukan da’wah secara terbuka kepada seluruh masyarakat jazirah Arab. Tahapan ini penuh dengan rintangan dan perjuangan setelah Rasulullah dan para sahabatnya mendapat perintah dari Allah SWT, sebagaimana ayat:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

فَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ(213)وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ(214)وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ(215)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat dan rendahkan dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu dari kalangan orang-orang yang beriman” (QS. As-Syu’araa: 213-215)

Da’wah pada marhalah ini segera mendapatkan reaksi keras dari kaum musyrikin. Siksaan dan penganiayaan datang bertubi-tubi. Pengikut Muhammad SAW mulai diuji keimanannya, sampai sejauh mana kualitas iman mereka setelah tiga tahun mendapat pembinaan di Darul Arqom.

Da’wah Rasulullah SAW pada marhalah ini merupakan suatu pertarungan pemikiran antara alam pemikiran jahiliyah dengan alam pemikiran Islam, antara adat-istiadat, budaya dan kepercayaan nenek moyang dengan Islam. Hal ini terlihat dari ayat-ayat Makkiyah yang pada umumnya mengajak mereka untuk meninggalkan adat istiadat, budaya dan kepercayaan nenek moyang mereka, seperti yang tercantum dalam surat Al-Zukhruf 21-24.

Pada tahapan ini terjadi perjanjian Bai’atul Aqobah I dan II yang dilakukan oleh 12 dan 75 orang dari Madinah. Rasulullah SAW juga memilih 12 orang pemuka diantara mereka untuk menyampaikan Islam kepada kabilah-kabilahnya masing-masing.

Periode Da’wah di Madinah

Hijrahnya kaum muslimin ke Madinah adalah sebagai awal mula marhalah da’wah ketiga, yaitu tathbiq ahkamul Islam (Pelaksanaan Syari’at Islam) dengan diproklamasikan Daulah Islamiyah sebagai pelaksana hukum Islam dan sebagai pengemban risalah da’wah ke segenap penjuru dunia dengan jihad fi sabilillah.

Beberapa aktivitas yang dilakukan Rasulullah SAW di Madinah adalah sebagai berikut:

a. Membangun Masjid

Tugas pertama yang dilakukan Rasulullah SAW di Madinah adalah membangun masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam, tempat shalat tempat bermusyawarah tempat belajar-mengajar, tempat mengatur strategi da’wah dan Jihad juga tempat menyelesaikan segala bentuk perselisihan dan sengketa.

b. Membina Ukhuwah Islamiyah

Tugas kedua yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan antara Anshar dan Muhajirin. Persaudaraan ini bukan sekedar slogan kosong tanpa makna, tetapi pesaudaraan yang digambarkan oleh Rasulullah SAW ibarat satu tubuh, bila salah satu anggota tubuh tertimpa sakit maka seluruh tubuhnya merasakan sakit. Persaudaraan yang mendarah daging mengalir dalam tubuh setiap ummat sehingga lenyap sama sekali segala bentuk fanatisme, golongan, suku dan ras.

c. Menyusun Piagam Perjanjian (Watsiqoh)

Tugas ketiga yang dilakukan Rasulullah SAW adalah menyusun piagam perjanjian (watsiqoh). Istilah sekarang disebut undang-undang dasar. Kitab sejarah Ibnu Hisyam menyebut sebagai Undang-Undang Negara Pemerintahan Islam pertama. Watsiqoh ini menyangkut hak dan kewajiban Muslim dan non Muslim yang tinggal di wilayah kedaulatan Islam, hubungan Daulah dengan masyarakat atau antara masyarakat dengan Daulah. Persatuan ummat Islam tanpa mengenal perbedaan suku, bangsa dan ras.

d. Strategi Politik dan Militer

Dalam rangka menyebarkan da’wah Islamiyah ke luar Negeri Madinah, sekaligus memaklumatkan kepada bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain mengenai berdirinya Daulah Islamiyah dengan kepala negaranya adalah Rasulullah SAW sendiri. Maka diambil beberapa langkah lanjutan setelah urusan di dalam negeri terselesaikan, yaitu menyusun strategi politik dan militer ke luar negeri.

