The Forgotten Obligation

Kerohanian Seorang Muslim

Seorang muslim adalah orang yang telah menyerahkan seluruh jiwa raganya kepada Allah SWT, sebagaimana yang senantiasa yang ia ikrarkan pada permulaan setiap kali dia melaksanakan sholat :

 

“Aku hadapkan wajahku kehadirat Sang  Pencipta langit dan bumi sepenuh ketundukan dan kepasrahan diri, dan bukanlah aku dari golongan orang-orang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadatku, hidup dan matiku hanyalah bagi Allah Sang Penguasa semesta alam. Tiada sekutu apa pun bagi-Nya,dan demikanlah aku diperintakan sedangkan aku termasuk dari orang-orang muslim.”

 

Namun terkadang kita sebagai muslim lupa bahwa setiap hari, minimal lima kali kita mendeklarasikan penyerahan kita kepada Allah SWT sebagaimana tersebut diatas. Di dalam sholat kita menyatakan pasrah diri dan tunduk kepada Allah, namun diluar sholat tidak jarang diantara kita ada yang berani menentang perintah Allah SWT, bahkan ada yang berani menyelewengkan agama Allah Azza wa Jalla. Kenapa hal itu bisa terjadi? tidak lain adalah miskinnya keruhanian diantara kita, bahkan ada yang tidak paham apa itu keruhanian bagi seorang muslim.

Arti Ruh, Aspek Keruhanian, dan Keruhanian

 

Satu kesalahan besar yang dilakukan oleh para filosof Barat dan Yunani selama berabad-abad adalah uraian mereka bahwa manusia itu terdiri dari ruh dan jasad, dimana ruh, menurut mereka adalah bagian dari Tuhan dan manakala ruh itu dominan dalam diri seseorang, dia akan menjadi manusia yang baik, karena mendekati sifat-sifat Ketuhanan. Sebaliknya, manakala yang dominan adalah jasadnya, manusia menjadi buruk sifatnya. Tentu saja teori jasmani-ruhani itu tanpa bukti baik empirik maupun informasi dari kitab suci. Secara faktual, teori kuno itu tidak bisa dibenarkan, karena nyawa manusia itu tidak bertambah dan berkurang dengan luhur dan rendahnya sifat manusia.

Ruh dalam arti sukma atau nyawa manusia (sirrul hayah) adalah rahasia Tuhan. Manusia hanya bisa merasakan atau mengindera bekas-bekas adanya ruh itu, seperti gerakan fisik, tumbuh dan menjadi banyak. Tapi hakikat ruh penyebab itu semua tak mungkin diketahui manusia . Allah SWT berfirman:

 

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Kataklanlah : ” Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)

 

Oleh karena itu, ruh yang dimaksud manusia termasuk bangsa Barat dan Yunani yang salah alamat diatas bukanlah nyawa, atau bagian yang ada dalam diri manusia, tapi merupakan sifat dari luar yang diinginkan manusia agar bisa mempengaruhi perbuatannya. Dan ini hanya bisa terjadi manakala manusia menyetir perbuatannya dengan aturan dari Zat Yang Maha Luhur, yakni Allah SWT. Oleh karena itu, ruh atau ruh yang dimaksud adalah kesadaran hubungan manusia dengan Allah Sang Maha Pencipta. Itulah arti ruh yang sebenarnya bagi manusia, yang dapat membuatnya jadi muslim sejati.

Dengan memahami arti ruh sebagai kesadaran hubungan seorang muslim dengan Allah SWT, (idrak silah al-insanu billah) maka seorang muslim dapat memahami adanya aspek keruhanian dalam dirinya, kehidupannya, maupun alam semesta tempatnya berpijak. Dirinya, kehidupannya, maupun alam semesta memiliki hubungan dengan Allah SWT, yaitu sebagai makhluk ciptaan-Nya. Sehingga masing-masing punya aspek keruhanian. Aspek keruhanian dirinya sebagai manusia bagi seorang muslim adalah keberadaan dia sebagai manusia ciptaan Allah SWT. Al-Quran membimbingnya dalam firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 21)

 

Juga dapat dilihat pada QS. An-Nisa: 1, Ar-Ruum: 20, As-Sajdah: 7, Al-Mukmin: 67, Ar-Rahman: 14, Al-Alaq : 2.

