The Forgotten Obligation

Kewajiban Dakwah Jama’ah

 

Secara umum kondisi umat Islam sekarang ini berada dalam keterpurukan dan keterbelakangan yang teramat sangat parah, hampir di semua aspek. Hal ini terjadi karena dua hal, yaitu; 1) Pemahaman kaum muslimin yang sangat dangkal bahkan berada di bawah garis normal pemikiran yang sehat. Ini terlihat dengan kebodohan mereka mempertanyakan hal-hal yang sudah qath’iy, terlebih lagi keengganan mereka untuk menerapkan syari’at Islam dalam seluruh aspek kehidupannya. 2) Tidak adanya institusi yang menerapkan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Institusi yang dimaksud adalah Negara Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Sebab dengan tidak adanya Khilafah Islamiyah yang dipimpin oleh seorang Khalifah, akan terbengkalailah hukum-hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ini dosa besar bagi seluruh kaum muslimin: sadar atau tidak sadar.

Dari dua aspek ini saja sebenarnya sudah cukup jelas bagi kita (kaum muslimin) apa yang harus kita perbuat agar keluar dari keterpurukan sekarang ini? Atau dengan kata lain bagaimana kita bangkit dan keluar dari kondisi ini? Landasan apa yang kita gunakan?, dan Bagaimana riilnya? Sehingga Islam mampu menguasai dunia dengan mengubur hidup-hidup Kapitalisme-Demokrasi-Sekularisme dan mencampakkan mentah-mentah Sosialisme-Komunisme serta ide-ide sesat lagi menyesatkan lainnya.

 

Aqidah Islam dan Dakwah

 

Kata aqidah mengandung pengertian kepastian dan keyakinan terhadap hal-hal mendasar. Semenjak Rasul SAW menerima Islam dari Rabb-nya dan mengemban da’wah Islam, maka torehan tinta emas dengan indahnya ditampakkan oleh Allah SWT melalui Rasul-Nya dan umatnya. Seorang budak “hanya” karena memeluk Aqidah Islam dapat menjadi pemimpin dunia; dengan Aqidah Islam yang mantap dan kokoh pasukan kaum muslimin mampu untuk memenangi berbagai peperangan (dalam rangka da’wah Islam) mulai dari perang Badar, perang Ahzab, perang Khaibar, perang Mu’tah, penaklukan Makkah, perang Hunain, perang Tabuk sampai perang Salib. Bahkan kaum muslimin mampu untuk memasuki jantung Eropa, menawan Kaisar Rusia di Konstantinopel dan memporakporandakan Yugoslavia. Sampai-sampai seorang Uqbah bin Naafi’ dengan semangat juang dan nada perkasa berkata: “Ya Rabb, jika tidak terhalang oleh lautan dan samudera yang terbentang luas dihadapanku ini, maka aku akan menerobos seluruh daratan untuk berjuang di jalan-Mu”.

Tidak hanya itu, ternyata Aqidah Islam mampu mengubah manusia lemah menjadi manusia tangguh yang mampu memikul tanggung jawab terhadap dunia mudahnya; Aqidah Islam mampu membuat seorang pemuda belia nan tampan menjadi pemimpin agung yang disegani dunia dan semua kekuatan apapun, padahal pemuda agung tersebut tidak memiliki senjata super canggih dan berbagai perlengkapan super lengkap selain Aqidah Islam yang diyakini kebenarannya. Jika demikian apa rahasianya?

Dalam realitasnya Aqidah Islam adalah keimanan yang pasti bahwa Allah SWT-lah Dzat Yang Maha Tunggal; Yang Menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Dialah Yang Maha Pengatur segala hal yang ada di alam ini. Aqidah Islam juga menegaskan bahwa kehidupan dunia ini fana; bahwa tempat kembali manusia hanya dua kemungkinan: surga atau neraka. Bahwa rizqi itu ada di tangan Allah SWT begitu juga ajal kita. Aqidah Islampun menegaskan bahwa Al Qur’an datang dari sisi Allah SWT. Dialah Tuhan yang mengutus Muhammad SAW dengan membawa Al Qur’an sebagai wahyu Allah SWT ke tangah-tengah manusia dalam rangka menyempurnakan kehidupan manusia. Realitas Aqidah yang seperti inilah yang menjadi rahasia kekuatan bagi orang yang memeluknya. Aqidah yang seperti ini pula yang menjadi faktor pendorong bagi pemeluknya. Dengan demikian aqiah Islamlah yang menjadi azas berdirinya hadlarah (peradaban), da’wah Islam dan penerapan hukum-hukum, Aqidah Islamlah landasan taqwa individu dan masyarakat serta Aqidah Islamlah yang menjadi azas berdirinya Daulah Islam.