Sikap Yang Harus Dimiliki Dalam Berdakwah

1.   Da’wah Membutuhkan Keberanian

Apabila kita kembali kepada Al-Quran dan sunnah terutama sejarah kehidupan Rasulullah SAW, maka jelaslah bahwa untuk mengemban da’wah Islamiyah dibutuhkan adanya keterusterangan (tidak menyembunyikan atau menutup-nutupi kebenaran), keberanian, daya usaha, dan kekuatan pemikiran. Keterusterangan itu tampak dari sikap Rasulullah SAW. Dalam setiap kata yang diucapkan dan kejelasan setiap pemikirannya, ketika beliau mengajak kepada manusia serta menyerukan agar berkumpul dihadapannya. Hal itu nampak dalam ucapan beliau di hadapan kaumnya dan penduduk Makkah:

“Sesungguhnya seorang pemimpin tidak akan mendustakan kaumnya. Demi Allah, bahkan andaikan aku berdusta kepada segenap manusia, seluruhnya, maka tidak akan berdusta kepada kalian. Juga andaikan aku menipu manusia seluruhnya, maka tidak mungkin aku menipu kalian. Demi Allah yang tidak mungkin aku menipu kalian. Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk kalian khususnya dan kepada manusia seluruhnya. Demi Allah kamu akan mati sebagaimana kamu tidur dan kamu bangun dari tidur dan dihisab atas segala apa yang kamu kerjakan sehingga kamu akan dibalas dengan kebaikan atas amal baikmu dan dengan keburukan atas amal buruknya. Adapun balasan itu berupa surga yang kekal atau neraka yang langgeng.” (Sirah Al-Halabiyah)

Adapun kebenaran Rasulullah SAW. Yang paling menonjol dalam menyampaikan da’wah secara terang-terangan, tampak sekali, antara lain pada saat beliau masih seorang diri, tidak ada penolong (kecuali Allah SWT). Pendukung atau pembelanya dan tidak ada harta dan senjata, melainkan hanya keimanan yang kokoh kepada Allah SWT. Juga bekal beliau lainnya adalah keyakinan yang bulat terhadap adanya pertolongan Allah SWT.

Pernah suatu ketika Abu Jahal datang melarang beliau shalat di dekat Ka’bah, tetapi beliau tidak memperdulikannya, bahkan kembali mengulang shalatnya. Saat itu Abu Jahal mengancam hendak menginjak leher beliau, ketika beliau sedang sujud. Namun tidak ada seorang pun diantara mereka, baik Abu Jahal maupun pemimpin-pemimpin Makkah lainnya, yang dapat menghentikan perbuatan Rasulullah SAW. Untuk shalat di Ka’bah, walaupun mereka semua mengancam dengan maksud untuk mencegah beliau shalat dan ini mereka lakukan kapan saja mereka kehendaki. Namun, Rasulullah SAW tetap melakukan shalat di Ka’bah.

Demikianlah, dengan keberanian yang tinggi seperti ini, Rasulullah SAW menghadapi makar para pemimpin Quraisy yang paling terpandang sekalipun. Beliau menghadapi mereka di berbagai kesempatan, sampai-sampai pada suatu hari beliau pernah berkata ketika mereka berusaha mengancam, menghalangi, dan menyakiti beliau, ketika Rasulullah SAW yang melaksanakan thawaf :

“Apakah kalian mau mendengarkan apa yang akan kusampaikan, wahai kaum Quraisy? Demi nyawaku yang berada di tangan Allah, aku ingatkan kalian bahwa suatu ketika nanti aku akan membunuh kalian.”

(Sirah Ibnu Hisyam)

2.   Da’wah Memerlukan Keteguhan Jiwa (Kekuatan Sikap)

Adapun kekuatan Rasulullah SAW tampak pada kekuatan dari kebenaran yang beliau serukan melalui untaian kalimat yang jelas dan tegas, penuh percaya diri. Begitu pula tampak pada keteguhan hati beliau dalam berda’wah tidak pernah berkurang semangatnya, walaupun menghadapi berbagai kesulitan yang menghadapi perjalanan da’wahnya atau rintangan dan kesulitan yang dihadapi ketika melaksanakan da’wah.

Meskipun menghadapi berbagai intimidasi dan provokasi dari kaumnya agar beliau meninggalkan da’wah meskipun ditawarkan kepada beliau kesenangan dunia berupa kekuasaan, harta benda, wanita dan pengobatan medis gratis jika Rasulullah SAW “gila” karena wahyu (menurut anggapan mereka), namun beliau tetap tegar secara konsisten dan konsekuen.