Demikian juga kehidupannya, memiliki aspek keruhanian, yakni keberadaan hidup dan mati hakikatnya adalah ciptaan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ هَلْ مِن شُرَكَائِكُم مَّن يَفْعَلُ مِن ذَلِكُم مِّن شَيْءٍ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Allah-lah yang menciptakan kamu kemudian memberimu rezeki, kemudian mematikanm,u, kemudian menghidupkanmu  (kembali). Adakah diantara kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Ar-Ruum 40)

Juga bisa dilihat pada QS.Al-Baqarah : 28, Al-Hajj : 66, Al-Jatsiyah : 26, Al-Mulk : 2 .

Dan seluruh alam semesta ini memiliki aspek keruhanian, yakni keberadaan seluruh alam jagad raya ini sebagai ciptaan Allah SWT, sebagimana firman-Nya:

 

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam diatas Arsy. Dia menutupkan malam kepada saing yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah menciptakan dan memerintah adalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al A’raaf: 54)

 

Juga bisa kita lihat pada QS. Al-Baqarah : 29, Al-Baqarah : 164, Ali Imran :190, Al-An’aam: 101,

Al-Anam: 1, dan Yunus :3.

Keruhanian dalam diri manusia yang telah meyakini keberadaan Allah SWT sebagai sang Pencipta (Al Khalik) dan menyadari hubungannya dengan Allah SWT, yakni sebagai makhluk-Nya adalah perasaan tunduk dan tawadlu’ terhadap Sang Pencipta, kekuasaan-Nya dan Ilmu-Nya. Kalau perasaan ini bersifat kontinu, maka seorang muslim akan senantiasa hidup dalam suasana iman. Dan itu akan membantunya untuk bisa terikat dengan syariat Allah SWT dengan perasasan ridho dan hatinya tentram.

 

Hubungan Aspek Keruhanian dengan Perbuatan Manusia

Allah SWT tidak hanya menciptakan alam semesta, tapi juga mengaturnya. Ini ditegaskan dalam firman-Nya:

 

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ

“Sesungguhnya Tuhan kamu adalah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian dia bersemayam diatas Arsy untuk mengatur segala urusan.(QS.Yunus:3)

 

Allah SWT menurunkan  syariah untuk mengatur kehidupan manusia. Allah menurunkan Al-Quran untuk menjadi petunjuk, penjelas, dan garis batas, antara yang boleh dilakukan (haq), dan yang tidak boleh dilakukan manusia (batil). Allah SWT berfirman:

 

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS.Al A’raaf : 3)

م وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

(QS. Al Hasyr : 7)

Oleh karena itu, bagi orang yang memiliki ruh dalam arti kesadaran hubungannya dengan Allah, maka pada hakikatnya seluruh perbuatannya ada dalam daerah hukum Allah SWT. dan Allah SWT bakal memberikan penilaian dan balasan atas perbuatannya itu, kecil maupun besar. Ketika dia makan, dia yakin bahwa apa yang dimakan, apakah halal atau haram dzatnya, apakah halal atau haram pemilikannya, semua dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Kalau dia berpakaian apakah halal barang yang dipakainya, dan apakah telah menutup aurat seperti tuntunan syariat? Kalau dia bermuamalah, dia yakin kelak bakal ditanya apakah akad muamalahnya sesuai dengan ketentuan akad syariah islam ataukah malah justru mengikuti sistem transaksi Kapitalisme? Kalau dia berpolitik, dia yakin bakal ditanya kelak, apakah berpolitik sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Atau apakah malah mengikuti Montesque? Atau bahkan mengikuti Machiavelli ?

Dan seorang muslim yakin bahwa Allah SWT akan mengabarkan-Nya kelak di hari Akhirat seluruh perbuatan manusia. Dia berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Katakanlah : “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudia kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahi yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Dengan kesadaran aspek Keruhanian tersebut, seorang muslim akan berjalan mantap dengn sikap hidup mengemban syariah Allah SWT. Dan dengan kesadaran Keruhanian dalam dirinya, seorang muslim akan senantiasa dapat mensinergikan antara pernyataannya penyerahannya sebagai muslim di dalam sholatnya dengan perbuatannya diseluruh pentas kehidupan nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s