Namun sayang, tidak sedikit dari kaum muslimin yang tidak memahami rahasia dibalik Aqidah yang dianutnya. Sehingga menjadi keharusan bagi siapa saja yang ingin mengikuti jejak Rasul SAW dan mensuritauladani beliau, untuk mengemban da’wah Islam, untuk menyampaikan risalah agung ini kepada seluruh umat manusia dimanapun mereka berada. Bukankah tugas para Nabi dan Rasul hanya untuk berda’wah yakni menyampaikan risalah dari Rabbnya? Lantas da’wah yang bagaimana yang mampu membangkitkan kaum muslimin dan mampu membangun tegaknya sistem Islam secara cepat dan sempurna?

Untuk menjawab pertanyaan ini, tentunya kita harus pahami bahwa da’wah dalam rangka mengemban Aqidah Islam ke seluruh dunia dan da’wah untuk menyampaikan Islam ke seluruh umat manusia tidak mungkin dilakukan seorang diri, sekuat apapun dia, sejenius apapun dia dan selengkap apapun peralatan yang digunakannya. Untuk itu da’wah haruslah dilakukan secara bersama-sama yakni da’wah secara berjama’ah, mengingat beratnya beban da’wah sekarang ini.

 

 

Wajib Berdirinya Jama’ah Da’wah dalam Pandangan Syara’

 

Hendaklah ada diantara kalian segolongan umat yang manda’wahkan kebajikan (Islam) memerintahkan kemakrufan dan mencegah kemunkaran. Merekalah orang-orang yang beruntung(QS. Ali Imran: 104)

 

Imam Thabari dalam kitab tafsirnya Ath-Thobari berkata: Hendaklah ada diantara kalian wahai orang-orang yang beriman sebuah Ummatun yang memyeru manusia kepada Al Khair yaitu menyeru manusia kepada al-Islam dan berbagai aturan yang disyari’atkan oleh Allah SWT bagi hamba-Nya, yang menyuruh kepada al-ma’ruf yaitu menyeru manusia agar mengikuti Muhammad SAW dan agama yang datang bersamanya dari sisi Allah SWT dan yang mencegah dari al-munkar yaitu mencegah dari kekufuran kepada Allah SWT pengingkaran terhadap Muhammad dan apa yang datang bersamanya dari sisi Allah SWT dengan melakukan jihad dengan segenap kekuatan fisik hingga ummatun tersebut memimpin kalian (orang-orang yang beriman). Dan mereka adalah orang-orang yang al muflihun bermakna mereka dimudahkan Allah SWT dan mereka kekal di surga dan nikmatnya. Utsman bin Affan ketika membaca ayat ini  mengatakan bahwa Allah SWT akan menolong ummatun adalah khusus bagi para sahabat Rasulullah SAW dan ar-rowwah.

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya Tafsir al-Qur’an al-Adzhiim mengatakan: Adh Dhohak mengatakan bahwa ummatun adalah khusus bagi para sahabat Rasul SAW dan ar rowwah yaitu pada mujahid dan para ‘ulama. Abu Ja’far al Baakir berkata ketika Rasul SAW membaca ayat ini kemudian Beliau berkata: “Al-Khair adalah mengikuti al-Quran dan Sunnahku”.

Adapun maksud ayat ini adalah hendaknya ada sebuah firqoh (kelompok) dari kalangan  umat ini (umat Islam) yang bersungguh-sungguh dalam perkara ini. Kemudian Ibnu Katsir menambahkan –jika demikian maka ini sebuah kewajiban atas setiap individu umat Islam dengan kemampuannya sebagaimana diriwayatkan imam muslim bahwa Rasul SAW bersabda– yang artinya, “Barang siapa melihat kemungkaran hendaklah ia mengubahnya dengan kekuatan, jika tidak mampu ia mengubah dengan lisannya dan jika tidak mampu ia mengubah dengan hatinya dan ini adalah selemah-lemah iman”.

