The Forgotten Obligation

Khilafah Islamiyah

Simpul Problema

Semua problematika umat lahir dari pencampakan hukum Allah SWT Dzat Maha Tahu diganti dengan penerapan hukum buatan manusia yang memang serba lemah. Hasilnya muncul problematika akibat akar persoalan tak diselesaikan dengan benar. Jadi, seluruh problematika tersebut hanyalah cabang dari problematika utama, yaitu mengembalikan hukum Allah SWT sebagai pemutus segala persoalan hidup umat manusia dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Itulah simpul segala problema yang melanda kaum muslimin. Sebab seluruh syariat Allah SWT merupakan obat atas berbagai penyakit yang diderita umat ini. Lantas, apa dan siapakah yang menerapkan syariat Islam tersebut ?

Khilafah : Metode Penerapan Hukum Allah

Kaum muslimin diwajibkan oleh Allah SWT untuk melaksanakan seluruh hukum Allah SWT dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. AlHasyr: 7)

Begitu juga firman Allah SWT:

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu”.

(QS. Al-Maidah: 49)

Ayat-ayat tersebut merintahkan kaum muslimin untuk menerapkan hukum-hukum Allah SWT dalam segala bidang, aqidah dan syari’ah, baik persoalan pribadi, keluarga, dan masyarakat. Demikian pula sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya semuanya diperintahkan Allah SWT untuk diatur dengan aturan Islam. Dan ini tidak mungkin terlaksana tanpa adanya kekuasaan. Padahal, kekuasaan terhadap anggota masyarakat akan ada dengan adanya negara (daulah). Jadi tuntutan itu merupakan kewajiban untuk mendirikan pemerintahan yang menerapkan hukum syari’at Islam.

Berkaitan dengan hal ini, Abdullah bin Umar meriwayatkan:

“Aku mendengar Rasulullah berkata: Barangsiapa melepaskan tangannya dari bai’ah niscaya Allah akan menemuinya di hari kiamat tanpa punya alasan dan barangsiapa mati dan tak ada bai’ah di pundaknya maka mati bagai mati jahiliyah” (HR. Muslim)

Adanya kalimat “bagai mati jahiliyah” dalam hadits tadi menunjukkan bahwa setiap muslim harus mempunyai bai’ah di pundaknya. Selain itu, dalam hadits tadi disebutkan “barangsiapa mati dan tak ada bai’ah di pundaknya” bukannya “barangsiapa mati dan tidak membai’at”. Hal ini menunjukkan bahwa yang wajib itu adalah adanya bai’at di pundak. Padahal, baiat baru ada di pundak kaum muslimin kalau terdapat khalifah/imam yang memimpin khilafah. Jadi, yang wajib itu adalah adanya khalifah/ imam melalui tegaknya khilafah. Sabda Rasulullah SAW :

“Barangsiapa membaiat seorang imam, meletakkan tangannya dan menyerahkan buah hatinya, hendaklah ia mentaatinya semaksimal mungkin. Dan jika datang orang lain hendak merampasnya maka penggallah leher orang itu” (HR. Muslim)

Banyak lagi ayat dan hadits yang berkaitan dengan hal ini.Selain Al Quran dan As Sunnah, Ijma’ Sahabat pun menunjukkan wajibnya menegakkan Khilafah.

Jelaslah, hukum Islam itu ditegakkan melalui Khilafah. Dengan perkataan lain, Khilafah merupakan solusi problematika umat yang wajib ditegakkan oleh seluruh kaum muslimin. Kenyataan sejarah selama lebih dari 1000 tahun menunjukkan bagaimana Khilafah memecahkan berbagai persoalan.

Dalil-Dalil Penegakan Khilafah

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan mengemban dakwah ke segenap penjuru dunia. Kata lain dari Khilafah adalah Imamah. Imamah dan khilafah mempunyai arti yang sama. Banyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa dua kata itu memiliki konotasi yang sama bahkan tidak ada satu nash pun, baik dalam Al-Quran maupun hadits yang menyebutkan kedua istilah itu dengan makna yang saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya. Kaum muslimin tidak harus terikat dengan salah satu dari keduanya, apakah istilah khilafah ataupun imamah, sebab yang menjadi pegangan dalam hal ini adalah makna yang ditunjukkan oleh kedua istilah itu.