Selain itu muncul ‘tekanan’ yang dilakukan oleh pamannya sendiri (Abu Thalib) yang selama ini menjadi pelindung dan penolongnya. Menyuruh beliau meninggalkan da’wah agar tidak menyulitkan posisi pamannya dihadapan para pemimpin Quraisy. Tetapi dalam kenyataannya, beliau memperlihatkan kesiapannya untuk berjuang dan menanggung resiko, walaupun berwujud kematian dalam menegakkan da’wah yang telah Allah SWT turunkan kepadanya. Beliau tidak bergeming dari pendiriannya itu dan tidak pula mundur walau setapak pun dari tipu daya dan makar kaum Quraisy yang dilancarkan terhadap beliau dan para pengikutnya. Bahkan beliau sempat menyampaikan pernyataan yang masyhur di hadapkan pamannya, yaitu:

“Demi Allah, hai pamanku. Seandainya mereka meletakkan matahari pada tangan kananku dan bulan pada tangan kiriku supaya aku tinggalkan perkara (da’wah) ini, tiadalah aku tinggalkan sampai Allah memenangkan da’wah atau aku binasa karenanya.” (Tarikh Tabari, Tarikh Ibnu Atsar)

Lebih dari itu, selama Rasulullah SAW dan para shahabatnya mengemban da’wah ini di Makkah, mereka tidak pernah berdamai apabila bekerja sama dengan seorang pemimpin atau pembesar manapun dan tidak pula peduli terhadap perlakuan kasar dan keras dari pembesar tersebut. Semua ini dilakukan dan dipertahankan dalam rangka menegakkan kebenaran. Bahkan mereka menentang masyarakat, sekalipun kesulitan dan bahaya serta segala rintangan harus dihadapi. Tidak terpetik dalam diri mereka, ketika mengemban da’wah ini, keinginan untuk mendapatkan kedudukan, kebesaran, atau kemaslahatan diri mereka serta keinginan-keinginan pribadi lainnya. Tidak ada perasaan takut ditentang dalam keadaan hidup dan mati. Tidak merasa khawatir dengan kedudukan duniawi. Tidak peduli dengan rezeki dan masa depan mereka karena Allah SWT yang telah menentukan semua itu. Tidak pula goyah sedikit pun pendirian mereka dalam menghadapi penghinaan, penderitaan, siksaan dan kemiskinan. Dari semua sikap yang demikian itu, nampak sekali bagi kita betapa kuatnya pribadi-pribadi mereka itu.

3.   Da’wah memerlukan Keterusterangan

Mengemban da’wah Islam mengharuskan kedaulatan secara mutlak hanya untuk mabda’ (ideologi) Islam, tanpa mempertimbangkan apakah hal ini sesuai dengan keinginan masyarakat pada umumnya atau justru bertentangan; apakah sesuai dengan adat istiadat ataukah bertolak belakang; apakah mabda’ itu diterima oleh masyarakat, ditolak atau bahkan dimusuhi. Seorang pengemban da’wah tidak akan mencari muka dan berbasa-basi di depan masyarakat, bermuka dua atau bersikap toleran terhadap penguasa yang dzolim. Seorang pengemban da’wah tidak akan memperdulikan kebiasaan masyarakat beserta adat istiadatnya. Dia tidak memperhitungan apakah da’wahnya diterima oleh masyarakat atau ditolak. Dia akan berpegang teguh pada pada prinsip mabda’ Islam saja, dan hanya menyuarakan mabda’ itu saja, tanpa memperhitungkan nilai apapun selainnya. Tidak boleh mengatakan kepada orang-orang yang bermabda’ lain: ‘berpegang teguhlah pada prinsip kalian’ tetapi hendaknya mereka diajak (tanpa paksaan) untuk memeluk mabda’ Islam. Sebab, da’wah menuntut kedaulatan hanya untuk Islam semata, bukan untuk yang lain dan bahwasanya hanya Islamlah yang berkuasa di tengah-tengah masyarakat, sebagaimana firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

‘Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar, untuk dimenangkan-Nya atas seluruh agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya.”

(QS. At Taubah: 33)

Rasulullah SAW datang ke dunia ini dengan membawa risalah Islam dan menyampaikan secara terang-terangan dan menantang. Beliau menyakini kebenaran risalah yang diembannya kepada masyarakat, menantang dunia secara keseluruhan, mengumumkan perang atas seluruh manusia yang menolak Islam tanpa memperhatikan warna kulit, memperdulikan adat istiadat, tradisi, kebiasaan-kebiasaan, agama-agama, kepercayaan-kepercayaan, sikap penguasa atau rakyat kebanyakkan. Beliau tidak memperhatikan sesuatu pun selain Risalah Islam.