Imam Qurtubi dalam tafsirnya Jamiu’ li Ahkam al-Qur’an mengatakan: Lafadz min dalam firman Allah SWT … menunjukan sebagian (min lil tab’iidh). Maksud ayat tersebut bahwa kedua perkara tersebut mewajibkan adanya ‘ulama bukan setiap orang menjadi ‘ulama. Dikatakan bahwa min tersebut sebagai penjelasan jenis (min li bayaan al-jinsi), tetapi pengertian yang pertama lebih tepat (ashohha). Sehingga bisa diambil pengertian bahwa menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar adalah fardhu kifayah. Allah SWT menjelaskan dalam firmannya surat  Ali Imran ayat 41:

 

قَالَ رَبِّ اجْعَل لِّيَ آيَةً قَالَ آيَتُكَ أَلاَّ تُكَلِّمَ النَّاسَ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ إِلاَّ رَمْزًا وَاذْكُر رَّبَّكَ كَثِيراً وَسَبِّحْ بِالْعَشِيِّ وَالإِبْكَارِ

Yaitu mereka yang jika Kami berikan mereka kekuasaan memerintah di bumi niscaya mereka mendirikan shalat.

 

Dan bukanlah setiap manusia yang diberi kekuasaan. Ibnu Jubair membaca, “Hendaklah ada sebuah umat diantara kalian yang menyeru kepada al khair, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan Allah SWT akan membantu mereka atas apa-apa yang menimpa mereka

 

Ahmad Mahmud dalam kitabnya Ad-Da’wah ila al-Islam menjelaskan bahwa melalui ayat ini, Allah SWT telah mewajibkan umat Islam –sebagai bentuk kewajiban kifayah–untuk mewujudkan minimal satu jamaah/partai yang aktivitasnya adalah menda’wahkan Islam (al-khair) serta melakukan amar ma’ruf nahy munkar.

Perintah yang terkandung dalam frase wal takun menunjukan pengertian wajib, karena aktivitas menda’wahkan Islam serta melakukan amar maruf nahyi munkar juga hukumnya wajib. Sementara itu, frase minkum pada ayat ini berarti sebagian, karena adanya indikasi syariat (qarinah syariyah), yaitu bahwa aktivitas amar maruf nahyi munkar merupakan fardhu kifayah. Sebagaimana diketahui, tidak semua orang mampu untuk melaksanakan tugas semacam ini karena tugas ini membutuhkan ilmu, pemahaman, dan hikmah yang tidak bisa diperoleh oleh semua orang. Berdasarkan hal ini kata ummah pada ayat ini bermakna jamaah dari kalangan umat Islam, bukan jamaah umat Islam. Pasalnya, perintahnya sendiri memang mengandung pengertian diseputar kewajiban untuk mengadakan jamaah dari kalangan umat Islam. Memang benar, dalam al-Qur’an ada kata ummah yang mengandung pengertian jamaah dari kalangan manusia secara umum, misalnya ketika Allah SWT berfirman tentang Musa AS, sebagai berikut:

 

وَلَمَّا وَرَدَ مَاء مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ

Tatkala sampai disumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang (ummah) yang sedang meminumkan (ternaknya)(QS. Al-Qashash: 23)

 

Lebih dari itu, yang dituntut oleh ayat ini bukanlah sembarang jamaah/partai, melainkan jamaah/partai yang memiliki kriteria tertentu, yakni yang aktivitasnya adalah mengemban da’wah Islam serta menjalankan amar maruf nahyi munkar. Sifat ini juga mencakup penguasa karena fakta menunjukan bahwa penguasa adalah puncak segala kemakrupan dan kemunkaran. Alternatifnya hanya dua: 1) Penguasa mengatur urusan umat dengan Islam dan hukum-hukum syariat, atau 2) Penguasa meremehkan dan melalaikan hukum-hukum Islam sehingga ia wajib untuk dikritik. Dari sini dapat dipahami mengapa jamaah/partai yang dituntut harus bersifat politis. Alasannya karena aktivitasnya berkaitan dengan para penguasa. Yaitu mengangkat mereka sesuai dengan yang dikehendaki syariat –jika memang meraka belum ada– atau mengkritik mereka jika mereka melakukan kelalaian, mengajak mereka ke arah kebenaran, dan membatasi mereka hanya pada upaya melaksanakan yang haq– jika mereka sudah ada tetapi kemudian melenceng dari kebenaran. Rasul SAW telah menjelaskan hubungan yang erat antara kewajiban ini dan para penguasa sekaligus urgensi pelaksanaannya dalam beberapa hadits. Diantaranya :