Menegakkan khilafah hukumnya fardlu (wajib) bagi seluruh kaum muslimin. Sebagaimana telah dimaklumi bahwa melaksanakan suatu kewajiban yang telah dibebankan oleh Allah kepada kaum muslimin adalah suatu keharusan yang menuntut pelaksanaan tanpa tawar menawar lagi dan tidak pula ada kompromi. Demikianlah adanya dengan kewajiban menegakkan khilafah. Melalaikannya berarti merupakan salah satu perbuatan maksiat terbesar dan Allah SWT akan mengazab para pelakunya dengan siksaan yang sangat pedih.

Dalil-dalil mengenai kewajiban menegakkan khilafah bagi seluruh kaum muslimin termaktub dalam Al-Quran, Sunnah dan Ijma’ Sahabat.

Dalam Al-Quran, Allah SWT telah memerintahkan Rasulullah SAW agar menegakkan hukum di antara kaum muslimin dengan hukum yang telah diturunkanNya dan perintah itu datang dalam bentuk yang tegas (pasti). Allah SWT berfirman:

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ عَمَّا جَاءكَ مِنَ الْحَقِّ

“Maka putuskanlah perkara di antara manusia dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (QS. Al-Maidah: 48)

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللّهُ إِلَيْكَ

“(Dan) Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang telah diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah engkau terhadap fitnah mereka yang hendak memalingkan engkau dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.”

(QS. Al-Maidah: 49)

Firman Allah SWT yang ditujukan kepada RasulNya juga merupakan seruan untuk ummatnya, selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa firman itu dikhususkan untuk beliau. Sementara pada ayat ini tidak ditemukan dalil yang mengkhususkannya kepada Nabi, sehingga menjadi seruan yang juga ditujukan kepada kaum muslimin untuk mewujudkan pemerintahan. Tidak ada arti lain dalam mengangkat khalifah kecuali mewujudkan pemerintahan.

Allah SWT juga memerintahkan agar kaum muslimin mentaati Ulil Amri, yaitu penguasa. Perintah ini juga termasuk di antara yang menunjukkan kewajiban adanya penguasa atas kaum muslimin. Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya, dan ulil amri dari kamu sekalian.” (QS. An-Nisaa: 59)

Tentu saja Allah SWT tidak memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati seseorang yang tidak wujud sehingga menjadi jelas bahwa mewujudkan ulil amri adalah suatu yang wajib. Tatkala Allah SWT memberi perintah untuk mentaati ulil amri, berarti pula perintah untuk mewujudkannya. Adanya ulil amri menyebabkan terlaksananya kewajiban menegakkan hukum syara’, sedangkan mengabaikan terwujudnya ulil amri menyebabkan tersia-sianya hukum syara’. Maka mewujudkan ulil amri itu adalah wajib, karena kalau tidak diwujudkan akan menyebabkan terlanggarnya perkara yang haram, yaitu menyia-nyiakan hukum syara’.

Sedangkan dalil dari As-Sunnah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Nafi’ yang berkata: Umar radiyallahu ‘anhu telah berkata kepadaku: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang melepas tangannya dari ketaatan kepada Allah, niscaya ia akan berjumpa dengan Allah di hari kiamat tanpa memiliki hujjah. Dan siapa saja yang mati sedangkan di pundaknya tidak ada bai’at, maka matinya adalah seperti mati jahiliyyah.”

Nabi SAW mewajibkan adanya bai’at pada pundak setiap muslim dan mensifati orang yang mati dalam keadaan tidak berbai’at seperti matinya orang-orang jahiliyyah. Padahal bai’at hanya dapat diberikan kepada khalifah, bukan kepada yang lain. Rasulullah SAW telah mewajibkan atas setiap muslim agar di pundaknya selalu ada bai’at kepada seorang khalifah, namun tidak mewajibkan setiap muslim untuk melakukan prosesi bai’at kepada khalifah secara langsung. Yang wajib adalah adanya bai’at pada pundak setiap muslim, yaitu adanya seorang khalifah yang mempunyai hak bai’at dari setiap muslim. Maka keberadaan Khalifahlah yang akan memenuhi tuntutan hukum adanya bai’at di atas pundak setiap muslim. Oleh karena itu, hadits di atas adalah dalil kewajiban mengangkat seorang khalifah dan bukan merupakan dalil kewajiban berbai’at sebab dalam hadits tersebut yang dicela oleh Rasulullah SAW adalah keadaan tidak adanya bai’at pada pundak setiap muslim hingga ia mati, bukan karena tidak melaksanakan bai’at.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Al-A’raj dari Abi Hurairah dari Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya seorang Imam adalah laksana perisai, di mana orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya)”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abi Hazim yang berkata:

“Aku telah mengikuti majlis Abi Hurairah selama lima tahun, pernah aku mendengarnya menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW yang bersabda: ‘Dahulu, Bani Israil selalu dipimpin dan dipelihara urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi lain. Sesungguhnya tidak akan ada nabi sesudahku. (Tetapi) nanti akan ada banyak khalifah.’ Para sahabat bertanya: ‘Apakah yang engkau perintahkan kepada kami?’ Beliau menjawab: ‘Penuhilah bai’at yang pertama dan yang pertama itu saja. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka tentang rakyat yang dibebankan urusannya kepada mereka”

Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa saja yang membenci sesuatu dari amrinya hendaknya ia tetap bersabar sebab siapa saja yang keluar (memberontak) dari penguasa sejengkal saja kemudian mati dalam keadaan demikian, maka matinya adalah seperti mati jahiliyyah”

Hadits-hadits ini diantaranya merupakan pemberitahuan (ikhbar) dari Rasullah SAW bahwa akan ada penguasa-penguasa yang memerintah kaum muslimin, dan bahwa seorang khalifah adalah laksana perisai. Pernyataan Rasulullah SAW bahwa seorang imam itu laksana perisai menunjukkan pemberitahuan tentang adanya makna fungsional dari keberadaan seorang iman, dan ini merupakan suatu tuntutan. Setiap pemberitahuan yang berasal dari Allah SWT dan RasulNya, apabila mengandung celaan (adz-dzamm) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk meninggalkan atau merupakan larangan; dan apabila mengandung pujian (al-madhu) maka yang dimaksud adalah tuntutan untuk melakukan perbuatan. Kalau pelaksanaan perbuatan yang dituntut itu menyebabkan tegaknya hukum syara’ atau jika ditinggalkan mengakibatkan terbengkalainya hukum syara’, maka tuntutan untuk melaksanakan perbuatan itu berarti bersifat tegas. Dalam hadits-hadits ini juga disebutkan bahwa yang memimpin dan mengatur kaum muslimin adalah para khalifah. Ini menunjukkan adanya tuntutan untuk mendirikan khilafah. Salah satu hadits tersebut ada yang menjelaskan keharaman kaum muslimin keluar (memberontak) dari penguasa. Semua ini menegaskan bahwa perbuatan mendirikan pemerintahan bagi kaum muslimin adalah wajib.

Selain itu, Rasulullah SAW juga memerintahkan kaum muslimin untuk mentaati para khalifah dan memerangi orang -orang yang merebut kekuasaan mereka. Perintah Rasul ini berarti perintah untuk mengangkat seorang khalifah dan memelihara kekhalifahannya dengan cara memerangi orang-orang yang merebutnya. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Siapa saja yang telah membai’at seorang Imam lalu ia memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaknya ia mentaatinya jika ia mampu. Apabila ada orang lain hendak merebutnya, maka pengallah leher orang itu”

Maka perintah mentaati Imam berarti pula perintah mewujudkan sistem khalifahnya, sedangkan perintah memerangi orang yang merebutnya merupakan isyarat (qarinah) yang menegaskan secara pasti akan keharusan melestarikan adanya Imam yang tunggal.

Adapun dalil Ijma’ As-Shahabat menunjukkan bahwa para shahabat ridawanullahi ‘alaihim telah bersepakat mengenai keharusan mengangkat seorang pengganti Rasulullah SAW setelah beliau wafat. Mereka juga bersepakat mengangkat seorang khalifah sepeninggal Abu Bakar, ‘Umar bin Khattab, dan ‘Uthman bin ‘Affan.