Rasulullah SAW telah memulai da’wahnya terhadap orang-orang Quraisy dengan menerangkan kelemahan Tuhan-tuhan mereka, menentang dan meremehkan seluruh kepercayaan-kepercayaan mereka. Sedangkan beliau pada saat itu dalam keadaan sendirian dan diisolasi masyarakat, tanpa pendukung dan tanpa bekal selain imannya yang amat dalam terhadap Islam yang beliau serukan.

Demikian pula seharusnya sikap dan tindakan seorang pengemban da’wah Islam, yaitu menyampaikan da’wah secara terang-terangan; menentang segala kebiasaan, adat-istiadat, ide-ide sesat dan persepsi yang salah; bahkan akan menentang opini umum masyarakat kalau memang keliru, sekalipun untuk ini dia harus bermusuhan. Begitu pula dia akan menentang kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama yang ada sekalipun harus berhadapan dengan kefanatikan para pemeluknya atau harus menghadapi kebencian orang-orang yang berada pada kesesatan.

4. Da’wah Perlu Pemikiran dan Pengetahuan

Pelaksanaan da’wah pun memerlukan pemikiran dan pengetahuan, sebagaimana ayat pertama yang diturunkan:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

“Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan (segala sesuatu)” (QS. Al-Alaq: 1)

Lagi pula, Rasulullah SAW tidaklah menyeru manusia kepada sesuatu apapun, melainkan sesudah turunnya Al-Wahyu. Sebab, seperti yang telah dimaklumi bahwa wahyu telah diturunkan semenjak beliau masih berada di Makkah. Al-Wahyu turun pula saat beliau senantiasa diperhatikan, dipelihara, diselamatkan, dididik, dan diarahkan oleh Allah SWT. Juga ditentukan pula fase dan tahapan langkah da’wah untuk beliau, sebagaimana Allah SWT juga telah menentukan sasaran yang harus beliau capai pada setiap usaha dan kegiatan da’wah. Firman Allah SWT:

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

“(Dan) bersabarlah dalam menunggu ketetapan Rabbmu (berupa pertolongan Allah). Sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan (perlindungan) Kami” (QS. Ath-Thuur: 48)

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“(Dan ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) melakukan daya upaya terhadap dirimu untuk menangkap dan memenjarakan atau membunuhmu, atau pula mengusirmu (dari Makkah). Mereka melakukan tipu daya, tetapi Allah menggagalkannya. Dan Allahlah sebaik-baiknya pembahas tipu daya.”

(QS. Al Anfal: 30)

Oleh karena itu Rasulullah SAW sangat menginginkan untuk mengajari para shahabatnya mengenai ayat-ayat Al-Quran dan keseluruhan wahyu yang diterimanya sebagai penjelasan, penafsiran atau perincian Al-Quran. Beliau menyuruh mereka untuk memahami dan menghafalkannya dan membantu beliau untuk menyebarluaskan kepada seluruh manusia, serta mengajarkan dan meneruskannya kepada yang lain, secara jujur/amanah tanpa mengubah-ubah, baik dengan cara menambah atau menguranginya. Para shahabat Rasulullah SAW telah menemukan nilai pemikiran dalam kehidupan mereka, sehingga, misalnya Umar bin Khaththab ra pernah menyuruh kaum muslimin untuk mempelajari, mendalami, dan memahami hukum-hukum agama Islam, sebelum mereka memperoleh kekuasaan dan pemerintahan di muka bumi ini. Dalam hal ini, Umar bin Khaththab ra berkata:

“Pahamilah hukum-hukum agama, sebelum kamu menjadi pemimpin (penguasa).” (HR Al-Baihaqi)

Sasaran dan Tujuan Da’wah

Itulah fakta sejarah, dan sekaligus harus menjadi uswah serta menunjukan betapa Rasulullah SAW tidak menerima keyakinan seseorang melainkan dengan aqidahnya yang utuh sempurna, dibarengi dengan tuntutan pelaksanaan yang konsisten dan konsekuen. Dalam kasus di atas, hanya masalah wasilah (perantara) serta teknik pelaksanaannya yang terlihat seolah-olah beliau menerima usulan kabilah tersebut dalam bentuk ‘sinkritisme’ (kesatuan keyakinan) tetapi ternyata tetap saja dalam masalah keyakinan dituntut utuh. Oleh karena itu da’wah Islamiyah haruslah dalam bentuk usaha mempertahankan aqidahnya maupun fikrah Islam, serta mempertahankan aqidah maupun fikrah Islam, serta mempertahankan pula pelaksanaannya dengan sempurna, tanpa kompromi, tanpa adanya proses adaptasi, dan tidak membiarkan terjadinya kelalaian dalam melaksanakan Islam. Dalam hal ini, seseorang boleh saja mempergunakan teknik dan sarana apapun, sepanjang hal tersebut ada kaitannya antara ide dengan hukum Islam.