 

Demi Dzat yang diriku ada ditangan-Nya, hendaklah kalian melakukan amar maruf nahyi munkar atau Allah SWT akan mengirimkan kepada kalian siksaan dari sisi-Nya, kemudian kalian berdo’a tetapi tidak dikabulkan(HR. Ahmad dan Turmudzi)

Rasul SAW juga bersabda:

 

Jihad yang paling utama adalah ucapan yang benar yang ditujukan kepada penguasa yang dzalim(HR. Ibnu Majah dan Nasa’i)

Berdasarkan paparan di atas, jelaslah bahwa aktivitas jamaah da’wah, selain menda’wahkan Islam, sesungguhnya juga melakukan amar maruf nahyi munkar; diantaranya adalah mengkritik penguasa atau mengangkat mereka sesuai dengan yang diinginkan oleh syariat. Semua ini merupakan aktivitas politik karena berkaitan dengan penguasa. Oleh sebab itu, ayat ini mewajibkan adanya satu atau beberapa jamaah/partai politik yang memiliki azas Islam dan bergerak secara politis. Karena keberadaan sejumlah hukum agama bergantung pada adanya Khalifah (penguasa), maka eksistensi Khilafah adalah wajib  menurut syariat, sehingga aktivitas untuk mewujudkannya-pun wajib menurut syariat. Konsekuensi logisnya, keberadaan jamaah/partai yang berusaha untuk mendirikannya juga hukumnya wajib. Semua ini termasuk ke dalam ketetapan kaidah umum:

 

“Suatu kewajiban yang tidak bisa dilaksanakan karena sesuatu maka keberadaan sesuatu itu hukumnya wajib”

Dalam konteks ketika adanya Khilafah Islam, jamaah yang didirikan dalam rangka merealisasikan pengertian ayat tersebut serta berusaha untuk melakukan kritik terhadap penguasa haruslah menjalankan aktivitas dan memiliki tsaqofah jamaah yang berkaitan langsung dengan realitas di mana jamaah itu berada, yakni melakukan pengawasan terhadap berbagai aktivitas/kebijakan penguasa; melakukan kritik terhadap penguasa jika mereka melakukan kelalaian; mengajak penguasa untuk melaksanakan yang haq dan membatasi aktivitasnya hanya dalam kebenaran; menciptakan kesadaran di tengah-tengah umat; serta berusaha bersama-sama penguasa untuk meyebarkan da’wah Islam ke luar negeri. Sebaliknya, dalam konteks ketika tidak ada Khilafah Islam, jamaah yang melaksanakan perintah ayat ini wajib mengadopsi setiap perkara yang berkaitan dengan aktivitasnya ini; menetapkan tujuan yang sesuai dengan syari’at; serta menentukan metode yang ingin ditempuh berikut berbagai pemikiran yang dibutuhkannya untuk menegakkan perkara ini.

Dengan demikian, yang wajib direalisasikan adalah adanya jamaah yang bersifat politis, apakah Khilafah Islamiyah telah ada atau belum. Sementara itu, penetapan tujuan, aktivitas, dan materi tsaqofah jamaah adalah bergantung pada realitas yang ada. Realitas yang ada sekarang ini adalah kita hidup dalam kondisi tidak ada Khilafah atau berada dalam Darul Kufur, sehingga menjadi suatu kewajiban bagi kita untuk mengubahnya menjadi Darul Islam dengan mengangkat seorang khalifah.