Ijma’ Shahabat yang menekankan pentingnya pengangkatan seorang khalifah, nampak jelas dalam kejadian bahwa mereka menundakan kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah SAW dan mendahulukan pengangkatan seorang khalifah pengganti beliau. Padahal menguburkan mayat secepatnya adalah suatu keharusan dan diharamkan atas orang-orang yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah melakukan kesibukan lain sebelum jenazah dikebumikan. Namun, sebagian dari para shahabat yang wajib menyiapkan pemakaman jenazah Rasulullah SAW ternyata justru mendahulukan upaya-upaya untuk mengangkat khalifah. Sedangkan sebagian shahabat yang lain tidak ikut sibuk mengangkat khalifah, ternyata ikut pula menunda kewajiban menguburkan jenazah Nabi SAW sampai dua malam, padahal mereka mampu mengingkari hal ini dan mengebumikan jenazah Nabi secepatnya. Fakta ini menunjukkan adanya kesepakatan mereka untuk segera melaksanakan kewajiban mengangkat khalifah daripada menguburkan jenazah. Hal itu tak akan terjadi kecuali jika status hukum mengangkat seorang khalifah lebih wajib daripada menguburkan jenazah.

Demikian pula bahwa seluruh shahabat selama hidup mereka telah bersepakat mengenai kewajiban mengangkat khalifah. Walaupun sering muncul perbedaan pendapat mengenai siapa yang tepat untuk dipilih dan diangkat menjadi khalifah, namun mereka tidak pernah berselisih pendapat sedikit pun mengenai wajibnya mengangkat seorang khalifah, baik ketika wafatnya Rasulullah SAW maupun ketika pergantian setiap khalifah yang empat. Oleh karena itu ijma’ shahabat merupakan dalil yang tegas dan kuat mengenai kewajiban mengangkat khalifah.

Kewajiban tersebut tidak mungkin bisa dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengan adanya seorang penguasa. Sedangkan kaidah syara’ menyatakan:

“Apabila suatu kewajiban tidak akan terlaksana kecuali dengan suatu perbuatan,

maka perbuatan itu hukumnya adalah wajib”.

Ditinjau dari kaidah ini mengangkat seorang khalifah hukumnya wajib pula.

Dalil-dalil ini kesemuanya menegaskan wajibnya mewujudkan pemerintahan dan kekuasaan bagi kaum muslimin dan juga menegaskan wajibnya mengangkat seorang khalifah untuk memegang tampuk pemerintahan dan kekuasaan. Kewajiban mengangkat khalifah tersebut adalah demi melaksanakan hukum-hukum syara’, bukan sekedar mewujudkan pemerintahan dan kekuasaan. Perhatikanlah sabda Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui jalan ‘Auf bin Malik:

“Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian ialah mereka yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian”. Ditanyakan pada Rasulullah: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka itu?’ Beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam) di tengah-tengah kamu sekalian”.

Hadits ini menegaskan akan adanya imam-imam yang baik dan imam-imam yang jahat, selain menegaskan keharaman memerangi mereka dengan senjata selama mereka masih menegakkan agama karena ‘menegakkan shalat’ merupakan kinayah (kiasan) untuk mendirikan agama dan sistem pemerintahan. Dengan demikian jelaslah bahwa kewajiban kaum muslimin untuk mengangkat seorang khalifah demi menegakkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah merupakan suatu perkara yang tidak ada lagi syubhat (kesamaran) pada dalil-dalilnya. Disamping itu hal tersebut termasuk sesuatu yang diharuskan oleh suatu kewajiban yang difardlukan Allah SWT atas kaum muslimin, yakni terlaksananya hukum Islam dan terpeliharanya kesatuan kaum muslimin.

Hanya saja kewajiban ini termasuk fardu kifayah. Artinya, apabila sebagian kaum muslimin telah melaksanakannya sehingga kewajiban tadi terpenuhi, maka gugurlah tuntutan pelaksanaan kewajiban itu bagi yang lain. Namun bila sebagian dari mereka belum mampu melaksanakan kewajiban itu, walaupun mereka telah melaksanakan upaya-upaya yang bertujuan mengangkat seorang khalifah, maka status kewajiban tersebut adalah tetap dan tidak gugur atas kaum muslimin, selama mereka belum mempunyai khalifah.

Berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang khalifah bagi kaum muslimin adalah suatu perbuatan maksiat yang paling besar karena hal itu berarti berdiam diri terhadap salah satu kewajiban yang amat penting dalam Islam, bahkan eksistensi Islam dalam kancah kehidupan bertumpu padanya. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin akan berdosa besar apabila berdiam diri terhadap kewajiban mengangkat seorang khalifah. Kalau ternyata seluruh kaum muslimin bersepakat untuk tidak mengangkat seorang khalifah, maka dosa itu akan ditanggung oleh setiap muslim di seluruh penjuru bumi. Namun apabila sebagian kaum muslimin melakukan kewajiban itu sedangkan sebagian yang lain tidak melaksanakannya, maka dosa itu akan gugur bagi mereka yang telah berusaha mengangkat khalifah sekalipun kewajiban itu tetap dibebankan atas mereka sampai berhasil diangkatnya seorang khalifah, sebab menyibukkan diri untuk melaksanakan suatu kewajiban akan menggugurkan dosa atas ketidakmampuannya melaksanakan kewajiban tersebut dan atau penundaannya dari waktu yang telah ditetapkan. Hal ini karena dia telah terlibat melaksanakan fardlu dan juga karena adanya suatu kondisi yang memaksanya sehingga gagal melaksanakan fardlu itu dengan sempurna.

Sedangkan mereka yang memang tidak terlibat dalam aktivitas menegakkan khilafah, akan tetap menanggung dosa sejak tiga hari setelah tidak adanya khilafah. Dosa itu akan terus dipikulnya hingga hari pengangkatan khalifah yang baru sebab Allah SWT telah mewajibkan kepada mereka suatu kewajiban tetapi mereka tidak mengerjakannya, bahkan tidak terlibat dalam upaya-upaya yang menyebabkan terlaksananya kewajiban tersebut. Oleh karena itu, mereka layak menanggung dosa, layak menerima siksa Allah SWT dan kehinaan baik di dunia maupun di akhirat. Kelayakan mereka menanggung dosa tersebut adalah suatu hal yang jelas dan pasti sebagaimana halnya seorang muslim yang layak menerima siksa karena meninggalkan suatu kewajiban yang telah diwajibkan Allah SWT. Apalagi kewajiban tersebut merupakan tumpuan pelaksanaan kewajiban-kewajiban lain, tumpuan penerapan syari’at Islam secara menyeluruh bahkan menjadi tumpuan eksistensi tegaknya Islam sehingga panji Allah SWT dapat berkibar di negeri-negeri Islam dan di seluruh penjuru dunia.

Adapun hadits-hadits yang menyebut ‘uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat, dan bahwa seorang muslim cukup membatasi diri hanya berpegang teguh pada perkara-perkara agama yang khusus mengenai diri sendiri; tidak dapat dijadikan dalil bolehnya berdiam diri dari kewajiban mengangkat seorang khalifah dan tidak pula menggugurkan dosanya.

Bagi orang yang meneliti hadits-hadits tersebut dengan seksama akan mengerti bahwa sebenarnya hadits-hadits itu berkaitan erat dengan persoalan berpegang teguh pada agama, bukan berkaitan dengan rukhsah (keringanan) bolehnya berdiam diri dari kewajiban mengangkat khalifah bagi kaum muslimin. Sebagai contoh Imam Bukhari meriwayatkan dari Bisr bin Ubaidillah al-Hadrami bahwa dia mendengar Abu Idris Al-Khaulani mendengar Hudzaifah bin Yaman berkata:

“Dahulu, biasanya orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya,”Wahai Rasulullah, kami dahulu berada di zaman jahiliyah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau menjawab,”Ya”. Aku bertanya,”Apakah setelah keburukan itu nanti ada kebaikan?” Beliau menjawab,”Ya, tetapi di dalamnya ada asap”. Aku bertanya,”Apakah asap itu?”. Beliau menjawab,”Suatu kaum yang memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka ingkarilah.” Aku bertanya,” Apakah setelah kebaikan tersebut nanti ada keburukan?” Beliau menjawab,” Ya, yaitu munculnya da’i-da’i (pendakwah-pendakwah) yang mengajak ke pintu (neraka) Jahannam. Siapa saja yang menyambut ajakan mereka, niscaya akan mereka lemparkan ke dalam neraka itu”. Aku bertanya,” Wahai Rasulullah, jelaskanlah ciri-ciri mereka kepada kami”. Beliau menjawab,”Mereka itu mempunyai kulit seperti kulit kita dan berbicara dengan bahasa kita”. Aku bertanya,”Apakah yang kau perintahkan kepadaku, jika hal itu menimpaku?”. Beliau bersabda,”Ikatkanlah dirimu kepada jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Aku bertanya,”Kalau tidak ada jama’ah dan tidak ada imam?” Beliau menjawab,” Tinggalkanlah semua firqah (sekte) yang ada, walau sampai engkau menggigit akar pohon hingga engkau mati dalam keadaan demikian.”

Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan seorang muslim agar menetapi jama’ah kaum muslimin dan imam mereka, serta meninggalkan da’i-da’i (pendakwah-pendakwah) yang mengajak ke pintu neraka jahannam. Kemudian seseorang bertanya apa yang harus dikerjakan dalam keadaan tidak ada jama’ah dan imam sehubungan dengan munculnya da’i-da’i yang mengajak ke pintu jahannam. Pada situasi dan kondisi demikian Rasulullah SAW memerintahkan orang itu agar menjauhi semua firqah (sekte) yang ada dan bukan menjauhi kaum muslimin serta tidak pula memerintahkan berdiam diri dari kewajiban mengangkat seorang imam (khalifah). Perintah beliau tegas:

“jauhilah semua firqah (sekte) yang ada” dan beliau sangat menekankan perintah ini, sampai-sampai beliau menegaskan walaupun dalam rangka menjauhi firqah-firqah (sekte-sekte) tersebut, engkau terpaksa menggigit akar pohon sampai mati.

Makna hadits ini adalah pegang teguhlah agamamu dan jauhilah da’i-da’i (mereka yang menyampaikan seruan) yang menyesatkan dan mengajak ke pintu (neraka) jahannam. hadits ini tidak mengandung sedikitpun alasan untuk meninggalkan kewajiban mengangkat seorang khalifah dan tidak pula mengandung sedikit pun rukhsah (keringanan) pada pelaksanaannya. Perintah dalam hadits di atas terbatas pada perintah memegang teguh agama Islam dan menjauhi para da’i (penyeru) yang mengajak ke pintu (neraka) jahannam, sementara setiap muslim akan tetap menanggung dosa apabila tidak berupaya mengangkat khalifah. Dalam hal ini dia diperintahkan menjauhi semua firqah (sekte) yang sesat demi menyelamatkan agamanya dari para da’i (penyeru) yang menyesatkan, walaupun harus menggigit akar pohon dan bukan diperintah agar menjauhi jama’ah kaum muslimin dan berdiam diri dari kewajiban menegakkan hukum-hukum agama dan kewajiban mengangkat seorang imam bagi kaum muslimin.

Contoh yang lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abi Said Al-Khudri radiyalluhu anhu yang berkata: Rasulullah SAW bersabda:

“Hampir-hampir terjadi sebaik-baik harta seorang muslim ialah kambing yang selalu dia ikuti di puncak gunung dan tempat-tempat jatuhnya hujan, demi menjaga agamanya dari banyak fitnah.”

Hadits ini tidak berarti boleh mengasingkan diri dari jama’ah kaum muslimin dan berdiam diri dari kewajiban menegakkan hukum-hukum agama dan mengangkat khalifah bagi kaum muslimin. Seluruh kandungan hadits ini adalah penjelasan tentang sebaik-baik harta seorang muslim di masa fitnah dan sebaik-baik tindakan yang dilakukan dalam melarikan diri dari fitnah bukan sebagai anjuran menjauhi dan beruzlah (mengasingkan diri) dari kaum muslimin.

Berdasarkan semua penjelasan di atas, maka tidak ada lagi alasan bagi seorang muslim di permukaan bumi ini untuk berdiam diri dari kewajiban yang telah dibebankan Allah SWT kepada mereka untuk mendirikan Islam. Kewajiban tersebut tidak lain adalah mengangkat seorang khalifah bagi kaum muslimin tatkala di seluruh dunia tidak ada khalifah ketika tidak ada orang yang menegakkan undang-undang Allah SWT untuk memelihara segala sesuatu yang harus dijaga kehormatannya, ketika tidak ada orang yang menegakkan hukum-hukum agama dan menyatukan kaum muslimin di bawah bendera La Ilaha Illalah Muhammadur Rasulullah. Tidak ada dalam Islam sedikit pun keringanan untuk berdiam diri dari kewajiban ini hingga khilafah benar-benar berhasil ditegakkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s