Pengemban da’wah Islamiyah dituntut agar setiap amal atau perbuatannya mengarah kepada tujuan tertentu. Ini merupakan hal yang teramat penting. Selain itu, ia dituntut pula agar selalu mencamkan tujuan tersebut ke dalam benaknya tanpa kenal istirahat untuk mencapai tujuan tersebut. Sebab, tentu ia tidak akan rela sekedar menerima ide (Islam) tanpa berusaha mengamalkannya, menganggap bahwa semua itu hanya sebuah khayalan belaka.

Ia juga tidak rela terhadap pemikiran dan usaha yang tidak mengarah kepada suatu tujuan karena hal tersebut seperti gerakan putaran ‘gasing’ yang hanya bergerak di tempat, sehingga usaha yang seperti itu akan berakhir pada kejumudan dan keputusasaan. Bahkan, ia tidak akan henti-hentinya berusaha mengaitkan pemikiran dan amal perbuatan, menjadi pemikiran dan perbuatan yang mengarah pada tujuan yang dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata.

Rasulullah SAW mengemban qiyadah fikriyah (memimpin ummatnya atas dasar ide-ide Islam) sejak beliau berada di Makkah. Saat itu Rasulullah SAW mengajak ummat manusia untuk memeluk Islam, yaitu ‘Laa Ilaha Illalah Muhammad Rasulullah’. Beliau mengarahkan pemikiran mereka menjadi aqidah Islam sebagai landasan berfikir. Beliau juga berusaha untuk mendaulatkan Islam sebagai satu-satunya sistem yang ditetapkan dalam masyarakat.

Rasulullah SAW mulai mendidik orang-orang yang telah beriman yang kemudian menjadi shahabat-shahabatnya agar mereka memadukan antara pemikiran dengan perbuatan. Beliau juga mengajarkan kepada mereka 10 ayat Al Qur’an, dan tidak mengajarkan yang lain, sampai mereka memahami maknanya dan mengamalkan isinya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud dan para shahabat lainnya. (Muqaddimah Ibnu Taimiyah, dalam Kitab Ushulut-Tafsir: 44)

Rasulullah SAW menggambarkan kepada mereka bahwa Allah SWT akan memenangkan agama-Nya di seluruh penjuru Jazirah Arab sehingga seorang yang berjalan dan memakai kendaraan dari Shan’an (Yaman Utara) sampai Hadral Maut (Yaman Selatan) tidak akan merasa takut, kecuali hanya kepada Allah SWT. Ia aman. (Shahih Bukhari)

Untuk tujuan itu, Rasulullah SAW telah memulai da’wahnya dari Makkah. Setelah terjadi pergolakan yang lama serta perjuangan yang penuh dengan kesengsaraan, beliau lalu menetapkan bahwa masyarakat Makkah tidak dapat dijadikan titik acuan (sentral) untuk menerapkan sistem Islam. Oleh karena itu beliau berusaha mempersiapkan masyarakat Madinah sampai beliau berhasil mendirikan masyarakat Islam, menerapkan sistem Islam, mengembang risalah-Nya, serta mempersiapkan ummatnya untuk mengembangkan risalah tersebut sesudahnya, sejalan dengan metode yang telah digariskan. Selain itu, beliau juga menjelaskan kepada kaum muslimin bagaimana caranya mengatur jalannya pemerintahan, membentuk strukturnya, dan usaha menghimpun sumber pendapatan dan belanja, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem dan mekanisme pemerintahan. Beliau memerintahkan kaum muslimin sesudahnya untuk tidak melewatkan satu kurun waktupun tanpa adanya Khalifah (Tartib Musnad Imam Ahmad); dan tidak membiarkan waktu terluang tanpa adanya jihad dan futuhat daerah baru (Sunan Abu Daud; Sunan Ad-Dailami, Firdaus Al-Akhbar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s