 

Ciri-ciri Kelompok Da’wah Islam

 

Berikut ciri-ciri suatu kelompok da’wah yang shahih:

 

  1. Kelompok itu harus tegak di atas Aqidah Islam baik secara imani maupun i’tiqodi. Ini adalah syarat mutlak dan pertama yang harus dipenuhi bagi sebuah kelompok da’wah yang hendak mengamalkan surat Ali Imran:104. Ini merupakan syarat mutlak bagi pembentukan sebuah kelompok da’wah yang menamakan diri dan meng-azam-kan untuk tegaknya Islam. Dengan landasan Aqidah Islam maka sebuah kelompok da’wah Islam harus mendasarkan seluruh pemikiran, aktifitas, dan tujuannya hanya atas dasar Aqidah Islam. Landasan Aqidah Islam tidak cukup hanya diimani saja, namun lebih dari itu bahwa Aqidah Islam menuntut seorang muslim untuk mengikrarkan dan melaksanankan seluruh perintah Allah SWT tanpa kecuali.
  2. Kelompok itu harus menggunakan uslub (cara) Al-Quran dalam menolak atau membantah pemikiran kufur yang digunakan dalam interaksi masyarakat dan menjelaskan kerusakannya atau dengan kalimat-kalimat yang dapat dipertanggungjawabkan kata demi kata. Pertanggungjawaban sebuah kelompok da’wah kepada Allah SWT adalah dibuktikan melalui amalan yang dijalankan dengan menyesuaikan pada perintah dan larangan Allah SWT. Salah satu bentuk pertanggungjawabannya adalah dengan melaksanakan bantahan terhadap segala pemikiran kufur dan penentangan pada segala bentuk interaksi yang ada pada masyarakat dengan menggunakan uslub Al Qur’an. Untuk itulah, sebuah kelompok da’wah harus senantiasa melihat dan mengawasi setiap bentuk pemikiran yang berkembang di masyarakat untuk segera dibantah dan diluruskan hanya dengan sudut pandang Islam. Upaya melakukan pembantahan pemikiran ini harus dilakukan secara cermat dan teliti sesuai dengan nash-nash syara’ agar tidak menjerumuskan umat kepada pemahaman yang salah.
  3. Kelompok itu harus membatasi tujuannya dan hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan tujuan tersebut melalui bentuk-bentuk yang rinci sehingga arah tujuannya menjadi jelas dengan bentuk yang dapat menangkal masuknya tujuan-tujuan lain yang dapat merealisasikan tujuannya sendiri. Hal ini penting untuk dilakukan guna menjaga kelangsungan dan kelanggengan sebuah kelompok da’wah itu sendiri. Bagi sebuah kelompok da’wah yang tidak membatasi tujuan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan tujuannya, maka hal yang terjadi justru memudahkan bagi masuknya tujuan-tujuan lain yang hanya bersifat cabang dan sementara. Dengan berkutatnya sebuah kelompok da’wah pada permasalahan cabang akan semakin menjauhkan umat dari tujuan utamanya. Inilah satu diantara faktor-faktor yang menyebabkan umat Islam sampai saat ini melalui kelompok da’wahnya belum juga berhasil mewujudkan kehidupan Islam kembali.
  4. Apabila kelompok da’wah itu berdiri untuk membangun umat dan mendirikan Daulah Islam (Khilafah Islam) dengan tujuan menyempurnakan kehidupan Islam, maka tidak boleh tidak, kelompok tersebut harus berdiri di atas azas Islam. Faktor-faktor yang digunakan untuk membangun umat dan dasar yang digunakan untuk mendirikan Daulah Islamiyyah, atau dengan kata lain kelompok tersebut harus membatasi aktivitasnya dengan batasan pemikiran dan perasaan Islam yang digunakan sebagai azas berdirinya negara.

 

Dari uraian mengenai ciri-ciri kelompok da’wah seperti yang disebutkan di atas, maka akan mudah bagi siapa saja diantara kaum muslimin yang bermaksud membangun rumah sekecil apapun, maka ia harus menentukan kerangka bangunan yang diinginkan. Selanjutnya ia juga harus memperhitungkan apa-apa yang diperlukan untuk membangun rumah tersebut, setelah itu ia menyiapkan perlengkapan seperti pasir, bahan dasar, saluran air, dan listrik. Ia juga harus memperhatikan aktivitas lain yang sesuai kesepakatan dengan pemborong sampai pada pengenalan tetangga dan bagaimana agar dapat bekerja sama dengan mereka. Inilah hal-hal yang dibutuhkan dalam membangun sebuah rumah, apalagi bagi kaum muslimin yang akan mendirikan sebuah rumah besar yaitu Daulah Islam; sebuah Daulah yang akan mengemban sebaik-baik risalah yang akan menjadikan umat yang adil dan pilihan (ummatan wasathon) sesuai yang dibenarkan Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya:

 

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُواْ شُهَدَاء عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”(QS. Al-Baqarah: 143)

Aktivitas Kelompok Da’wah Islam

 

Dengan merujuk kepada metoda da’wah Rasul SAW, setidaknya ada empat aktifitas pokok yang harus dilakukan oleh suatu Jama’ah da’wah Islam, yaitu :

 

  1. Melakukan pembinaan dan pengkaderan secara intensif  dan sungguh-sungguh.
  2. Melakukan pembinaan dan pengkaderan secara jamaah langsung terjun ke masyarakat.
  3. Mengadopsi kemaslahatan-kemaslahatan yang ada di tengah-tengah umat.
  4. Mengungkap dan membongkar makar-makar jahat yang dibuat oleh musuh-musuh Islam.

 

Dengan demikian tatkala ada suatu jamaah dakwah menerjunkan dirinya ke tengah-tengah masyarakat, dimana masyarakat tersebut teracuni pemikirannya oleh pemikiran sesat Barat dan penjajah kafir, maka setidaknya ada dua khiththoh ‘amal (kerangka kerja) yang harus jelas dalam bentuk yang mendalam dan dapat diindera, yakni : pertama, shira’ul fikr (pertarungan pemikiran), dan kedua: kifah siyasiy (perjuangan politik).

Shira’ul fikr yang dilakukan oleh suatu jama’ah dakwah, tetap harus diteruskan dan ditingkatkan dengan catatan semua itu tidak boleh menyimpang dari hukum syara yang diadopsi oleh jama’ah dakwah tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah setiap pengemban dakwah harus bisa menggambarkan realitas pemikiran Islam yang jernih kepada masyarakat  pada waktu melakukan diskusi atau penjelasan dalam bentuk yang bisa diindera dan mencolok. Ini dilakukan dengan cara mengambil contoh-contoh sejarah dan kasus, termasuk pemikiran mendasar yang dianggap sebagai penghambat dan sengaja diletakkan oleh orang kafir untuk menghadang masuknya Islam kedalam masyarakat.

Kifah siyasiy yang harus dilakukan oleh suatu jama’ah dakwah secara riil adalah dengan melakukan :

  1. Serangan terhadap seluruh bentuk interaksi yang berlangsung antara penguasa dengan umat yang berkaitan dengan kemaslahatan masyarakat harus dimulai secepatnya.
  2. Menyerang seluruh bentuk interaksi, sama artinya dengan menyerang seluruh bentuk kemaslahatan. Semata-mata hanya menyerang kemaslahatan-kemaslahatan tersebut. Jadi, masalahnya terbatas pada serangan terhadap kemaslahatan dan menggoyangnya dengan goncangan yang dahsyat. Kemaslahatan ini ada dua macam: pertama, kemaslahatan yang berkaitan dengan manfaat kekinian.; kedua, kemaslahatan yang berkaitan dengan politik kekinian . Adapun kemaslahatan yang berkaitan dengan manfaat jangka panjang, maka secara mutlak hal itu tidak dapat dilakukan dengan menggunakan aktifitas kifah siyasiy, melainkan dengan shiro’ul fikri, seperti dengan tatsqif murokazah (pembinaan intensif) atau tatsqif jama’iyah (pembinaan umum). Kifah siyasiy hanya digunakan untuk menyerang kamaslahatan kekinian saja, baik yang berkaitan dengan manfaat kekinian maupun politik kekinian.

 

Serangan terhadap kemaslahatan yang berkaitan dengan manfaat kekinian dilakukan dengan jalan mengadopsi kemaslahatan umat yang ada, baik sebagian yaitu yang berhubungan dengan lapisan masyarakat tertentu, seperti pedagang atau negeri tertentu; maupun secara keseluruhan yaitu yang berhubungan dengan seluruh lapisan masyarakat, wilayah tertentu atau seluruh tempat dakwah. Aktifitas jama’ah atau partai dalam perkara ini, adakalanya dengan menjelaskan realitas tertentu dan menciptakan ketidak sukaan –masyarakat– terhadap penguasa, tanpa menyebutkan hukum syara dalam masalah tersebut. Misalnya saja dengan menjelaskan kezaliman  yang dialami oleh rakyat ketika harus mengeluarkan banyak uang  (pajak) untuk membiayai proyek yang tidak produktif dan tidak mewujudkan kemaslahatan hakiki. Atau dengan menjelaskan kerusakan –birokrasi– atas penyelesaian suatu perkara yang terjadi dimasyarakat disertai  dengan penjelasan hukum Allah terhadap perkara tersebut. Misalnya, seperti penempatan pos polisi ditengah-tengah masyarakat, yang dilakukan oleh Negara untuk mengambil denda  terhadap mereka yang melakukan penyimpangan di pasar, atau untuk menghentikan pengemudi sampai dibawa ke pengadialan .

Adapun serangan terhadap kemaslahatan yang berbentuk politik kekinian dengan menyerang cara penyusunan kabinet secara mekanisme manajemen  untuk mengendalikan pemerintahan dalam suatu Negara, juga kelalaian dan kedunguan demokrasi, yang menjadikan mereka sebagai sarana politik. Disamping itu pula dilakukan dengan membongkar campur tangan kedutaan-kedutaan besar asing dalam urusan pemerintahan, serta cengkraman pemimpin-pemimpin suku atau para konglomerat terhadap kelompok yang berkuasa, dan sebagainya. Adakalanya ini terjadi secara terpisah pada saat reshuffle kabinet, atau pada saat dilemparkannya mosi tidak percaya oleh parlemen. Kadang juga terjadi bersamaan dengan munculnya momentum kemaslahatan kekinian .

Inilah aktifitas yang harus dilakukan oleh jama’ah/partai untuk terjun ketengah-tengah masyarakat, melaksanakan dengan penuh kesadaran dan kecermatan, sehingga jama’ah/partai tersebut bisa membuka pintu masyarakat atau dibukakan.

Tujuan Jama’ah Da’wah Islam

 

Tujuan dari suatu kelompok da’wah terangkum dalam tiga hal pokok, yaitu:

  1. Da’wah untuk melanjutkan kehidupan Islam
  2. Da’wah dalam rangka mengemban da’wah Islam
  3. Da’wah untuk menjaga pemikiran dan perasaan masyarakat

 

1. Melanjutkan Kehidupan Islam

Tujuan melanjutkan kehidupan Islam berarti bahwa sebelumnya –beberapa waktu yang lalu– pernah ada dan berdiri sebuah bentuk kehidupan Islam yang sempurna. Hanya saja saat ini sedang mengalami kesalahan orientasi dari umat Islam yang seharusnya menjalankan Islam tetapi pada faktanya yang dijalankan bukan nilai-nilai Islam yang agung. Oleh karena itu mulai detik ini kaum muslimin tinggal melanjutkan kehidupan Islam yang pernah ada semenjak Rasul SAW mewujudkannya dalam bentuk Daulah Islamiyah sampai 13 abad kemudian yakni sampai luluhlantaknya Khilafah ‘Utsmaniyah. Usaha mewujudkan kehidupan Islam tidak akan dicapai jika tidak dimulai dengan pembentukan kelompok da’wah terlebih dahulu.

 

2. Mengemban Da’wah Islam Sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin.

Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin mengindikasikan bahwa Islam tidak hanya untuk umat Islam saja akan tetapi untuk semua manusia tanpa memandang agama, suku bangsa, bahasa, dan faktor-faktor lainnya yang kerap dijadikan sebagai faktor pemicu perbedaan. Mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin secara praktis hanya akan terbentuk pada saat Daulah Islam sudah tegak. Sebuah kelompok da’wah harus mengarahkan seluruh aktivitasnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melakukan aktivitas yang sekecil apapun apabila melenceng dari tujuannya justru akan semakin menjauhkan dari tujuan yang hendak dicapai. Maka gerakan da’wah adalah penyebaran fikrah Islam dan Aqidah Islam, undang-undang Islam, sekaligus sistem Islam tanpa terikat oleh tempat dan waktu, serta tidak terbatas oleh batas-batas geografis.

 

3. Menjaga Pemikiran dan Perasaan yang ada di Masyarakat

Kelompok da’wah Islam yang shahih harus senantiasa menjaga pemikiran dan perasaan yang ada di masyarakat dengan cara senantiasa mengawasi dan meluruskan pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Islam. Dengan cara ini maka keadaan pemikiran dan perasaan masyarakat akan senantiasa pada koridor Islam dan ummat sendiri akan semakin mengarahkan pemikirannya hanya kepada Islam untuk selanjutnya bersama-sama merealisasikan dan melanjutkan kehidupan Islam untuk yang terakhir kalinya. Upaya penjagaan terhadap pemikiran masyarakat ini penting bahkan sangat penting karena masyarakat adalah merupakan basis perjuangan dan sekaligus merupakan medan jihad. Untuk itu diperlukan kontak atau interksi terus-menerus tak kenal putus asa antara kelompok da’wah dengan masyarakat. Akan tetapi hubungan tadi adalah hubungan yang spesifik, yaitu hubungan mempengaruhi bukan terpengaruh.

 

Demikianlah sekilas tujuan dari sebuah kelompok da’wah yang harus ada pada tubuh kaum muslimin. Bermula dari penegasan surat Ali Imran ayat 104 kaum muslimin tidak boleh gegabah dalam pembentukan sebuah partai mengingat partai dalam Islam tugasnya sangat berat dan mulia yaitu guna menegakkan kembali sistem Islam untuk yang kedua kalinya berperan di pentas dunia. Sebuah partai Islam yang bertujuan pula untuk mendobrak segala macam pemikiran bathil yang mencengkeram alam pikiran manusia, serta membongkar segala macam bentuk interaksi antarmanusia yang rusak, dan menghilangkan penserikatan terhadap Allah SWT dengan sesuatu yang lainnya.

Keberhasilan da’wah Rasulullah SAW merupakan sebuah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri. Beliau memulai semuanya itu dari sebuah kelompok da’wah kecil yang beliau bentuk berdasarkan perintah Allah SWT. Beliau berhasil membangkitkan kaumnya dari kebodohan menjadi ketundukan-iman, dari keadaan hina menjadi sebuah kejayaan. Selama tiga belas tahun Rasulullah SAW bekerja keras menyampaikan da’wah Islam di Makkah guna mengubah seluruh pandangan hidup masyarakat, sebagai titik tolak dan persiapan berdirinya sebuah masyarakat baru dengan segala bentuk tata nilainya yang didasarkan pada Kitabullah dan sunah Rasul.

Lengkaplah keberhasilan Rasulullah SAW dengan terbentuknya masyarakat Islam yang berkualitas prima, tidak tertandingi oleh sistem manapun, baik dari segi kekuatan integralnya maupun keeratan ukhuwahnya. Setiap individu muslim terpatri menjadi satu bangunan yang saling mengokohkan, bersatu dalam sebuah sistem yang pernah tampil menjadi pusat kegiatan intelektual dan politik dalam taraf dunia selama lebih dari tiga belas abad.

Demikianlah, bahwasanya perjuangan Islam adalah jalan yang tak mungkin sanggup dilintasi oleh orang-orang yang hidupnya penuh dengan canda ria dan hawa nafsu, orang yang berdada sempit dan penakut, orang yang tidak sabar menerima ujian, orang yang selalu bekerja berdasarkan atas dasar pendapatnya sendiri tanpa ada dalil. Oleh karena itu, jalan yang memiliki karakteristik seperti itu, tidak ada yang dapat berjalan di atasnya dengan penuh keteguhan selain orang-orang yang beriman lagi ikhlas yang hatinya terpaut kepada Yang Maha Tunggal dan jiwanya bergantung kepada satu-satunya tempat bergantung, yaitu Allah SWT. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s